Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: tuyul 1 dan tuyul 2 part 3


__ADS_3

            Pekerjaan konyol Alena yang lain, dimulai lagi. Setelah menjadi mak comblang untuk  hantu wanita yang ingin berkencan dengan Sadewa, menjadi juru foto bagi sekelompok hantu wanita yang ingin berfoto bersama dengan Sadewa, menjadi penata rias bagi sekelompok hantu wanita yang ingin terlihat cantik, menjadi paparazi yang mengejar-ngejar Pocong 2 hanya untuk menemukan keinginan dari Pocong 2, menjadi negotiator sekaligus pencuri untuk Pocong 1 dan bahkan event organizer untuk pesta kecil di pemakaman Durawa. Semua pekerjaan itu dilakukan Alena hanya dalam waktu dua bulan ini ketika terjebak di pemakaman Durawa.


            Dan sekarang .... pekerjaan Alena adalah melakukan survei untuk menemukan cara bagi semua hantu untuk berkumpul dan bermain bersama seperti keinginan dari Tuyul 1 dan Tuyul 2.


            “Apa yang sedang kau lakukan, Alena?” Bendara Abinawa menyapa Alena yang sedang membawa buku catatan lama milik kakek buyut Sadewa sebagai tempat untuk mencatat data yang diperolehnya dari bertanya ke sana dan ke sini kepada beberapa hantu.


            “Ini ... “ Alena mengangkat buku catatan miliknya dan menunjukkannya ke arah Bendara Abinawa. “Aku sedang melakukan survei untuk mengetahui permainan apa yang disukai dan tidak disukai oleh hantu-hantu di pemakaman ini, Kakek.”


            “Permainan?” Bendara Abinawa mengulangi kata itu sebagai tanda untuk bertanya.


            “Ya, Kakek.” Alena menganggukkan kepalanya. “Keinginan dari Tuyul 1 dan Tuyul 2 adalah bermain bersama semua hantu di pemakaman ini.”


            “Ahh begitu rupanya. Tugas berat yang lain.”


            Alena tersenyum pahit mendengar kalimat terakhir dari ucapan Bendara Abinawa. “Siapa yang memberiku tugas berat ini kalau bukan Kakek???”


            “Aku tidak memaksamu untuk melakukannya.” Bendara Abinawa membalas dengan nada santainya. “Kau bisa tidak melakukannya, Alena.”


            Sial! Alena mengumpat di dalam benaknya dan tentu saja umpatan itu terdengar oleh Bendara Abinawa yang bisa membaca pikiran orang lain.


            “Aku mendengar umpatan itu, Alena.”


            “Ehhh ... kukira Kakek tidak mendengarnya.” Alena berpura-pura lupa dengan bakat milik Bendara Abinawa.


            “Semua pilihan ada di tanganmu. Sama seperti Tuhan yang memberikan ujian padamu, kau selalu punya pilihan dalam menjalaninya baik itu dengan cara yang benar ataupun cara yang salah. Keputusan selalu ada di tanganmu, Alena. Kau bertanya padaku dan aku hanya memberi jawaban untuk pertanyaanmu itu. Sisanya ... bergantung padamu. Ketika kau memilih jalan yang benar dalam menyelesaikan ujian dari Tuhan, kau akan mendapatkan bantuan Tuhan, contohnya Sadewa yang mau membantumu meski dia yang lebih banyak mengalami hal yang berat dan sesekali dia mengeluh. Tapi bukankah dia tetap membantumu meski mengeluh ini dan itu?”

__ADS_1


            Bendara Abinawa membuka mulutnya untuk memberikan sedikit penjelasan kepada Alena, agar Alena tidak lagi mengeluh. Sementara itu, Alena menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Bendara Abinawa. Kali ini ... Alena tidak bisa membalas ucapan itu karena ucapan itu memang benar adanya.


            “ ... Jika begitu, bukankah itu sudah lebih dari cukup meski tugas-tugas itu adalah tugas yang berat? Tugas-tugas itu memang berat, tapi sebagai gantinya kau mendapatkan bantuan dari orang lain, bukankan itu sudah cukup adil?” Bendara Abinawa melanjutkan nasihatnya.


             Alena terdiam sejenak mendengar nasihat kecil dari Bendara Abinawa. Apa yang Kakek katakan memang benar. Ini adalah keinginanku, ini adalah permintaanku. Akulah yang terjebak di sini dan menyusahkan banyak orang. Kakek sudah membantuku, Sadewa juga sudah sangat-sangat membantuku, ditambah lagi Gala dan Manda yang mungkin juga membantuku di luar sana. Keinginan untuk bertemu dengan Ibuku, menyusahkan dan merepotkan banyak orang. Jadi ... bukankah di sini, akulah satu-satunya orang yang tidak boleh mengeluh?? Huft. Alena mengembuskan nafas panjang setelah mendapatkan pencerahan untuk rasa lelahnya. “Kakek benar.”


            “Baguslah kalau kau mengerti, Alena.” Bendara Abinawa tersenyum melihat Alena yang menerima nasihatnya.


            “Kakek tidak marah padaku?”


            “Marah? Marah kenapa?”  Bendara Abinawa berbalik bertanya kepada Alena.


            “Marah karena aku sempat menyalahkan Kakek.”


            “Hahahaha ... “ Bendara Abinawa tertawa kecil mendengar alasan kemarahan yang dipertanyakan oleh Alena. “Aku bukan orang yang mudah tersinggung, Alena. Aku juga bukan anak kemarin sore yang akan marah hanya karena menjadi sasaran keluhan dan kemarahan orang lain.”


            “Ya, aku sungguh tidak marah.” Bendara Abinawa menegaskan. “Ingatlah ini, Alena! Menjadi sasaran keluhan orang lain, mungkin adalah situasi yang tidak mengenakkan. Tapi ... saat situasi itu datang padamu, kau harus sadar bahwa orang yang sedang mengeluh padamu sebenarnya menaruh kepercayaan padamu. Dia tidak akan mengeluh padamu jika kau orang asing.”  


            Sekali lagi ... Alena mendapatkan satu pelajaran penting dari Bendara Abinawa. Dan kali ini perasaan kesal Alena sudah benar-benar menghilang dari dalam benaknya setelah melampiaskannya kepada Bendara Abinawa. Alena bangkit dari duduknya di sampung Bendara Abinawa dengan senyum puas di wajahnya.


            “Terima kasih untuk sarannya, Kakek.” Alena mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya kembali melanjutkan tugasnya yang sepat tertunda.


*


            Sebelumnya ... Alena tidak pernah menyadari karena hanya ada malam di pemakaman Durawa. Tapi begitu aura jahat yang menutup pembatas pemakaman Durawa menghilang dan Alena bisa melihat matahari, Alena baru sadar jika Sadewa hanya mengunjungi di malam hari-malam ketika di luar sana juga malam. Alena baru sadar jika Sadewa hanya mengunjungi makam Durawa ketika malam tiba. Jikalau Sadewa datang di siang hari, maka itu murni untuk mengantar keluarga yang kehilangan keluarganya untuk dikuburkan di pemakaman Durawa.

__ADS_1


            “Bagaimana dengan perkembangan pekerjaanmu, Alena?” Sadewa bertanya kepada Alena ketika tiba di pondok di pemakaman Durawa di mana Alena sedang duduk menatap buku catatan lama milik Kakek buyut Sadewa yang digunakannya untuk mencatat.


            “Aku sudah mengumpulkan data surveiku dan sedang membuat kesimpulan untuk membuat semua hantu bergabung.” Alena menunjukkan buku catatan lama milik Kakek buyut Sadewa ke hadapan Sadewa.


1.     Para hantu wanita: sangat benci berlari karena membuat mereka berkeringat. Keringat membuat bau tubuh  semakin tidak enak dan membuat rambut menjadi kusut.


2.     Hantu tuyul: suka dengan semua permainan. Apapun permainan itu mereka menyukainya.


3.     Hantu pocong: tidak bisa berlari karena tali pocong di tubuhnya. Mereka juga tidak bisa menggerakkan tangan mereka dengan bebas.


4.     Hantu genderuwo: menyukai permainan apapun selama ada hantu wanita di dalamnya.


5.     Hantu dari pemakaman Cina: lebih suka menjadi penonton karena tidak ingin pakaian mereka kotor. Tapi jika ada hadiah, mereka akan bersedia untuk ikut dalam permainan.


Sadewa membaca catatan yang dibuat oleh Alena dengan sesekali tersenyum. “Kau bekerja dengan cukup baik, Alena.”


“Trims.”


“Bagaimana dengan hantu kepala buntung? Apa kau lupa mencatatnya?” Sadewa bertanya karena tidak menemukan nama hantu itu di dalam catatan yang ditulis oleh Alena.


“Karena hantu kepala buntung hanya ada satu, aku berniat membuatnya menjadi wasit saja. Membuatnya ikut dalam permainan akan membuat hantu kepala buntung kesulitan. Bagaimana menurutmu?” Alena bertanya dengan penasaran penilaian Sadewa mengenai pendapat darinya.


“Apa kau sudah bertanya kepada hantu kepala buntung?”


Alena menganggukkan kepalanya. “Sudah dan hantu kepala buntung setuju akan hal itu.”

__ADS_1


“Kalau hantu kepala buntung setuju, maka aku juga setuju.” Sadewa memberikan buku catatan itu kembali pada Alena. “Jadi kesimpulannya, permainan apa yang akan dimainkan oleh semua hantu untuk mewujudkan keinginan dari Tuyul 1 dan Tuyul 2?”


Alena tersenyum dengan senyuman paling cerah di wajahnya. “Akan seru melihat mereka bermain bersama dalam lari estafet.”


__ADS_2