Screamnight

Screamnight
pemilik pemakaman durawa part 2


__ADS_3

 


            “Salam, Bendara Abinawa.” Kunti 2 berjalan ke arah pria tua itu, menundukkan kepalanya di depan pria tua itu dan memberi salam.


            “Salam.” Pria tua itu membalas salam dari Kunti 2 dengan singkat setelah memerintahkan tuyul-tuyul yang bermain bersamanya untuk pergi.


            Melihat bagaimana Kunti 2 memberi salam dengan penuh hormat kepada pria tua itu, Alena yang tidak tahu bagaimana bersikap di depan pria tua itu melakukan hal yang sama dengan Kunti 2: berjalan mendekat, menundukkan kepala dan memberi salam. “Salam, Bendara Abinawa.”


            “Salam, Alena.”


            Alena tersentak mendengar namanya disebut. Alena buru-buru mengangkat kepalanya dan bertanya kepada pria tua di hadapannya karena terkejut. “Ba-bagaimana Tuan tahu namaku?”


            Pria tua yang dipanggil Bendara Abinawa itu bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Alena. Tadinya ... Alena mengira karena pria tua itu membawa tongkat maka tubuhnya akan sedikit bungkuk karena terbiasa menahan tubuhnya dengan tongkat. Tapi ketika melihatnya bangkit dari duduknya, Alena sadar bahwa perkiraannya salah besar. Pria tua itu berdiri dengan sangat tegap dengan aura berat yang seolah mampu membuat siapapun melihatnya akan menekan mereka. Alena merasakan hal itu dan ketika Alena melirik ke arah Kunti 2 di sampingnya, Kunti 2 tiba-tiba sudah dalam posisi berlutut dengan wajah yang sedikit tertekan.


            Ada apa dengan Kunti 2? Apa mungkin aura ini yang membuat Kunti 2 berlutut seperti itu? Alena bertanya di dalam benaknya sembari menatap ke arah pria tua di hadapannya yang ternyata jauh lebih tinggi dari tinggi Alena.


            “Kau boleh pergi.” Pria tua itu melihat ke arah Kunti 2 seraya bicara.


            “Baik, Bendara.” Kunti 2 menuruti ucapan pria tua itu dan berbalik sebelum akhirnya menghilang hanya dalam satu kedipan mata.


            Alena merasa sedikit takut karena saat ini dirinya berhadapan dengan sesuatu yang tidak dikenal seorang diri. Tidak ada Sadewa dan tidak ada lagi hantu-hantu yang dikenalnya. Tangan Alena bahkan sedikit gemetaran karena rasa takutnya yang bercampur dengan aura dari pria tua di hadapannya saat ini.


            “Bukankah Sadewa sudah memberimu peringatan untuk tidak percaya pada hantu-hantu di sini, Alena?”


            Tsk. Alena tersentak lagi mendengar ucapan dari pria tua di hadapannya saat ini. Bagaimana dia tahu apa yang aku pikirkan? Alena menanyakan pertanyaan itu di dalam benaknya sembari menatap ke arah pria tua di hadapannya.


            “Aku punya kemampuan untuk bisa membaca pikiran manusia dan makhluk lain, Alena. Dan sama sepertimu ... dulu aku adalah manusia. Jadi ... kau tidak perlu takut padaku.”


            Pria tua yang dipanggil dengan Bendara Abinawa itu menjawab pertanyaan di benak Alena tanpa harus Alena ucapkan dan hal itu sudah lebih dari cukup bagi Alena untuk percaya. Setelah keganjilan-keganjilan yang terjadi hampir sebulan ini, tidak butuh waktu lama bagi Alena untuk menerima keganjilan seperti ini. Bisa dikatakan bahwa Alena sudah terbiasa dengan keadaan-keadaan aneh yang terjadi di depan matanya.

__ADS_1


            “Baik, Tuan.”


            “Panggil saja aku Kakek Abinawa seperti yang Sadewa lakukan.”


            “Baik, Kakek.” Alena menganggukkan kepalanya. Alena masih merasakan sedikit tekanan dari aura pria tua yang dipanggil kakek itu, kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada pria tua itu. “Ba-bagaimana Kakek bisa tahu namaku?”


            Pria tua itu duduk kembali di kursi tuanya. Pria tua itu memberikan isyarat kepada Alena untuk duduk di sampingnya di tempat yang kosong. Alena duduk di samping pria tua itu meski masih merasakan sedikit tekanan dari aura pira tua itu dan merasa sedikit enggan.


            “Aku sudah menunggu kedatanganmu untuk waktu yang lama, Alena.”


            “Aku?” Alena menunjuk dirinya sendiri dengan wajah heran dan bingung. “Kenapa Kakek menunggu kedatanganku??”


            Pria tua menggenggam pegangan tongkatnya dengan dua tangannya, membuat tongkat itu seolah sebuah penyangga tubuhnya. “Untuk hal itu ... aku tidak bisa mengatakannya, Alena. Ada beberapa hal yang akn lebih baik jika tetap menjadi misteri dan tidak diketahui oleh banyak orang.”


            Alena merasa tidak puas dengan jawaban pria tua itu. Tapi ... Alena tidak punya pilihan lain selain menerima jawaban itu. Protes atau keluhan tidak akan mengubah pikiran pria tua di samping Alena dan Alena tahu betul akan hal itu hanya dari aura yang dirasakannya dari pria tua di sampingnya.


            “Kalau begitu ... aku tidak akan bertanya lagi.”


            “Terima kasih, Kakek.” Alena menerima pujian yang diberikan oleh pria tua dan pujian itu membuat tekanan yang tadi dirasakan oleh Alena sedikit berkurang. “Kalau begitu apakah saya bisa bertanya mengenai hal lain, Kakek?”


            “Biar aku dengar dulu pertanyaanmu itu.” Pria tua itu memberikan jawaban yang bijak untuk pertanyaan Alena.


            “Sudah sebulan aku ada di sini, Kakek. Tapi ... aku tetap tidak bisa menemukan apa yang aku cari dan alasan aku terjebak di sini-di pemakaman Durawa. Menurut Kakek, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa keluar dari sini? Apa itu bisa aku tanyakan, Kakek?”


            “Aku bisa menjawabnya, Alena. Kau ingin bertemu dengan ibumu, bukan?” Pria tua itu sekali lagi membaca pikiran Alena seperti sebelumnya.


            “Ya, Kakek. Apa aku bisa melakukannya?”  Alena bertanya dengan tatapan penuh harap.


            “Kau bisa melakukannya, Alena.”

__ADS_1


            “Bagaimana caranya, Kakek?”


            Pria tua itu mengangkat tangan kanannya, menjentikkan jarinya dan dalam sekejap, Alena bersama dengan pria tua itu berpindah tempat.


            “Huwaaahhh!!! Ini??” Alena berteriak karena terkejut  tiba-tiba dirinya berpindah tempat dalam sekejap mata. “Ba-bagaimana Kakek bisa melakukannya?”


            “Aku bisa berpindah tempat ke manapun dan itu adalah satu dari bakat yang aku miliki.” Pria tua memberikan penjelasan kecil kepada Alena yang terkejut dan tidak percaya.


            Alena ingin bertanya bagaimana pria tua itu bisa memiliki bakat seperti itu, tapi Alena mengurungkan niatnya karena merasa pertanyaan itu tidak perlu ditanyakannya. Bagi Alena, bakat berpindah tempat itu adalah sesuatu yang mustahil akan bisa dikuasainya. Alena kemudian menatap lokasi di mana dirinya berdiri saat ini. Di hadapannya ada Kunti 1, Kunti 2, Pocong 1, Pocong 2, Tuyul 1 dan Tuyul 2 yang sedang berada di lokasi yang sama dan sibuk sendiri-sendiri.


            “Kenapa Kakek membawaku kemari?” Alena bertanya.


            “Mereka berenam. Mereka berenam adalah hantu yang usianya cukup lama di pemakaman Durawa. Mereka sudah terlalu lama di sini. Jika kau ingin menemukan apa yang kau cari, bantu mereka menemukan apa yang membuat mereka terjebak di sini.” Pria tua itu memberikan jawaban untuk beberapa pertanyaan Alena sekaligus.


            Alena menatap ke arah enam hantu yang sibuk dengan kesibukannya masing-masing: Kunti 1 sedang berkaca pada cermin lama yang beberapa bagiannya telah pecah, Kunti 2 sedang sibuk menyisir rambutnya yang kusut sembari bersenandung yang terdengar menakutkan di telinga Alena, Pocong 1 sedang tertidur dalam posisi berdiri dan  Pocong 2 sibuk duduk menyendiri di atas pohon. Lalu Tuyul 1 dan Tuyul 2 sibuk berlarian ke sana kemari sedang memperebutkan sesuatu yang tidak bisa Alena lihat.


            Sepertinya ini bukan tugas yang mudah. Alena mengatakan kalimat itu di dalam benaknya sembari menelan ludahnya, glek.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2