
“Apa ini, Sadewa?” Manda melihat ke arah Sadewa dengan tatapan bingung ketika Sadewa menyodorkan daftar panjang permintaan Alena kepada Sadewa.
“Alena yang memintanya.” Sadewa bicara dengan wajah sedikit tidak yakin.
“Alena yang memintanya??” Manda mengulangi ucapan Sadewa dengan wajah tidak percaya.
Sadewa menganggukkan kepalanya. “Ya.”
Huft. Manda menghela nafas panjang melihat daftar panjang yang ada di tangannya Manda duduk di samping tempat tidur Alena dan memandang wajah Alena yang tidur dalam keadaan koma selama sebulan ini. “Bukankah Alena ingin bertemu dengan Ibunya? Kenapa sepertinya dia merasa senang terjebak di sana ketika aku dan Gala di sini khawatir setiap harinya?? Bahkan mengadakan pesta seperti ini? Apa mungkin Alena sudah bertemu dengan ibunya hingga mengadakan pesta seperti ini?”
Sadewa menggelengkan kepalanya mendengar banyak pertanyaan keluar dari mulut Manda. Sadewa bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu karena apa yang Alena minta sekarang butuh waktu yang cukup panjang untuk memberikan penjelasan kepada Manda terutama agar Manda bisa mengerti dan memahami situasi Alena.
“Apa dengan melakukan ini, Alena bisa segera kembali?” Gala yang sejak tadi diam mendengarkan Manda dan Sadewa, ikut bertanya dan pertanyaan itu sedikit menyelamatkan Sadewa dari runtutan penjelasan panjang yang harus dijelaskannya kepada Manda.
“Ya. Aku tidak bisa memberikan penjelasan panjang karena beberapa hal yang berhubungan dengan makam Durawa adalah rahasia yang harus kami jaga. Jadi ... aku hanya bisa mengatakan bahwa apa yang Alena minta saat ini, akan membantunya untuk keluar dari sana sebelum seratus hari.”
“Aku mengerti. Biar aku yang mencari semua barang ini, Sadewa.” Gala merebut daftar panjang yang digenggam oleh Manda dan langsung bergegas keluar dari kamar Alena untuk mendapatkan semua barang yang ada dalam daftar panjang itu.
Sementara Gala pergi, Manda dan Sadewa duduk di dekat Alena yang masih terbaring koma. Manda yang tadi sedang membersihkan wajah Alena, melanjutkan pekerjaannya lagi sembari bicara pada Alena seolah Alena masih dalam keadaan baik-baik saja dan bisa menjawab pertanyaan itu.
“Apa Alena baik-baik saja di sana?” Manda tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepada Sadewa setelah beberapa kali bicara dengan Alena yang terbaring koma.
“Ya, sejauh ini Alena baik-baik saja.”
“Dia makan apa di sana? Dia tidur di mana di sana? Apa dia terlihat kurus sekarang??” Manda mengajukan banyak pertanyaan lagi kepada Sadewa dan hal ini mengingatkan Sadewa kepada Alena yang selalu banyak bertanya kepadanya.
“Aku hanya bisa mengatakan bahwa Alena baik-baik saja, Manda. Beberapa hal di sana berbeda dengan apa yang ada di sini.” Sadewa menyingkat banyak jawaban untuk pertanyaan Manda dengan cukup ringkas.
“Apa yang berbeda?”
__ADS_1
Sadewa menatap wajah Alena yang terbaring dengan tenang di atas ranjang rumah sakit. “Di sana tidak ada siang dan malam. Hanya ada malam yang gelap tanpa akhir.”
*
“Kau benar-benar!!!” Sadewa mengeluh pada Alena ketika akhirnya kembali dengan membawa tiga kardus besar ke makam Durawa. “Banyak sekali yang kau minta!!!”
“Maaf-maaf. Tapi jika ingin mewujudkan keinginan dari Kunti 1, kita harus benar-benar totalitas dalam mengerjakannya.”
Alena membantu Sadewa yang sedang memasukkan tiga dus besar permintaannya. Sadewa datang bersama dengan Gala yang berdiri tepat di depan gerbang makam Durawa. Alena mengambil satu kotak yang paling kecil yang baru saja dimasukkan oleh Sadewa. Sementara itu Kunti 2 yang ikut Alena, membantu mengambil satu kotak lain yang lebih kecil dari kotak satunya. Sebelum benar-benar masuk ke dalam gerbang Durawa, Sadewa berpamitan dengan Gala yang berdiri di depan gerbang Durawa-pembatas makam Durawa dan dunia manusia.
“Trims, Gala.”
“Apa Alena ada di sana?” Gala bertanya sebelum Sadewa masuk ke dalam gerbang Durawa.
“Ya. Tapi sayangnya ... kalian berdua tidak akan bisa melihat satu sama lain, Gala. Alena tidak bisa melihat keluar pemakaman karena saat ini dia hanyalah jiwa yang berkeliaran dan terjebak di pemakaman Durawa. Untuk bisa melihat manusia, hantu saja butuh waktu apalagi Alena yang terikat dengan dua dunia. Dan kau tidak akan bisa melihat Alena karena kau tidak masuk ke dalam pemakaman ini sebelum mendapatkan ijin dariku.” Sadewa memberikan penjelasan singkat.
“Tenang saja.” Sadewa menepuk bahu Gala. “Aku akan menjaga temanmu itu dengan baik selama di sini.”
“Terima kasih, Sadewa.”
Setelah mengucapkan perpisahan, Sadewa masuk ke dalam gerbang Durawa dan Gala berjalan pergi kembali ke pemukiman desa K.
“Siapa yang membantumu membawa tiga dus besar ini, Sadewa?” Alena yang sedang menunggu Sadewa di dekat gerbang pemakaman Durawa.
“S-surya.” Sadewa berbohong kepada Alena karena tidak ingin membuat Alena menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya. “Kenapa bertanya?”
“Kukira kau pergi dengan Gala dan Manda. Jika kau datang bersama dengan mereka, aku berharap bisa bertemu dengan mereka.” Ucapan Alena itu sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Sadewa.
“Tenang saja, Alena. Mereka berdua baik-baik saja menunggu kau kembali.”
__ADS_1
Ucapan Sadewa itu berhasil membuat Alena tenang dan kembali bersemangat. “Ya, terima kasih banyak, Sadewa. Kau benar-benar baik sekali. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu di sini.”
Alena bersama dengan Sadewa dan Kunti 2 kemudian membagi tugas masing-masing. Sadewa bersama dengan beberapa hantu lain mulai menghias lahan kecil di pemakaman Durawa dengan banyak hiasan seperti lampu-lampu berwarna kekuningan dan beberapa kembang api yang nanti akan dilepas ke langit malam yang gelap gulita. Sementara itu Kunti 2 membujuk Kunti 1 karena sebelumnya kalah bertaruh dengan Kunti 2 saat menebak kapan Sadewa akan kembali. Kunti 2 merelakan kemenangan pertamanya bertaruh dengan Kunti 1 untuk membantu Alena.
“Apa yang ingin kalian lakukan?” Kunti 1 bertanya kepada Alena dan Kunti 2 ketika mendapati dirinya dikurung di dalam pondok.
Kunti 2 dan Alena tersenyum kecil memandang ke arah Kunti 1 sebelum akhirnya membantu Kunti 1 mandi, mengganti pakaian putih yang bau, robek di sana sini dan tidak lagi berwarna putih. Kunti 2 belajar dari Alena untuk menyisir rambut yang baik dan menata rambut kusutnya dengan menggunakan catokan dari dunia manusia.
“Ini benar-benar luar biasa.” Kunti 2 terkejut melihat bagaimana Alena mengubah rambutnya yang kusut bak sapu ijuk berubah menjadi lurus dan tertata rapi.
Kunti 2 menerapkan apa yang dipelajarinya dari Alena hanya dalam waktu singkat kepada Kunti 1 dan dalam hitungan beberapa jam, Kunti 1 kini terlihat sangat jauh berbeda. Semua berkat pakaian baru, riasan dari Alena dan catokan dari Kunti 2.
“Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan?” Kunti 1 terus mengajukan pertanyaan itu kepada Kunti 2 dan Alena selama di pondok. Tapi ... pertanyaan itu kemudian berhenti diajukan ketika Kunti 1 bersama dengan Alena dan Kunti 2 keluar dari pondok.
“Selamat ulang tahun, Kunti 1.” Alena bersama dengan Sadewa dan beberapa hantu: Kunti 2, Kunti 3, Kunti 4, Pocong 1, Pocong 2, Pocong 3, Pocong 4, Tuyul 1, Tuyul 2, Tuyul 3, Tuyul 4 dan hantu kepala buntung mengucapkan kalimat itu kepada Kunti 1.
Duar ... duar ... duar ... Sadewa bersama dengan hantu pocong kemudian melepaskan kembang api ke langit malam Durawa dan membuat pesta kecil yang meriah di hadapan Kunti 1. Kunti 3 dan Kunti 4 kemudian maju dengan membawa kue tart yang dipesan oleh Alena dengan hiasan cantik di atasnya.
“Tiup lilin ini, Kunti 1.” Alena dan Kunti 2 berkata kepada Kunti 1.
“Ke-kenapa kalian melakukan hal ini untukku?” Kunti 1 menatap Alena, Sadewa dan semua hantu yang hadir dengan tatapan bingung.
“Mewujudkan keinginan kecil yang kau inginkan, Kunti 1. Merayakan ulang tahun dengan banyak temanmu dan terlahir kembali. Itu sebabnya aku memasang lilin angka satu di atas kue ini.” Alena menjawab dengan senyuman. “Apa kau tidak menyukainya? Ini adalah permintaan maafku karena telah membuatmu marah dan harus terikat rantai yang dipanggil oleh Sadewa, Kunti 1.”
Tes ... tes ... tes. Kunti 1 meneteskan air matanya mendengar ucapan Alena. “Terima kasih untuk pesta kecil ini. Ini benar-benar seperti mimpi indah yang selama ini selalu aku mimpikan. Kukira mimpi ini tidak akan pernah terwujud.”
__ADS_1