
“Apa perpisahan
kalian sudah selesai?”
Bendara
Abinawa bertanya kepada Alena dan Sadewa. Dan keduanya serentak memberikan
jawaban yang sama. “Sudah.”
“Kalau
begitu, kita mulai.”
Dug!
Bendara Abinawa menghentakkan ujung tongkat yang selalu dibawa dan digunakannya
dan membuat tanah pemakaman durawa berguncang. Di saat yang sama, Sadewa
bersiap-siap memanggil rantai pengikat
jiwa sebanyak mungkin yang bisa dipanggilnya.
“A-apa
yang sedang kalian lakukan?” Alena bertanya dengan wajah bingung dan tidak
mengerti. “Kenapa cara yang kalian gunakan berbeda dengan saat aku mewujudkan
keinginan dari hantu-hantu yang terjebak di pemakaman ini?”
Sadewa
yang sedang mengerahkan seluruh tenanganya memanggil sebanyak mungkin rantai
pengikat jiwa, kini sibuk merantai hantu-hantu yang terjebak di pemakaman
durawa. Dan sebagai gantinya Bendara Abinawa yang menjawab pertanyaan dari
Alena.
“Hantu-hantu itu adalah arwah
gentayangan dari orang mati. Jadi alasan yang mengikat mereka di tanah ini
adalah keinginan mereka yang belum terkabul. Tapi kamu, kasusmu berbeda, Alena.
Kamu masih hidup dan alasan terikat di tanah ini bukan hanya karena keinginanmu
saja.”
Alena terkejut mendengar penjelasan
dari Bendara Abinawa. “Jadi selama ini, Kakek bohong padaku??”
“Aku tidak berbohong. Hanya tidak
mengatakan segalanya sebelum waktu yang tepat saja. Beberapa hal terkadang akan
lebih baik menjadi rahasia dari pada diketahui.” Bendara Abinawa menjawab
dengan santai dan senyuman yang biasa diperlihatkannya kepada Alena.
“Kek!! Aku tidak bisa menahan lebih
lama lagi!” Sadewa bicara bersamaan dengan keringatnya yang mengucur deras
karena memaksa tubuhnya memanggil rantai pengikat jiwa sebanyak mungkin.
“Apa alasan lain aku terikat di
tanah ini, Kek??” Alena menuntut penjelasan dari Bendara Abinawa sembari
melihat dengan tatapan iba kepada Sadewa.
“Arwahmu terpisah dari tubuhmu,
Alena.”
Mendengar jawaban dari Bendara
Abinawa, Alena kemudian menyadari satu persatu keanehan yang terjadi pada
dirinya selama berada di pemakana durawa setelah kejadian nahas itu. Tidak
heran. Ini tidak mengherankan! Harusnya sejak lama aku sadar akan hal ini!! Aku
yang tidak bisa melihat hantu, tiba-tiba saja melihat mereka dan bahkan bicara
dengan mereka. Aku yang selama ini berusaha mencari arwah ibuku, bisa dengan
mudah menemukannya dan bicara di sini.
Alena kemudian menyadari beberapa
hal aneh seperti dirinya yang tidak merasakan sakit di tubuhnya, tidak melihat
memar di tubuhnya bahkan setelah beberapa kecelakaan kecil yang menimpa
__ADS_1
tubuhnya. Alena juga lupa bahwa selama terjebak di pemakaman ini, dirinya tidak
makan dan tidak minum. Alena lupa jika dirinya juga tidak tidur seperti
sebelumnya. Kenapa aku bisa tidak menyadarinya???
Alena menatap Sadewa dengan tatapan tidak percaya,
terkejut dan raut wajah yang campur aduk saat ini. “Aku, kenapa denganku,
Sadewa? Aku baru sadar jika aku tidak tidur, tidak makan dan minum, aku juga
tidak merasakan lapar dan haus, aku juga tidak pernah merasa mengantuk. Aku,
kenapa denganku, Sadewa?? Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Sadewa??”
Sadewa tadinya ingin memberikan
penjelesan kepada Alena, sayangnya tenaganya kini mulai terkuras habis karena
rantai pengikat jiwa yang sedang dipanggilnya dalam jumlah yang cukup banyak
bahkan lebih banyak dari yang Sadewa sendiri kira.
“Kek!! Tolong cepatlah!! Aku tidak
akan bisa bertahan lebih lama lagi menahan rantai pengikat jiwa ini!!” Sadewa
mengabaikan Alena yang menatapnya dengan tuntutan dan bicara pada Bendara
Abinawa.
“Aku tahu!”
Dug! Bendara Abinawa memukul ujung
bawah tongkatnya lagi untuk kedua kalinya dan kali ini, angin berembus lebih
kencang dari sebelumnya. Di saat yang sama, pembatas yang menghalangi
hantu-hantu di pemakaman durawa mulai terbuka dan mulai menarik Alena keluar.
“A-apa yang terjadi??” Alena mulai merasakan tubuhnya
tertarik aliran angin yang kencang sementara semua hantu lain juga merasakan
hal yang sama, akan tetapi rantai pengikat jiwa yang dipanggil oleh Sadewa
menghalangi hantu-hantu lain tertarik. “Kenaapa angin ini menarikku, Sadewa??”
Hosh, hosh!! Bersamaan dengan
keringat yang terus mengucur di keningnya, Sadewa menatap Alena dengan senyuman
kembali ke tubuhmu! Sudah saatnya berpisah, Alena.”
Wush!! Alena tertarik pusaran angin
yang kemudian membawa tubuhnya melayang naik ke atas dan mulai menjauh dari Sadewa
dan Bendara Abinawa.
“Sadewa!! Kakek!!” Alena berteriak
memanggil ke arah Sadewa dan Bendara Abinawa.
“Selamat jalan, Nak. Kalau bisa
jangan lagi kembali kemari dan terjebak di sini lagi.” Bendara Abinawa
mengucapkan pesan terakhirnya kepada Alena.
Wushhh!! Angin kencang membawa Alena
naik dan melayang semakin jauh, semakin dekat dengan pembatas yang melindungi
pemakaman durawa.
“Maaf, Alena. Maaf dan selamat
jalan.”
Dari kejauhan, Alena melihat ucapan
terakhir dari Sadewa lengkap dengan senyumannya di wajahnya yang terlalu lelah.
“Kalian benar-benar jahat!!!” Alena
berteriak kencang berharap Sadewa dan Bendara Abinawa dapat mendengar
teriakannya.
Wusshhh!! Alena melewati batas
pemakaman durawa dan akhirnya semua berubah menjadi gelap.
*
Tiiiit!!! Tit! Tiiiiiit!!.
__ADS_1
“Alena!!”
Dari luar kamar, Manda berteriak
memanggil nama Alena yang kini sedang berada dalam kondisi kritis dengan
beberapa dokter dan perawat yang berada di sisinya dan sedang berusaha memompa
jantrung Alena.
“Alena!! Kumohon jangan pergi dulu!!
Kamu harus hidup, Alena!!” Manda terus memanggil Alena.
“Tenang, Manda!! Alena pasti
baik-baik saja!!” Gala berusaha menenangkan Manda yang saat ini sudah
membayangkan Alena bersiap untuk pergi ke dunia lain.
“Kalau Alena pergi, aku tidak akan
pernah bisa memaafkan diriku sendiri, Gala!! Ini salahku!! Harusnya aku yang
berbaring di sana, bukan Alena!!!” Manda menyalahkan dirinya lagi sama seperti
sebelumnya di mana dirinya baik-baik saja setelah melanggar perintah dari
Sadewa sementara Alena kembali dalam keadaan koma.
“Itu kecelakaan, Manda!! Alena tidak
akan pernah menyalahkan dirimu!!” Gala sekali lagi berusaha untuk menenangkan
Manda. “Kita bertiga adalah teman dan juga rekan. Dan kamu adalah teman baik
Alena. Aku yakin Alena tidak akan pernah menyalahkan kamu, Manda!!”
Tes, tes, tes!! Manda meneteskan air
matanya melihat dokter dan perawat yang masih berusaha untuk menyelamatkan
Alena yang dalam kondisi kritis. “A-aku takut Alena akan pergi sama seperti
Alena kehilangan ibunya. Aku takut, Gala! Aku takut!!”
Gala menaarik Manda dan memeluknya
dengan erat. “Kita semua juga takut, Manda! Tapi … ketakutan itu masih belum
terjadi, Manda! Kuatkan dirimu, demi Alena!!”
Tit! Tit! Tit!
Layar yang menunjukkan denyut
jantung Alena kemudian kembali normal. Dari balik kaca ruangan inap Alena,
Manda dan Gala melihat bagaimana wajah dokter dan perawat tiba-tiba berubah
lega setelah melihat layar yang sama dengan apa yang dilihat Manda dan Gala.
“Bagaimana, Dok??” Gala langsung
bertanya ketika dokter yang baru saja memberikan pertolongan pada Alena keluar
dari ruang Alena.
“Kita beruntung. Alena masih bisa
terselamatkan! Kita tunggu dalam beberapa hari lagi untuk memantau keadaan
Alena.”
“Kenapa dengan Alena, Dok??” Giliran
Manda yang bertanya.
“Ini hal yang biasa terjadi pada
pasien koma. Kita pantau keadaan Alena dalam beberapa hari ke depan.”
Tiga hari kemudian.
“Alena?? Alena??”
Begitu membuka mata, Alena mendengar
suara tidak asing yang sangat dirindukan oleh Alena.
“Alena?? Alena?? Apa kamu bisa
melihatku??”
Sekali lagi, Alena
mengerjap-ngerjapkap matanya dan menemukan Manda sedang duduk di samping tempat tidurnya
sembari menangis memanggil namanya.
__ADS_1
“Alena!! Akhirnya kamu bangun
juga!!!”