
“Kenapa kau menunggu di sini, Alena?” Sadewa bertanya pada Alena ketika tiba di pemakaman Durawa dan menemukan Alena sedang duduk di dekat gerbang seolah sedang menunggu kedatangannya. “Biasanya kau akan sibuk mencari di pemakaman Durawa atau sibuk bermain dengan para hantu. Kenapa kau di sini, kali ini?”
“Aku memang menunggu kedatanganmu.” Alena menjawab sembari bangkit dari duduknya dan membersihkan pakaian belakangnya.
“Kenapa??” Sadewa berjalan menghampiri Alena dengan tatapan curiga dan menyelidik. “Kau menunggu bukan tanpa alasan bukan?? Kali ini apa lagi?? Keinginan siapa lagi yang akan kau kabulkan dan harus merepotkanku lagi??”
“Ha.” Alena tersenyum mendengar pertanyaan dugaan yang diucapkan oleh Sadewa. Alena mendekati Sadewa dan merangkul bahunya. “Kau menebak dengan benar, Sadewa. Aku beruntung kali ini ada hantu yang mengajukan dirinya untuk membuat keinginannya terkabul dan tidak lagi terjebak di pemakaman Durawa.”
“Kali ini siapa?” Sadewa melirik ke arah Alena yang sedang merangkul bahunya, mengangkat tangannya dan melepas rangkulan bahu itu. “Ah, tiba-tiba saja firasatku mengatakan keinginan ini adalah sesuatu yang akan merugikan diriku.”
Puk ... puk ... puk .... Alena menepuk beberapa kali bahu Sadewa, berjongkok dan langsung merangkul kaki Sadewa sembari membuat permohonan pada Sadewa. “Aku mohon padamu, Sadewa!! Bantu aku lagi!!!”
“Kenapa kau merangkul kakiku seperti ini, Alena!!” Sadewa panik dan berusaha untuk melepaskan rangkulan tangan Alena di kakinya. “Heii!!! Lepaskan, Alena!! Ini memalukan!!!”
“Jika aku tidak begini, kau tidak akan membantuku, Sadewa!!! Aku mohon padamu!! Bantu aku lagi!!” Alena menolak untuk melepaskan rangkulan tangannya di kaki Sadewa dan justru mengeratkan rangkulannya seolah sedang memeluk seseorang.
“Lepaskan!! Alena, lepaskan!!!” Sadewa menaikkan nada suaranya karena merasa tindakan Alena ini tidak pantas untuk dilakukan wanita seusianya dan terlebih lagi, ini adalah pertama kalinya Sadewa berurusan dengan wanita seperti Alena. Sadewa benar-benar tidak percaya Alena yang merupakan seorang youtuber terkenal akan melakukan tindakan seperti ini. Kesan pertama Sadewa kepada Alena yang melihatnya sebagai wanita cuek, tangguh dan terlihat mandiri, hancur seketika ketika melihat tindakan Alena saat ini. Aku ... sepertinya telah salah menilai wanita ini. Bagaimana bisa dia melakukan hal ini?? Kepadaku??
“Aku tidak akan melepaskannya sampai kau mau membantuku, Sadewa!!!” Alena mengeratkan lagi rangkulannya. “Aku mohon padamu, Sadewa!! Bantu aku!! Ya?? Ya?? Ya??”
Sadewa tidak punya pilihan selain berkata ya karena itu satu-satunya cara agar Alena melepaskan rangkulannya di kakinya dan menghentikan tindakan yang terasa tidak sopan untuk dilakukan. “Ya, aku akan membantumu, Alena!! Lepaskan sekarang juga!!”
Set. Alena dengan cepat melepaskan rangkulannya di kaki Sadewa, berdiri di samping Sadewa dan menatap Sadewa dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu!!” Sadewa membuang mukanya ketika menerima tatapan Alena yang mengarah padanya dengan tubuh bergidik ngeri. “Tatapan itu mengingatkanku pada Kunti 1 dan Kunti 2 yang sedikit mesum seolah mereka ingin sekali menangkapku untuk memuaskan nafsu mereka.”
Alena menjaga jaraknya dari Sadewa dan langsung mengganti sorot matanya dengan tatapan tidak percaya. “Hah! Aku benar-benar tidak menyangka pikiran bisa terlintas di dalam benakmu, Sadewa. Pikiranmu kotor juga.”
Sadewa menolehkan kepalanya dengan sorot mata tajam seolah ingin menusuk pikiran Alena saat itu juga. “Jika kau jadi aku, maka kau tidak akan mengatakan hal itu padaku, Alena. Bayangkan saja ... hantu-hantu pria seperti genderuwo, pocong, hantu kepala buntung itu mengejarmu ke manapun kamu pergi! Jika hal itu terjadi padamu, kau tidak akan melihatku dengan wajah seperti itu, Alena.”
Alena bergidik sembari membayangkan situasi yang digambarkan oleh Sadewa. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku dan aku harap aku tidak berada di situasi seperti itu!
“Siapa hantu yang mengajukan diri untuk mendapatkan keinginan mereka yang jadi alasan mereka terjebak di sini-di pemakaman Durawa?” Sadewa bertanya kepada Alena.
“Ah itu ... “ Alena langsung mengubah raut wajahnya. “Kunti 2.”
Sadewa bergidik lagi dan kali ini keringat dingin mengucur di dahinya secara tiba-tiba karena firasat buruk yang dirasakannya tadi semakin membuatnya merasa tidak enak. “A-apa p-permintaan dari Kunti 2?”
Grr ... Sadewa merasakan getaran di tubuhnya sebagai tanda firasat buruk yang semakin memburuk. “Sial kau, Alena!! Kau benar-benar!”
“Kau pria sejati bukan??” Alena berbalik mengajukan pertanyaan itu pada Sadewa dan membuat Sadewa tidak punya pilihan lain karena saat ini harga dirinya sebagai seorang pria sejati sedang dipertaruhkan.
“Huft ... “ Sadewa menghela nafas panjang, berusaha untuk menahan amarah dan rasa kesalnya kepada Alena yang telah membuatnya mempertaruhkan harga dirinya tanpa disadarinya. “Apa itu? Apa permintaan dari Kunti 2?”
“Itu ...” Alena melihat ke arah Sadewa sembari membuat dua jari telunjuknya menyentuh satu sama lain. “Kunti 2 ingin berkencan denganmu, Sadewa!!”
Sadewa mengangkat tongkat bisbol yang dibawanya dan berniat untuk memukulkannya ke permukaan tanah pemakaman Durawa. “Bisakah aku juga merantaimu dengan rantai pengikat jiwa, Alena???”
__ADS_1
Melihat raut wajah penuh amarah dari Sadewa, Alena melangkahkan kakinya menjauh dari Sadewa dan bersiap untuk berlari menyelamatkan dirinya. “A-aku ... kan hanya menyampaikan keinginan Kunti 2 padamu. Kau tidak bisa marah padaku, Sadewa. Salahkan dirimu itu kenapa punya wajah tampan dan memesona seperti itu bahkan hantu-hantu jatuh hati padamu!”
“Alena, kembali kemari!! Setidaknya biarkan aku memukulmu sekali saja!!!” Sadewa mulai mengejar Alena yang berlari kecil menjauhi dirinya.
Alena mengambil langkah besar dan mulai berlari dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya dari kemarahan Sadewa yang kini sudah memuncak. “Pria macam apa kau berani memukul wanita?? Tidak baik pria memukul wanita!! Aku kasihan sekali dengan wanita yang kelak akan jadi istrimu, Sadewa!! Dia harus sangat-sangat bersabar menghadapi amarahmu dan sifatmu yang suka memukul wanita!!!”
Tap ... tap ... tap .... Sadewa mengejar Alena dengan lari terbaiknya dan tidak butuh waktu yang lama bagi Sadewa untuk mengejar Alena karena pengalamannya sebagai pemain bisbol yang diharuskan untuk berlari dengan cepat.
Hup. Begitu berhasil mengejar Alena, Sadewa menarik kerah pakaian Alena dan menariknya ke atas, membuat Alena tidak bisa lagi berlari untuk melarikan diri.
“Biar aku berikan satu peringatan untukmu, Alena!”
“Apa itu, Sadewa?” Alena tidak berani melihat ke arah Sadewa sembari berusaha untuk meloloskan diri dari tangan Sadewa yang menangkap kerah pakaiannya.
“Jangan bawa-bawa istriku yang bahkan belum kutahu siapa dan bagaimana rupanya. Tapi satu hal yang bisa aku pastikan, aku pasti akan berlaku baik kepada istriku karena dia adalah istriku.”
Glek. Alena menelan ludahnya karena mendengar peringatan dari Sadewa yang tidak sedang main-main dan penuh dengan kesungguhan. “A-aku mengerti, aku mengerti, Sadewa! Lepaskan aku sekarang!!”
“Melihat kalian seperti ini ... kalian sepertinya cocok menjadi pasangan.”
Alena dan Sadewa melihat ke arah yang sama dan mendapati Bendara Abinawa melihat keduanya dari kejauhan. Sadewa melepaskan genggamannya di kerah pakaian Alena dan melihat Alena dengan tatapan tidak percaya. Alena melakukan hal yang sama dengan Sadewa dengan melihat Sadewa karena ucapan dari Bendara Abinawa. Dan keduanya kemudian melihat kembali ke arah Bendara Abinawa dan membuat penyangkalan secara bersama-sama.
“Itu tidak mungkin terjadi, Kakek!!!!!”
__ADS_1