
Alena memandang Kunti 1 di mana tangan dan kaki Kunti 1 masih terhubung dengan rantai yang dipanggil Sadewa sebagai durawapati. Berkat kejadian ini, sekali lagi Alena bisa mengenai bagaimana Sadewa dan betapa hebatnya Sadewa sebagai durawapati.
“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan pertanyaan itu pada Kunti 1?”
Alena menoleh ke arah sampingnya dan menemukan Sadewa telah berdiri di dekatnya sejauh dua jangka kaki. “Itu ... “
“Apa kau bertemu dengan Bendara Abinawa?” Sadewa dengan cepat menebak apa yang jadi alasan Alena mengajukan pertanyaan itu pada Kunti 1 dan membuat Kunti 1 kehilangan kendali amarahnya.
“Ya.” Alena menganggukkan kepalanya dengan sedikit rasa penyesalan. “Maaf, aku tidak menyangka pertanyaan itu mampu membuat Kunti 1 marah hingga kau harus merantainya seperti ini.”
“Aku terpaksa melakukannya. Jika aku tidak melakukan hal ini, mungkin ayunan tangan dari Kunti 1 bisa menghancurkan beberapa rumah di desa dan membuatnya tenggelam menjadi iblis.”
“Seburuk itu??” Alena terkejut mendengar penjelasan dari Sadewa.
“Ya itu bagian terburuknya. Hantu-hantu yang bergentayangan di sini-di pemakaman Durawa ini adalah hantu-hantu yang semasa hidupnya memiliki keinginan yang belum tercapai. Tapi keinginan yang menjebak mereka di sini bukanlah keinginan sederhana seperti ingin bertemu seseorang atau ingin memiliki sesuatu. Beberapa keinginan yang menjebak mereka adalah keinginan yang berasal dari penyesalan yang tidak mungkin bisa mereka lakukan semasa mereka hidup.”
Alena menatap Kunti 1 dengan wajah iba. “Kira-kira apa yang membuat Kunti 1 begitu marah ketika aku menanyakan pertanyaan itu padanya??”
Sadewa menarik lengan Alena. “Ikut aku!”
Alena mengikuti Sadewa, menyusuri pemakaman Durawa dan langkah Sadewa kemudian terhenti ketika tiba di pondok milik durawapati di mana Alena tinggal saat ini.
“Kenapa kemari?”
Sadewa tidak menjawab pertanyaan Alena dan terus masuk ke dalam pondok. Alena mengikuti Sadewa dan ketika masuk ke dalam pondok, Alena mendapati Sadewa sedang membongkar beberapa rak buku.
“Apa yang kau cari, Sadewa?”
“Ah ... ketemu.” Sadewa menunukan sebuah buku lama dengan sampul kulit. Sadewa kemudian duduk di kursi santai di pondok dan mulai membuka buku lama itu. “Aku ingat buku ini adalah buku yang ditulis oleh kakek buyutku ketika menjadi durawapati.”
__ADS_1
“Kakek buyutmu?” Alena menarik kursi yang bisa ditemukannya dan membuat kursi itu berada di dekat kursi Sadewa. Alena duduk di sana dan ikut melihat buku lama itu bersama dengan Sadewa. “Apa yang kakek buyutmu tulis di sana?”
“Beberapa kisah lama hantu-hantu di pemakaman durawa. Aku ingat selama beberapa generasi, kami pada durawapati hanya bertugas untuk menjaga hantu-hantu yang terjebak di pemakaman durawa agar tidak keluar dan mengganggu manusia. Tapi ... Kakek buyutku ini berbeda.”
“Berbeda??” Alena mengerutkan keningnya merasa heran. “Apa yang membuat Kakek buyutmu ini berbeda, Sadewa?”
Sadewa mengangkat buku di tangannya dan setelah itu mulai membuka satu persatu halaman di buka lama dengan sampul kulit. “Kakek buyutku ini adalah satu-satunya durawapati yang membebaskan lebih dari setengah hantu yang terjebak di pemakaman Durawa.”
“Maksudnya membebaskan?”
Sadewa menatap Alena dengan dalam sebelum akhirnya memberikan jawaban untuk pertanyaan Alena. “Memberikan keinginan bagi hantu-hantu yang terjebak hingga akhirnya hantu-hantu itu tidak lagi bergentayangan.”
Mata Alena berbinar mendengar jawaban yang diberikan oleh Sadewa. Namun ... Alena menyadari sesuatu setelah menerima jawaban itu. “Kenapa hanya kakek buyutmu saja yang melakukan hal itu? Kenapa durawapati yang lainnya termasuk kamu tidak melakukannya juga? Jika kalian melakukan hal itu, mungkin hantu-hantu yang terjebak di pemakaman Durawa bisa melepaskan alasan mereka terjebak.”
“Itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan, Alena. Kakek buyutku memilih untuk membantu para hantu karena kehilangan istrinya saat melahirkan anak kedua mereka. Istrinya saat itu masih muda dan kakek buyutku menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya sebagai durawapati karena merasa terlalu kehilangan mendiang istrinya. Seingatku ... Kakek buyutku bahkan jarang pulang ke rumah untuk menemui dua anaknya yang tinggal bersama dengan adiknya. Apa menurutmu ... aku juga harus melakukan hal itu dan memilih untuk mengabaikan anak dan istriku?”
“Kau sudah menikah??” Alena yang terkejut langsung mengajukan pertanyaan itu kepada Sadewa ketika mendengar Sadewa mengatakan anak dan istriku.
“Lalu kenapa kau bilang anak dan istrimu jika kau belum menikah?” Alena terkejut untuk kedua kalinya.
“A-aku hanya membuat pengandaian saja.” Sadewa menjawab dengan nada entengnya.
“Kukira kau benar-benar sudah menikah dan punya anak, Sadewa.” Alena bicara dengan nada lega dan hal itu membuat Sadewa penasaran.
“Kenapa memangnya? Apa ada masalah jika aku sudah menikah dan punya anak?” Sadewa berbalik bertanya kepada Alena.
Alena menganggukkan kepalanya. “Ya. Penggemarmu di dunia hantu pasti akan sedih dan patah hati masal jika tahu kau sudah menikah dan punya anak.”
Sadewa membuka mulutnya sedikit karena tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Alena untuk pertanyaannya. Setelah beberapa detik bereaksi untuk jawaban Alena, Sadewa kembali ke buku lama milik Kakek buyutnya, membuka-buka halaman dengan cepat sebelum akhirnya berhenti pada sebuah halaman. “Ini dia. Akhirnya aku menemukan catatan milik Kakek buyutku tentang Kunti 1.”
__ADS_1
“Apa Kakek buyutmu tahu alasan Kunti 1 terjebak di pemakaman Durawa?”
Sadewa menganggukkan kepalanya sembari membacakan cerita dari Kunti 1 sebelum kematian datang padanya.
Kunti 1 merupakan kuntilanak penghuni terlama di pemakaman Durawa. Meninggal pada tahun 1947 dengan nama Sriati. Semasa hidupnya, Kunti 1 adalah wanita yang selalu ditindas oleh banyak orang. Mungkin karena wajahnya cantik, mungkin karena banyak orang iri atau mungkin juga karena Sriati lahir dari keluarga tidak mampu, kehidupan Sriati berakhir dengan cara yang tragis: mati dalam kecelakaan tabrak lari setelah melarikan diri dari teman-temannya yang menipunya dengan pernikahan padahal sebenarnya ingin membuatnya sebagai pemuas para pria hidung belang baik itu asing atau pria pribumi.
“Menurutmu, kira-kira apa keinginan dari Kunti 1?” Alena bertanya kepada Sadewa. “Ingin membunuh orang yang membuatnya mati kecelakaan? Atau ingin membalas dendam kepada semua orang yang telah membuat hidupnya sengsara?”
Sadewa menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. “Aku tidak tahu. Keinginan itu bisa apa saja. Mungkin kau benar, Kunti 1 ingin membalaskan dendamnya dan ingin membunuh semua orang yang terlibat dalam kehidupannya yang sulit. Tapi ... terkadang keinginan seseorang tidaklah serumit itu.”
“Jika memang begitu ... menurutmu kenapa Kakek buyutmu gagal menyelesaikan kasus Kunti 1?” Alena bertanya lagi dan kali ini pertanyaan itu berpusat pada kakek buyut Alena.
Sadewa terdiam sejenak sembari mengetukkan jarinya beberapa kali ke atas buku lama milik kakek buyutnya. Tuk ... tuk ... tuk .... Setelah beberapa ketukan, Sadewa menghentikan ketukan itu dan membuat sebuah dugaan. “Mungkin ... kakek buyutku gagal menemukan keinginan dari Kunti 1.”
Hanya jawaban itu yang bisa Alena pikirkan di dalam benaknya.
__ADS_1