Screamnight

Screamnight
keinginan Alena part 1


__ADS_3

            Tugas Alena akhirnya selesai. Enam


keinginan akhirnya terkabul dan enam hantu akhirnya pergi meninggalkan


pemakaman Durawa karena keinginan yang menjebak mereka di pemakaman Durawa


akhirnya terkabul.


            “Sekarang … “ Bendara Abinawa bicara


lagi kepada Alena. “Karena kau sudah menyelesaikan tugasmu, aku akan


mengabulkan keinginanmu yang jadi alasanmu terjebak di sini, Alena. Tapi


sebelum itu … “


            Alena menunggu dengan wajah penuh


harap. Di dalam benak Alena saat ini, tergambar wajah Manda dan Gala yang


mungkin sedang menunggunya dengan khawatir dan cemas. “Tapi apa, Kek??”


            “Akan lebih baik jika kau berpamitan


dengan semua penghuni di pemakaman Durawa ini. Karena mungkin setelah kau


berhasil keluar dari pemakaman ini, kau tidak akan pernah bisa melihat mereka


lagi.”


            Mendengar ucapan dari Bendara


Abinawa, dalam sekejap Alena merasa sedih. Waktu-waktunya terjebak di pemakaman


Durawa ini tidaklah buruk. Jika Alena bisa mengatakannya, waktu-waktunya di


pemakaman Durawa ini adalah satu dari beberapa waktu dalam hidupnya yang cukup


menyenangkan. “Apa begitu aku keluar dari pemakaman ini, aku tidak akan bisa


melihat mereka lagi, Kek?”


            “Ya. Jadi akan lebih baik jika kau


berpamitan dengan mereka dan setelah kau siap, kembalilah padaku! Saat kau


datang menemuiku, aku akan membantumu keluar dari pemakaman ini dengan


mengabulkan alasan yang menjebakmu di pemakaman ini.”


            Dan setelah mendengar ucapan dari


Bendara Abinawa, Alena menghabiskan lima hari dari sepuluh harinya bersama


dengan penghuni pemakaman Durawa termasuk Sadewa-penjaga dari pemakaman Durawa.


Di hari pertama, Alena mengunjungi Kunti 3 dan Kunti 4, dan ikut untuk melihat


bagaimana Kunti 3 dan Kunti 4 menakuti manusia yang lewat di dekat pemakamana


Durawa di malam hari. Hari berikutnya, Alena mengunjungi Sundel 1 dan Sundel 2,


dan sekali lagi ikut untuk melihat bagaimana hantu sundel bolong menakut-nakuti


manusia.


            “Bagaimana jika kalian bertemu


dengan manusia yang tidak takut atau sama sekali tidak bisa melihat sosok


kalian??” Alena mengajukan pertanyaan itu disela waktunya mengikuti Sundel 1


dan Sundel 2.


            “Anggap saja, kami sedang tidak


beruntung. Pada kenyataannya lebih banyak manusia yang tidak bisa melihat sosok


kami dari pada manusia yang bisa melihat sosok kami.” Sundel 1 menjawab.


            “Kukira banyak manusia yang bisa


melihat kalian dari pada yang tidak bisa melihat.”


            “Ah, ah, ah … “ Sundel 2 mengangkat jari


telunjuknya sebagai ganti dari gelengan kepalanya. “Kamu salah, Alena. Justru


banyak manusia yang tidak bisa melihat sosok kami. Manusia yang bisa melihat


kami itu ada dua jenis, pertama adalah bakatnya dan yang kedua adalah manusia


yang memberikan celah pada kami untuk muncul di hadapannya.”


            “Celah?” Alena tidak mengerti.

__ADS_1


            “Rasa takut. Celah itulah yang kami


gunakan untuk bisa memperlihatkan sosok kami di mata manusia.”


            “Aahh.” Alena menganggukkan


kepalanya paham. “Jadi selama manusia itu tidak punya rasa takut, maka manusia


itu tidak akan bisa melihat sosok kalian. Begitu bukan?”


            “Itu benar.” Sundel 2 menjawab.


            Percakapan kecil itu kemudian


membuat Alena bertanya-tanya pada dirinya selama ini. Mungkinkah selama ini,


aku tidak pernah merasa takut hingga aku sama sekali tidak pernah melihat sosok


mereka bahkan setelah aku datang ke sarang mereka??


            Di hari berikutnya, Alena mengunjungi kelompok tuyul


dan bermain bersama mereka.  Di hari


berikutnya, Alena meminta bantuan Sadewa karena ingin menyelesaikan masalahnya


dengan tetua genderuwo. Alena meminta Sadewa untuk menemaninya bicara kepada


tetua genderuwo, tapi sayangnya permintaan itu ditolak oleh Sadewa.


            “Apa kau lupa dengan aturan yang aku


berikan, Alena??” Sadewa menaikkan nada bicaranya setelah mendengar permintaan


Alena.


            “Aku tidak lupa. Hanya saja, sebelum


aku pergi, aku ingin menyelesaikan semua hal di sini. Termasuk masalah dengan


tetua genderuwo.”


            “Jangan pernah lupa, Alena! Mereka


bukan manusia! Ucapan mereka tidak akan pernah bisa dipercaya! Bahkan jika


mereka berjanji padamu jika mereka kelak tidak akan pernah mengganggumu atau


temanmu, mereka belum tentu akan menepatinya.”


            Alena menundukkan kepalanya merasa


mereka bukan manusia. Maaf, Sadewa.”


            Rencana di hari keempat batal dan


sebagai gantinya, Alena menghabiskan dua harinya bersama dengan Sadewa di


pondok milik buyut Sadewa. Alena membaca buku yang ada di sana seolah sedang


dikejar oleh waktu. Sementara Sadewa yang merasa Alena belum bisa melupakan


niatnya, terus beeada di sisi Alena untuk berjaga.


            Dua hari kemudian.


            “Aku datang, Kakek.”


            Setelah menghabiskan lima harinya


untuk berpamitan, Alena datang menemui Bendara Abinawa dengan ditemani oleh


Sadewa.


            “Kau sudah siap, Nak?”


            Alena menganggukkan kepalanya tanpa


ragu. “Ya, Kakek.”


            “Kalau begitu … “ Bendara Abinawa


mengeluarkan satu dari dua bola yang dicuri Alena dari tetua genderuwo.


            “Bola itu untuk apa, Kek?” Alena


menatap bingung bola putih di tangan Bendara Abinawa.


            “Apa yang tersimpan di dalam bola


ini adalah alasan kau terjebak di pemakaman Durawa ini, Alena.” Bendara Abinawa


menjawab pertanyaan Alena sembari mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam bola


putih itu seperti yang pernah dilakukannya sebelum ini untuk mewujudkan permintaan

__ADS_1


dari Pocong 1.


            Wushhhh!!!


            Angin kencang berembus bersamaan


dengan sesuatu yang keluar dari bola putih itu.


            “Alena, putriku.”


            Deg. Jantung Alena berdetak kencang


mengenali suara yang memanggil namanya. Itu suara Ibu.  Alena menunggu angin kencang itu menghilang


sebelum akhirnya melihat dengan kedua matanya sendiri sosok ibu yang selama ini


selalu dicarinya.


            “Ibu!” Alena berlari mendekat ke


arah sosok ibunya dan air mata yang mulai berjatuhan. “Akhirnya aku bisa


bertemu dengan Ibu.”


            Alena memeluk sosok ibunya dengan


erat seolah saat ini, detik ini dan waktu ini adalah waktu yang paling


dinantikan oleh Alena sepanjang hidupnya.


            “Maaf, Bu! Maaf, Bu! Jika waktu itu


aku tidak menginap di rumah Manda, mungkin Ibu tidak akan pergi dengan cara


seperti itu. Maaf, Bu. Sekali lagi, Alena minta maaf, Bu.”


            “Ibu juga minta maaf, Alena.” Ibu


Alena membalas pelukan Alena sama eratnya dengan Alena. “Ibu minta maaf karena


terlalu menekanmu. Ibu minta maaf karena Ibu termakan ucapan tetangga dan


membandingkanmu dengan anak tetangga. Ibu minta maaf, Alena.”


            Alena menggelengkan kepalanya.


“Tidak, Bu! Alena yang salah! Ibu tidak salah! Apa yang Ibu lakukan adalah


untuk kebaikan Alena sendiri!!”


            “Alena tidak salah, Ibu yang salah.


Sejenak, Ibu lupa kalau anak Ibu adalah Alena dan bukan anak lain.”


            Dari kejauhan, Sadewa berdiri


bersama dengan Bendara Abinawa dan hanya bisa terharu melihat pertemuan


mengharukan antara Alena dan Ibunya.


            “Kenapa Kakek selama ini tidak


mengatakan pada Alena jika isi bola itu adalah arwah ibunya yang ditangkap oleh


genderuwo saat berusaha menyelamatkan Alena waktu itu??” Sadewa bertanya.


            “Kau juga tidak mengatakan alasan


Alena terjebak di pemakaman ini adalah karena keinginannya untuk bertemu ibunya


yang tertangkap oleh genderwo waktu itu.” Bendara Abinawa membalas.


            “Aku tidak bilang karena aku tidak


tahu jika arwah Ibu Alena berada di tangan genderuwo. Selama ini … aku berusaha


mencari arwah ibu Alena dan tidak pernah berhasil menemukannya. Siapa yang akan


sangka jika arwah itu sudah Alena dapatkan dengan tangannya sendiri.”


            “Karena itu aku tidak bilang. Dengan


begitu … pemandangan ini tidak akan terlihat mengharukan seperti ini bukan??”


            Sadewa menganggukkan kepalanya


setuju. “Kakek benar.”


            “Lalu … apa kau sudah mengatakan


jika Alena keluar dari pemakaman ini dan kembali ke tubuhnya, dia akan


kehilangan semua ingatannya di sini termasuk dirimu??”


            Sadewa tersenyum melihat pertemuan

__ADS_1


Alena dan ibunya yang begitu mengharukan. “Dia tidak perlu tahu, Kek. Waktunya


di sini hanyalah bunga tidur. Itu saja dan biarkan begitu.”


__ADS_2