Screamnight

Screamnight
kembalinya Alena part 1


__ADS_3

“Apa perpisahan


kalian sudah selesai?”


Bendara


Abinawa bertanya kepada Alena dan Sadewa. Dan keduanya serentak memberikan


jawaban yang sama. “Sudah.”


“Kalau


begitu, kita mulai.”


Dug!


Bendara Abinawa menghentakkan ujung tongkat yang selalu dibawa dan digunakannya


dan membuat tanah pemakaman durawa berguncang. Di saat yang sama, Sadewa


bersiap-siap memanggil  rantai pengikat


jiwa sebanyak mungkin yang bisa dipanggilnya.


“A-apa


yang sedang kalian lakukan?” Alena bertanya dengan wajah bingung dan tidak


mengerti. “Kenapa cara yang kalian gunakan berbeda dengan saat aku mewujudkan


keinginan dari hantu-hantu yang terjebak di pemakaman ini?”


Sadewa


yang sedang mengerahkan seluruh tenanganya memanggil sebanyak mungkin rantai


pengikat jiwa, kini sibuk merantai hantu-hantu yang terjebak di pemakaman


durawa. Dan sebagai gantinya Bendara Abinawa yang menjawab pertanyaan dari


Alena.


            “Hantu-hantu itu adalah arwah


gentayangan dari orang mati. Jadi alasan yang mengikat mereka di tanah ini


adalah keinginan mereka yang belum terkabul. Tapi kamu, kasusmu berbeda, Alena.


Kamu masih hidup dan alasan terikat di tanah ini bukan hanya karena keinginanmu


saja.”


            Alena terkejut mendengar penjelasan


dari Bendara Abinawa. “Jadi selama ini, Kakek bohong padaku??”


            “Aku tidak berbohong. Hanya tidak


mengatakan segalanya sebelum waktu yang tepat saja. Beberapa hal terkadang akan


lebih baik menjadi rahasia dari pada diketahui.” Bendara Abinawa menjawab


dengan santai dan senyuman yang biasa diperlihatkannya kepada Alena.


            “Kek!! Aku tidak bisa menahan lebih


lama lagi!” Sadewa bicara bersamaan dengan keringatnya yang mengucur deras


karena memaksa tubuhnya memanggil rantai pengikat jiwa sebanyak mungkin.


            “Apa alasan lain aku terikat di


tanah ini, Kek??” Alena menuntut penjelasan dari Bendara Abinawa sembari


melihat dengan tatapan iba kepada Sadewa.


            “Arwahmu terpisah dari tubuhmu,


Alena.”


            Mendengar jawaban dari Bendara


Abinawa, Alena kemudian menyadari satu persatu keanehan yang terjadi pada


dirinya selama berada di pemakana durawa setelah kejadian nahas itu. Tidak


heran. Ini tidak mengherankan! Harusnya sejak lama aku sadar akan hal ini!! Aku


yang tidak bisa melihat hantu, tiba-tiba saja melihat mereka dan bahkan bicara


dengan mereka. Aku yang selama ini berusaha mencari arwah ibuku, bisa dengan


mudah menemukannya dan bicara di sini.


            Alena kemudian menyadari beberapa


hal aneh seperti dirinya yang tidak merasakan sakit di tubuhnya, tidak melihat


memar di tubuhnya bahkan setelah beberapa kecelakaan kecil yang menimpa

__ADS_1


tubuhnya. Alena juga lupa bahwa selama terjebak di pemakaman ini, dirinya tidak


makan dan tidak minum. Alena lupa jika dirinya juga tidak tidur seperti


sebelumnya. Kenapa aku bisa tidak menyadarinya???


            Alena menatap Sadewa dengan tatapan tidak percaya,


terkejut dan raut wajah yang campur aduk saat ini. “Aku, kenapa denganku,


Sadewa? Aku baru sadar jika aku tidak tidur, tidak makan dan minum, aku juga


tidak merasakan lapar dan haus, aku juga tidak pernah merasa mengantuk. Aku,


kenapa denganku, Sadewa?? Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Sadewa??”


            Sadewa tadinya ingin memberikan


penjelesan kepada Alena, sayangnya tenaganya kini mulai terkuras habis karena


rantai pengikat jiwa yang sedang dipanggilnya dalam jumlah yang cukup banyak


bahkan lebih banyak dari yang Sadewa sendiri kira.


            “Kek!! Tolong cepatlah!! Aku tidak


akan bisa bertahan lebih lama lagi menahan rantai pengikat jiwa ini!!” Sadewa


mengabaikan Alena yang menatapnya dengan tuntutan dan bicara pada Bendara


Abinawa.


            “Aku tahu!”


            Dug! Bendara Abinawa memukul ujung


bawah tongkatnya lagi untuk kedua kalinya dan kali ini, angin berembus lebih


kencang dari sebelumnya. Di saat yang sama, pembatas yang menghalangi


hantu-hantu di pemakaman durawa mulai terbuka dan mulai menarik Alena keluar.


            “A-apa yang terjadi??” Alena mulai merasakan tubuhnya


tertarik aliran angin yang kencang sementara semua hantu lain juga merasakan


hal yang sama, akan tetapi rantai pengikat jiwa yang dipanggil oleh Sadewa


menghalangi hantu-hantu lain tertarik. “Kenaapa angin ini menarikku, Sadewa??”


            Hosh, hosh!! Bersamaan dengan


keringat yang terus mengucur di keningnya, Sadewa menatap Alena dengan senyuman


kembali ke tubuhmu! Sudah saatnya berpisah, Alena.”


            Wush!! Alena tertarik pusaran angin


yang kemudian membawa tubuhnya melayang naik ke atas dan mulai menjauh dari Sadewa


dan Bendara Abinawa.


            “Sadewa!! Kakek!!” Alena berteriak


memanggil ke arah Sadewa dan Bendara Abinawa.


            “Selamat jalan, Nak. Kalau bisa


jangan lagi kembali kemari dan terjebak di sini lagi.” Bendara Abinawa


mengucapkan pesan terakhirnya kepada Alena.


            Wushhh!! Angin kencang membawa Alena


naik dan melayang semakin jauh, semakin dekat dengan pembatas yang melindungi


pemakaman durawa.


            “Maaf, Alena. Maaf dan selamat


jalan.”


            Dari kejauhan, Alena melihat ucapan


terakhir dari Sadewa lengkap dengan senyumannya di wajahnya yang terlalu lelah.


            “Kalian benar-benar jahat!!!” Alena


berteriak kencang berharap Sadewa dan Bendara Abinawa dapat mendengar


teriakannya.


            Wusshhh!! Alena melewati batas


pemakaman durawa dan akhirnya semua berubah menjadi gelap.


*


            Tiiiit!!! Tit! Tiiiiiit!!.

__ADS_1


            “Alena!!”


            Dari luar kamar, Manda berteriak


memanggil nama Alena yang kini sedang berada dalam kondisi kritis dengan


beberapa dokter dan perawat yang berada di sisinya dan sedang berusaha memompa


jantrung Alena.


            “Alena!! Kumohon jangan pergi dulu!!


Kamu harus hidup, Alena!!” Manda terus memanggil Alena.


            “Tenang, Manda!! Alena pasti


baik-baik saja!!” Gala berusaha menenangkan Manda yang saat ini sudah


membayangkan Alena bersiap untuk pergi ke dunia lain.


            “Kalau Alena pergi, aku tidak akan


pernah bisa memaafkan diriku sendiri, Gala!! Ini salahku!! Harusnya aku yang


berbaring di sana, bukan Alena!!!” Manda menyalahkan dirinya lagi sama seperti


sebelumnya di mana dirinya baik-baik saja setelah melanggar perintah dari


Sadewa sementara Alena kembali dalam keadaan koma.


            “Itu kecelakaan, Manda!! Alena tidak


akan pernah menyalahkan dirimu!!” Gala sekali lagi berusaha untuk menenangkan


Manda. “Kita bertiga adalah teman dan juga rekan. Dan kamu adalah teman baik


Alena. Aku yakin Alena tidak akan pernah menyalahkan kamu, Manda!!”


            Tes, tes, tes!! Manda meneteskan air


matanya melihat dokter dan perawat yang masih berusaha untuk menyelamatkan


Alena yang dalam kondisi kritis. “A-aku takut Alena akan pergi sama seperti


Alena kehilangan ibunya. Aku takut, Gala! Aku takut!!”


            Gala menaarik Manda dan memeluknya


dengan erat. “Kita semua juga takut, Manda! Tapi … ketakutan itu masih belum


terjadi, Manda! Kuatkan dirimu, demi Alena!!”


            Tit! Tit! Tit!


            Layar yang menunjukkan denyut


jantung Alena kemudian kembali normal. Dari balik kaca ruangan inap Alena,


Manda dan Gala melihat bagaimana wajah dokter dan perawat tiba-tiba berubah


lega setelah melihat layar yang sama dengan apa yang dilihat Manda dan Gala.


            “Bagaimana, Dok??” Gala langsung


bertanya ketika dokter yang baru saja memberikan pertolongan pada Alena keluar


dari ruang Alena.


            “Kita beruntung. Alena masih bisa


terselamatkan! Kita tunggu dalam beberapa hari lagi untuk memantau keadaan


Alena.”


            “Kenapa dengan Alena, Dok??” Giliran


Manda yang bertanya.


            “Ini hal yang biasa terjadi pada


pasien koma. Kita pantau keadaan Alena dalam beberapa hari ke depan.”


            Tiga hari kemudian.


            “Alena?? Alena??”


            Begitu membuka mata, Alena mendengar


suara tidak asing yang sangat dirindukan oleh Alena.


            “Alena?? Alena?? Apa kamu bisa


melihatku??”


            Sekali lagi, Alena


mengerjap-ngerjapkap matanya dan menemukan  Manda sedang duduk di samping tempat tidurnya


sembari menangis memanggil namanya.

__ADS_1


            “Alena!! Akhirnya kamu bangun


juga!!!”


__ADS_2