Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: kunti 2 part 3


__ADS_3

            Pertama-tama, Bendara Abinawa memuji Alena yang telah berhasil mengerjakan satu dari beberapa tugas demi bertemu dengan arwah ibunya. Setelah bicara beberapa kalimat dengan Alena, Bendara Abinawa kemudian membawa Sadewa untuk bicara empat mata.


            “Aku pinjam Sadewa dulu, Alena. Nanti setelah urusanku dengannya selesai, kau bisa membawa Sadewa lagi untuk menyelesaikan  tugas keduamu, Alena.”


            Alena menundukkan kepalanya sebagai penghormatan kepada Bendara Abinawa. “Ya, Kakek.”


            Sadewa mengikuti Bendara Abinawa dengan patuh dan tanpa bertanya apapun. Sadewa yang sudah mengenal Bendara Abinawa tahu betul bagaimana Bendara Abinawa dan sifatnya sejak menjadi durawapati di pemakaman Durawa.


            “Sepertinya wajahmu yang rupawan itu benar-benar membuatmu dalam banyak kesulitan, Sadewa.” Bendara Abinawa menghentikan langkah kakinya, begitu pula dengan Sadewa yang mengikuti tepat di belakangnya.


            “Seperti ucapan Kakek ketika aku pertama kali bekerja sebagai durawapati. Wajah ini ... “ Sadewa menyentuh wajahnya sendiri. “Benar-benar membuatku dalam banyak masalah. Hantu-hantu wanita berebut untuk menggodaku dan menarik perhatianku seolah mereka lupa bahwa mereka bukan lagi manusia.”


            “Hahaha.” Bendara Abinawa tertawa kecil mendengar keluhan dari Sadewa selama bekerja sebagai durawapati. “Meski banyak membawa masalah, tapi wajahmu itulah yang akan jadi penyelamat bagi beberapa hantu di sini yang terjebak karena keinginan mereka yang belum terpenuhi selama mereka hidup.”


            “Bisa aku bertanya, Kakek?” Sadewa memberanikan diri untuk bertanya kepada Bendara Abinawa yang memiliki hubungan baik dengan keluarganya di masa lalu.


            “Kau ingin bertanya kenapa aku memberikan tugas itu kepada Alena, benar begitu bukan, Sadewa??” Bendara Abinawa menggunakan bakatnya untuk membaca pikiran kepada Sadewa.


            “Ya, Kakek.” Sadewa menganggukkan kepalanya. “Kenapa tugas itu Kakek berikan pada Alena dan bukan padaku yang merupakan penjaga makam ini?”


            Bendara Abinawa tersenyum menerima pertanyaan itu dari Sadewa. “Karena kau tidak punya keinginan, Sadewa. Wanita itu terjebak di pemakaman ini-di tanah ini karena ada yang diinginkannya, Meski sekarang dia sudah bisa melihat hantu-hantu seperti keinginannya, tapi orang yang dicarinya masih belum bisa dilihatnya.”


            “Alena ingin bertemu dengan ibunya yang sudah mati.” Sadewa teringat dengan cerita Manda mengenai alasan Alena memilih pekerjaan ini hingga akhirnya tiba di tanah ini-pemakaman Durawa.


            “Apa kau ingat salah satu kakek buyutmu, Sadewa?” Bendara Abinawa berbalik mengajukan pertanyaan kepada Sadewa.


            “Kakek buyutku?” Satu alis Sadewa naik mendengar pertanyaan itu. “Mungkinkah yang Kakek maksud adalah kakek buyutku yang pernah melepaskan banyak hantu yang terjebak di pemakaman Durawa??”


            “Itu benar. Dia orang yang aku maksud.”

__ADS_1


            “Kenapa dengan Kakek buyutku itu? Apa hubungannya Kakek buyutku dengan Alena?” Sadewa bertanya lagi dan kali ini Bendara Abinawa tidak menjawab pertanyaan itu. Bendara Abinawa hanya melihat ke arah Sadewa dan Sadewa tahu maksud dari tatapan yang mengarah padanya. Tiba-tiba ... Sadewa teringat akan sesuatu dan menemukan persamaan antara kakek buyutnya dengan Alena. “Jangan-jangan Kakek buyutku melepaskan banyak hantu yang terjebak di sini hanya untuk bertemu dengan arwah istrinya yang meninggal muda??”


            Satu tangan Bendara Abinawa terangkat dan mendarat di pundak Sadewa. “Itu benar, Nak. Mereka berdua melakukan hal itu untuk melepas penyesalan di hati mereka. Tanah ini-pemakaman Durawa menjebak arwah apapun yang memiliki penyesalan dalam hidupnya. Alena punya penyesalan dengan ibunya yang sudah meninggal dan Kakek buyutmu masih bisa keluar masuk dari pemakaman ini karena statusnya sebagai durawapati. Jadi untuk mengabulkan keinginan mereka, aku memberikan jalan bagi mereka. Dan kali ini ... tolong bantu Alena meski kau harus sedikit menderita. Tak ada salahnya berbuat baik, kelak ... kau pasti akan dapat balasannya, Sadewa.”


*


            “Apa yang kalian bicarakan?” Alena melihat Sadewa setelah beberapa waktu menunggu Sadewa yang sedang bicara empat mata dengan Bendara Abinawa.


            “Hanya sejarah kecil keluarga kami dan beberapa nasihat kehidupan.” Sadewa duduk di samping Alena. “Jika kau bertemu dengan arwah ibumu, apa yang akan kau lakukan dan katakan padanya, Alena??”


            Alena mengerutkan alisnya karena terkejut mendengar bahwa Sadewa tahu alasannya terjebak di sini dan siapa yang ingin ditemuinya di tanah pemakaman Durawa. “Dari mana kau tahu?? Ahhh ... Kakek yang cerita padamu bukan?”


            “Y-ya.” Sadewa menganggukkan kepalanya pasrah karena tidak penting dari mana dirinya tahu mengenai alasan Alena terjebak di tanah pemakaman Durawa.


            “Tentu saja meminta maaf pada Ibuku. Hari itu aku pergi dari rumah dan tidak sempat menyelamatkan ibuku yang jatuh di kamar mandi. Jika saja saat itu aku ada di rumah, mungkin ibuku tidak akan meregang nyawa dan pergi seperti itu. Aku menyesali saat itu dan beberapa tahun terakhir di saat aku bersama dengan ibuku.” Alena berusaha untuk tetap tersenyum di depan Sadewa seolah dirinya baik-baik saja. “Kami sangat sering adu mulut karena beberapa alasan dan puncaknya adalah saat itu.”


            Huft. Sadewa mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari duduknya. Sadewa kemudian mengulurkan tangannya ke arah Alena. “Aku akan membantumu, Alena. Aku akan membantumu agar bisa bertemu dengan Ibumu dan segera keluar dari pemakaman Durawa.”


            “Ya. Kau ingin menerimanya sekarang juga atau menunggu hingga aku berubah pikiran lagi??” Sadewa bicara dengan nada sedikit mengancam daa perlahan menarik uluran tangannya.


            Hup. Alena menangkap uluran tangan Sadewa yang hendak menjauh darinya dan bersamaan bangkit dari duduknya. “Terima kasih, Sadewa. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini.”


            Keesokan harinya.


            Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat dengan Alena, Sadewa datang ke pemakaman Durawa dengan mengenakan setelan jas putih yang dibelinya di kota bersama dengan Gala dan Manda. Bahkan Manda menata rambut Sadewa sedikit dan membuat perbedaan besar pada Sadewa hanya karena model rambutnya yang berubah.


            “Sudah kuduga, Manda memang terbaik jika menyangkut tata rias.” Alena memukul  bahu Sadewa karena kagum dengan pekerjaan Manda dan perubahan yang terjadi pada Sadewa. “Kau terlihat berbeda dan sangat tampan, Sadewa.”


            Sadewa tersenyum kecil mendengar pujian itu. “Apa kau tidak tahu jika arti tampan sebenarnya adalah mau pakai apapun, mau riasan model apapun, ketampanan itu tidak akan hilang dan justru semakin terlihat dengan jelas??”

__ADS_1


            “Heh.” Alena terkekeh tidak percaya mendengar balasan untuk pujiannya. “Maaf sekali, aku tidak tahu akan hal itu.”


            “Kau bisa melihatnya padaku.” Sadewa membanggakan dirinya di depan Alena untuk pertama kalinya. Dan Alena hanya bisa memasang senyuman di sudut bibirnya sembari mengakui secara tidak langsung ucapan Sadewa padanya.


            Tidak lama kemudian        Kunti 2 yang sudah merias dirinya dengan menggunakan peralatan make up dari yang digunakan untuk Kunti 1 serta mengganti pakaiannya dengan gaun yang cantik, muncul di hadapan Alena dan Sadewa.


            “Bagaimana? Apa aku terlihat cantik?” Kunti 2 bertanya dengan mata penuh harap terutama kepada Sadewa.


            “Cantik! Cantik sekali!” Alena memberikan pujiannya dan buk ... Alena menyikut Sadewa yang diam saja.


            “Apaa??” Sadewa bertanya karena tidak paham dengan arti sikutan Alena.


            “Berikan pujianmu, Sadewa!! Kau ini ... kenapa jadi pria tidak peka sekali???” Alena menjelaskan dengan nada kesal.


            “Hahaha.” Kunti 2 tertawa kecil mendengar penjelasan Alena. “Jika durawapati adalah pria yang peka maka salah satu dari kami mungkin sudah jadi kekasihnya!!”


            “Kau dengar itu!!!” Sadewa membalas dengan melirik tajam ke arah Alena.


            “Kau ini!!! Aku kasihan sekali dengan istrimu nanti!!” Alena bicara sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.


            Setelah perdebatan kecil antara Alena dan Sadewa, Kunti 2 berdehem dan adu debat itu akhirnya berakhir. Sadewa dan Kunti 2 kemudian melakukan kencan kecil yang sudah disiapkan oleh Alena dengan bantuan Pocong 1, Pocong 2 dan beberapa hantu tuyul. Dari makan bersama, menari bersama dengan lagu yang dimainkan peralatan seadanya-gamelan yang justru terkesan dansa yang mengerikan hingga puncaknya adalah pesta kembang api yang dilepaskan oleh Alena bersama dengan Pocong 1 dan Pocong 2.


            Dari kejauhan, Alena melihat Kunti 2 yang sangat bersenang-senang dengan kencan yang diimpikannya. Dan tidak lama kemudian apa yang terjadi pada Kunti 1 terjadi pada Kunti 2. Tubuh Kunti 2 memancarkan cahaya yang terang sebelum akhirnya perlahan menghilang.


            “Terima kasih semuanya. Terima kasih telah mengabulkan keinginanku.” Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Kunti 2 kepada Alena, Sadewa dan hantu-hantu yang ikut membantu Alena.


            Kunti 2. Dulunya bernama Larasati yang meninggal tahun 1950 karena kecelakaan. Larasati mati tenggelam setelah berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak kecil yang hanyut di sungai. Hari kematian Larasati adalah satu hari sebelum hari pernikahannya di mana dirinya dijodohkan oleh keluarganya dan belum bertemu dengan calon suaminya selain melihatnya dari foto. Karena itu ... Larasati sangat-sangat berharap bisa menjalani kencan semenjak beberapa hantu membicarakan kisah cinta mereka di depan Larasati.


           

__ADS_1


 


 


__ADS_2