
Tugas Alena akhirnya selesai. Enam
keinginan akhirnya terkabul dan enam hantu akhirnya pergi meninggalkan
pemakaman Durawa karena keinginan yang menjebak mereka di pemakaman Durawa
akhirnya terkabul.
“Sekarang … “ Bendara Abinawa bicara
lagi kepada Alena. “Karena kau sudah menyelesaikan tugasmu, aku akan
mengabulkan keinginanmu yang jadi alasanmu terjebak di sini, Alena. Tapi
sebelum itu … “
Alena menunggu dengan wajah penuh
harap. Di dalam benak Alena saat ini, tergambar wajah Manda dan Gala yang
mungkin sedang menunggunya dengan khawatir dan cemas. “Tapi apa, Kek??”
“Akan lebih baik jika kau berpamitan
dengan semua penghuni di pemakaman Durawa ini. Karena mungkin setelah kau
berhasil keluar dari pemakaman ini, kau tidak akan pernah bisa melihat mereka
lagi.”
Mendengar ucapan dari Bendara
Abinawa, dalam sekejap Alena merasa sedih. Waktu-waktunya terjebak di pemakaman
Durawa ini tidaklah buruk. Jika Alena bisa mengatakannya, waktu-waktunya di
pemakaman Durawa ini adalah satu dari beberapa waktu dalam hidupnya yang cukup
menyenangkan. “Apa begitu aku keluar dari pemakaman ini, aku tidak akan bisa
melihat mereka lagi, Kek?”
“Ya. Jadi akan lebih baik jika kau
berpamitan dengan mereka dan setelah kau siap, kembalilah padaku! Saat kau
datang menemuiku, aku akan membantumu keluar dari pemakaman ini dengan
mengabulkan alasan yang menjebakmu di pemakaman ini.”
Dan setelah mendengar ucapan dari
Bendara Abinawa, Alena menghabiskan lima hari dari sepuluh harinya bersama
dengan penghuni pemakaman Durawa termasuk Sadewa-penjaga dari pemakaman Durawa.
Di hari pertama, Alena mengunjungi Kunti 3 dan Kunti 4, dan ikut untuk melihat
bagaimana Kunti 3 dan Kunti 4 menakuti manusia yang lewat di dekat pemakamana
Durawa di malam hari. Hari berikutnya, Alena mengunjungi Sundel 1 dan Sundel 2,
dan sekali lagi ikut untuk melihat bagaimana hantu sundel bolong menakut-nakuti
manusia.
“Bagaimana jika kalian bertemu
dengan manusia yang tidak takut atau sama sekali tidak bisa melihat sosok
kalian??” Alena mengajukan pertanyaan itu disela waktunya mengikuti Sundel 1
dan Sundel 2.
“Anggap saja, kami sedang tidak
beruntung. Pada kenyataannya lebih banyak manusia yang tidak bisa melihat sosok
kami dari pada manusia yang bisa melihat sosok kami.” Sundel 1 menjawab.
“Kukira banyak manusia yang bisa
melihat kalian dari pada yang tidak bisa melihat.”
“Ah, ah, ah … “ Sundel 2 mengangkat jari
telunjuknya sebagai ganti dari gelengan kepalanya. “Kamu salah, Alena. Justru
banyak manusia yang tidak bisa melihat sosok kami. Manusia yang bisa melihat
kami itu ada dua jenis, pertama adalah bakatnya dan yang kedua adalah manusia
yang memberikan celah pada kami untuk muncul di hadapannya.”
“Celah?” Alena tidak mengerti.
__ADS_1
“Rasa takut. Celah itulah yang kami
gunakan untuk bisa memperlihatkan sosok kami di mata manusia.”
“Aahh.” Alena menganggukkan
kepalanya paham. “Jadi selama manusia itu tidak punya rasa takut, maka manusia
itu tidak akan bisa melihat sosok kalian. Begitu bukan?”
“Itu benar.” Sundel 2 menjawab.
Percakapan kecil itu kemudian
membuat Alena bertanya-tanya pada dirinya selama ini. Mungkinkah selama ini,
aku tidak pernah merasa takut hingga aku sama sekali tidak pernah melihat sosok
mereka bahkan setelah aku datang ke sarang mereka??
Di hari berikutnya, Alena mengunjungi kelompok tuyul
dan bermain bersama mereka. Di hari
berikutnya, Alena meminta bantuan Sadewa karena ingin menyelesaikan masalahnya
dengan tetua genderuwo. Alena meminta Sadewa untuk menemaninya bicara kepada
tetua genderuwo, tapi sayangnya permintaan itu ditolak oleh Sadewa.
“Apa kau lupa dengan aturan yang aku
berikan, Alena??” Sadewa menaikkan nada bicaranya setelah mendengar permintaan
Alena.
“Aku tidak lupa. Hanya saja, sebelum
aku pergi, aku ingin menyelesaikan semua hal di sini. Termasuk masalah dengan
tetua genderuwo.”
“Jangan pernah lupa, Alena! Mereka
bukan manusia! Ucapan mereka tidak akan pernah bisa dipercaya! Bahkan jika
mereka berjanji padamu jika mereka kelak tidak akan pernah mengganggumu atau
temanmu, mereka belum tentu akan menepatinya.”
Alena menundukkan kepalanya merasa
mereka bukan manusia. Maaf, Sadewa.”
Rencana di hari keempat batal dan
sebagai gantinya, Alena menghabiskan dua harinya bersama dengan Sadewa di
pondok milik buyut Sadewa. Alena membaca buku yang ada di sana seolah sedang
dikejar oleh waktu. Sementara Sadewa yang merasa Alena belum bisa melupakan
niatnya, terus beeada di sisi Alena untuk berjaga.
Dua hari kemudian.
“Aku datang, Kakek.”
Setelah menghabiskan lima harinya
untuk berpamitan, Alena datang menemui Bendara Abinawa dengan ditemani oleh
Sadewa.
“Kau sudah siap, Nak?”
Alena menganggukkan kepalanya tanpa
ragu. “Ya, Kakek.”
“Kalau begitu … “ Bendara Abinawa
mengeluarkan satu dari dua bola yang dicuri Alena dari tetua genderuwo.
“Bola itu untuk apa, Kek?” Alena
menatap bingung bola putih di tangan Bendara Abinawa.
“Apa yang tersimpan di dalam bola
ini adalah alasan kau terjebak di pemakaman Durawa ini, Alena.” Bendara Abinawa
menjawab pertanyaan Alena sembari mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam bola
putih itu seperti yang pernah dilakukannya sebelum ini untuk mewujudkan permintaan
__ADS_1
dari Pocong 1.
Wushhhh!!!
Angin kencang berembus bersamaan
dengan sesuatu yang keluar dari bola putih itu.
“Alena, putriku.”
Deg. Jantung Alena berdetak kencang
mengenali suara yang memanggil namanya. Itu suara Ibu. Alena menunggu angin kencang itu menghilang
sebelum akhirnya melihat dengan kedua matanya sendiri sosok ibu yang selama ini
selalu dicarinya.
“Ibu!” Alena berlari mendekat ke
arah sosok ibunya dan air mata yang mulai berjatuhan. “Akhirnya aku bisa
bertemu dengan Ibu.”
Alena memeluk sosok ibunya dengan
erat seolah saat ini, detik ini dan waktu ini adalah waktu yang paling
dinantikan oleh Alena sepanjang hidupnya.
“Maaf, Bu! Maaf, Bu! Jika waktu itu
aku tidak menginap di rumah Manda, mungkin Ibu tidak akan pergi dengan cara
seperti itu. Maaf, Bu. Sekali lagi, Alena minta maaf, Bu.”
“Ibu juga minta maaf, Alena.” Ibu
Alena membalas pelukan Alena sama eratnya dengan Alena. “Ibu minta maaf karena
terlalu menekanmu. Ibu minta maaf karena Ibu termakan ucapan tetangga dan
membandingkanmu dengan anak tetangga. Ibu minta maaf, Alena.”
Alena menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Bu! Alena yang salah! Ibu tidak salah! Apa yang Ibu lakukan adalah
untuk kebaikan Alena sendiri!!”
“Alena tidak salah, Ibu yang salah.
Sejenak, Ibu lupa kalau anak Ibu adalah Alena dan bukan anak lain.”
Dari kejauhan, Sadewa berdiri
bersama dengan Bendara Abinawa dan hanya bisa terharu melihat pertemuan
mengharukan antara Alena dan Ibunya.
“Kenapa Kakek selama ini tidak
mengatakan pada Alena jika isi bola itu adalah arwah ibunya yang ditangkap oleh
genderuwo saat berusaha menyelamatkan Alena waktu itu??” Sadewa bertanya.
“Kau juga tidak mengatakan alasan
Alena terjebak di pemakaman ini adalah karena keinginannya untuk bertemu ibunya
yang tertangkap oleh genderwo waktu itu.” Bendara Abinawa membalas.
“Aku tidak bilang karena aku tidak
tahu jika arwah Ibu Alena berada di tangan genderuwo. Selama ini … aku berusaha
mencari arwah ibu Alena dan tidak pernah berhasil menemukannya. Siapa yang akan
sangka jika arwah itu sudah Alena dapatkan dengan tangannya sendiri.”
“Karena itu aku tidak bilang. Dengan
begitu … pemandangan ini tidak akan terlihat mengharukan seperti ini bukan??”
Sadewa menganggukkan kepalanya
setuju. “Kakek benar.”
“Lalu … apa kau sudah mengatakan
jika Alena keluar dari pemakaman ini dan kembali ke tubuhnya, dia akan
kehilangan semua ingatannya di sini termasuk dirimu??”
Sadewa tersenyum melihat pertemuan
__ADS_1
Alena dan ibunya yang begitu mengharukan. “Dia tidak perlu tahu, Kek. Waktunya
di sini hanyalah bunga tidur. Itu saja dan biarkan begitu.”