Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: pocong 1 part 4


__ADS_3

            Melihat bahwa tetua genderuwo berusaha untuk melepaskan dirinya dari rantai pengikat jiwa yang dipanggil oleh Sadewa, Alena harusnya segera mengambil seribu langkah untuk menyelamatkan dirinya dan segera pergi bersama dengan Sadewa. Tapi entah apa yang merasuki dirinya, Alena jusru berlari ke arah rak di mana bola-bola milik tetua genderuwo disimpan.


            Hup. Alena melompat kecil untuk mengambil satu bola yang menurutnya sejak tadi berusaha untuk bicara padanya.


            “Ambil satu bola lagi, Alena!”


            Alena mendengar suara itu lagi dan kali ini merasa yakin bahwa bola yang dibawanya sejak tadi berusaha untuk bicara dengannya dan menolongnya. “Yang mana??”


            “Bola ujung kanan bawah!”


            Hup. Alena mengambil satu bola lagi dan kemudian segera berlari keluar dari pohon besar yang jadi tempat tinggal tetua genderuwo. Alena sempat menoleh ke belakang dan melihat rantai pengikat jiwa yang menangkap tangan dan kaki tetua genderuwo sudah tidak lagi bisa menahan lebih lama tetua genderuwo.


            “Alena!!!!!”


            Alena mendengar teriakan Sadewa. Alena mempercepat larinya dan kemudian mendengar grrr ... raungan dari tetua genderuwo yang marah karena Alena mengambil bola-bola yang jadi tempat tinggal wanita dari tetua genderuwo. Boom, boom .... Alena mendengar bunyi layaknya ledakan yang berasal dari langkah kaki tetua genderuwo yang sudah berhasil melepaskan diri dari rantai pengikat jiwa.


            “Jangan menoleh ke belakang dan terus berlari, Alena!!”


            Alena mendengar suara itu lagi dan mengeluh di dalam benaknya sembari terus memaksa kedua kakinya terus berlari ke arah di mana Sadewa menunggu. Ketika ini berakhir, aku harus bicara dengan suara dari dalam bola ini. Aku harus bilang padanya bahwa caranya menyemangati benar-benar menyebalkan!! Enak saja dia bilang terus lari dan jangan menoleh ke belakang!!! Aku sudah lari sekuat tenaga di tambah semua bagian dari tubuhku kini memberi sinyal padaku bahwa mereka ketakutan!! Nyawaku sedang dipertaruhkan!! Ahh, sial!!! Kenapa untuk bertemu dengan Ibuku, aku harus melalui banyak ujian seperti ini??


            Boom, boom ... Alena merasa langkah kaki bak ledakan itu semakin dekat dan di saat yang sama, rantai pengikat jiwa yang menangkap genderuwo-genderuwo lain mulai kehilangan kekuatannya karena Sadewa telah mulai kehilangan tenaganya.


            “Akkkhhh!!” Alena berteriak kesal sembari terus berlari dengan sekuat tenaga sembari mengeluh. “Bakatmu ini benar-benar tidak praktis, Sadewa!!!”


            Alena terus berlari melewati genderuwo-genderuwo lain hingga akhirnya melihat Sadewa yang kini berubah pucat karena tenaganya yang mulai terkuras dengan cepat demi membantu dirinya.


            “Alena ... cepatlah!!”


            Alena menaikkan kecepatan larinya karena hanya sedikit lagi dirinya mencapai Sadewa. Alena tersenyum melihat ke arah Sadewa dan  wushh  .... Alena merasakan embusan angin secara tiba-tiba.


            “Alena!!!!!”


            Alena merasakan ruang dan waktu di sekitarnya melambat. Alena melihat Sadewa berteriak padanya dengan wajah yang ketakutan dan sebelum Alena menyadari arti dari raut wajah Sadewa itu,  brakkk!!  Alena merasakan sesuatu menyambar tubuhnya dan membuat tubuhnya terhempas ke arah samping.


            “Akhhh!!” Alena merasakan seluruh tubuhnya kesakitan dan dua bola yang tadi dibawanya kini terlepas dari kedua tangannya.

__ADS_1


            “Alena!!! Cepat bangun!!”


            Alena mencoba bangun dan mendapati tetua genderuwo kini sudah berada di dekatnya. Ngung ... ngung .... Kepala Alena berdengung akibat benturan yang dirasakannya.


            “Alena!!! Alena! Bangun!!”


            “Grrrrr!!!”


            Teriakan berulang-ulang itu masih berusaha untuk diproses oleh otak Alena yang baru saja mengalami guncangan akibat tabrakan yang tidak terduga. Seluruh tubuh Alena, ini merasakan nyeri yang sangat hebat tapi entah bagaimana Alena masih sanggup berdiri. Apa yang harus aku lakukan? Alena bertanya pada dirinya sendiri sembari berusaha bangkit dan melihat sekelilingnya.


            Apa yang harus aku lakukan?? Jika aku berlari ke arah Sadewa, maka Sadewa akan berada dalam bahaya dan kami semua mungkin akan tewas nantinya. Tidak! Sadewa mungkin akan selamat karena ara hantu di pemakaman ini tidak akan berani untuk menyentuhnya. Sadewa adalah durawapati dan meski pengganti pun, kenyataan itu tidak akan berubah. Pasti ada konsekuensi tersendiri bagi mereka yang berani melawan durawapati. Aku yakin itu. Alena terus berpikir dan bicaranya di dalam benaknya untuk mencari solusi. Pandangan Alena kemudian terhenti pada botol pemberian Sadewa yang disebut dengan air suci.


            “Kita coba ini!” Tanpa pikir panjang, Alena mengambil botol itu dan menunggu waktu yang tepat untuk melemparkan isi botol itu ke arah tetua genderuwo.


            “Kau!!” Tetua genderuwo memilih untuk mendekati Alena daripada mendekati Sadewa dan membuat Sadewa melepaskan rantai pengikat jiwa yang menangkap pasukannya. “Kau manusia yang benar-benar menyusahkan!! Kau tidak hanya mengambil satu bola tapi dua bola!! Kau datang kemari-ke sarangku dan membuat onar di sini dengan membuat durawapati membelenggu pasukanku!!”


            Dari ucapan tetua genderuwo itu, Alena tahu bahwa tetua genderuwo itu sedang marah kepadanya. Dan kemarahan itu bukanlah sekedar kemarahan biasa yang pernah Alena terima seperti kemarahan ibunya ketika berdebat dengan dirinya, kemarahan atasannya ketika menilai pekerjaannya yang kurang memuaskan dan kemarahan teman-temannya. Kemarahan yang saat ini dirasakan Alena lebih kepada gambaran kematian yang semakin dekat dengan dirinya.


            “Grrrrr!!!” Tetua genderuwo itu mendekat ke arah Alena dan dalam sekejap berhasil menangkap tubuh Alena. Dalam genggaman makhluk yang ukurannya 10 kali lebih besar dari dirinya, Alena menyadari betapa menakutkannya makhluk yang saat ini menangkapnya. Nafas yang memuakkan dan membuat perut Alena mual bukan main, wajah dan tubuh yang berbulu lebat yang menjijikkan dan  kuku dan gigi tajam yang sewaktu-waktu bisa mencabik-cabik tubuhnya, gambaran itu benar-benar membuat Alena bergidik ngeri.


            “Aku mungkin tidak bisa menyentuh Durawapati. Tapi  ... aku bisa memberikan pelajaran untukmu, manusia!” Suara yang keluar itu seolah mencabik udara di sekitar Alena dan membuat Alena kini bergetar ketakutan.


            Suara itu bicara lagi pada Alena dan kali ini ... Alena tidak berpikir dua kali untuk menuruti ucapan itu. Splash! Alena dengan cepat melemparkan botol berisi air suci itu ke arah wajah tetua genderuwo itu  dan membuat genderuwo yang besar itu meraung kesakitan.


            “Aaaarrrrghhh!!!”


            Rasa sakit yang menyerang wajahnya, membaut tetua genderuwo itu spontan melepaskan Alena yang berada di genggamannya. Alena memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Alena mengabaikan rasa sakit yang menyerangnya ketika terjatuh untuk kedua kalinya, mengambil dua bola yang dicurinya dan bergegas lari ke arah Sadewa.


            “Aaaarrgggghh!” Raungan itu terdengar lagi bersamaan dengan Alena yang telah tiba tepat di belakang Sadewa.


            “Kau benar-benar!!!” Sadewa masih sempat mengeluh kepada Alena sebelum akhirnya melepaskan tongkat bisbol miliknya dari permukaan tanah dan kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas.


            “Apa yang sedang kau lakukan, Sadewa?” Alena bertanya karena belum pernah melihat apa yang sedang dilakukan oleh Sadewa saat ini.


            “Diam dan lihat saja!!”

__ADS_1


            Alena menuruti Sadewa: diam dan melihat apa yang dilakukan oleh Sadewa. Wushhh! Angin berembus kencang secara tiba-tiba dan membuat Alena harus bersembunyi di belakang Sadewa karena embusan yang kencang itu. Apa yang sedang terjadi? Angin ini ... kenapa tiba-tiba kencang sekali??


            “Aarrghh!!” Tetua genderuwo itu mendekat ke arah Sadewa dengan auman kemarahan. “Berikan manusia itu padaku!! Aku harus membalas perbuatannya padaku!!!”


            Tadinya ... Alena mengira tetua genderuwo itu akan mendekat ke arah Sadewa. Tapi ... tetua genderuwo itu tidak bisa mendekat ke arah Sadewa dan Alena seolah ada sesuatu yang menghalanginya.


            “Apa yang terjadi, Sadewa?” Alena mencoba bertanya. Tapi Sadewa mengabaikan pertanyaan darinya dan justru menarik tangan Alena untuk keluar dari batas sarang genderuwo.


            Tidak mendapatkan jawaban, Alena hanya diam mengikuti Sadewa yang sedang menuntunnya keluar dari batas sarang genderuwo dan kembali ke dalam pemakaman Durawa.


            “Kita sudah sampai, Sadewa!!” Alena mencoba bicara kepada Sadewa ketika tiba di pemakaman Durawa dan merasa sudah aman.


            Tapi sekali lagi ... Sadewa mengabaikan pertanyaan Alena dan justru bersiul kencang untuk memanggil hantu-hantu di pemakaman Durawa. Wush! Dalam sekejap, hantu-hantu yang terjebak di pemakan Durawa muncul dan berbaris di depan Sadewa layaknya pasukan pribadi miliknya.


            “Salam, durawapati.” Dengan serentak semua hantu yang tiba langsung memberikan salamnya kepada Sadewa.


            Bruk! Sadewa belum sempat membalas salam itu ketika tubuhnya sudah jatuh menghantam tanah.


            “Sadewa!!”


            “Durawapati!!”


            Alena bersama dengan seluruh hantu yang hadir berteriak terkejut melihat Sadewa ambruk di depan mereka.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2