
Ibuku pernah berkata padaku bahwa apa yang kau inginkan mungkin memang sederhana, hanya saja dunia tidak memberikan hal sederhana itu dengan mudahnya. Hal itu terjadi bukan karena dunia tidak adil atau Tuhan tidak menyayangimu, hanya saja terkadang Tuhan ingin melihat betapa kerasnya kamu berusaha untuk mendapatkan hal sederhana itu. Seperti aku, apa yang aku inginkan terkadang hanyalah hal yang sederhana seperti punya ayah dan keluarga utuh seperti teman-temanku. Tapi ... ibuku memilih untuk tidak menikah lagi karena kesetiaannya pada ayah kandungku dan diriku. Ibuku bilang jika ibu menikah lagi, kasih sayangnya akan terbagi dengan suami barunya dan anak yang nanti lahir. Ibuku tidak ingin membagi kasih sayangku dan memilih untuk jadi wanita single sepanjang hidupnya.
Aku kagum akan keputusan ibuku. Jujur di mataku, ibuku adalah wanita yang sangat aku kagumi: ibuku tegar, kuat dan tidak pernah menyerah. Itulah alasan aku mengaguminya. Tapi ... aku tidak pernah mengatakan hal itu pada ibuku dan hanya menyimpan rasa kagum itu di sini-di dalam hatiku saja.
Ketika dewasa, aku melupakan perasaan kagum itu hingga akhirnya aku kehilangan ibuku dengan cara yang tragis dan secara tiba-tiba. Penyesalan itu kini membekas di hatiku sama dan sesekali aku berharap waktu bisa aku putar kembali. Aku ingin mengulang semua waktu di mana kami berdua selalu berdebat. Aku ingin mengulang semua waktu di mana kami hanya diam karena marah terhadap satu sama lain. Aku ingin mengulang semua waktu di mana aku punya kesempatan untuk mengatakan apa yang aku pendam di hatiku tapi memilih untuk menyimpannya di dalam hati, aku ingin mengatakan betapa aku menyayangi ibu, betapa aku mengagumi ibu, alasan aku keluar dari tempatku bekerja dan alasan aku memilih pekerjaan ini.
Sayangnya ... waktu tidak bisa diputar kembali. Manusia tidak punya kemampuan itu dan akan selalu menyesali setiap kesalahan yang dibuatnya.
Aku rasa di dunia ini ... bukan hanya aku saja yang pernah memikirkan dan berharap waktu bisa diputar kembali bukan??
*
“Siapa setelah ini?” Sadewa bertanya kepada Alena setelah dua hari kepergian Kunti 2 menyusul Kunti 1 yang telah mendapatkan keinginannya dan tidak lagi menjadi hantu gentayangan di pemakaman Durawa.
“Pocong 1.” Alena menjawab.
Sadewa membuka buku lama peninggalan kakek buyutnya dan menemukan catatan mengenai Pocong 1. Alena yang duduk di sampingnya, ikut melihat buku itu dan bersama-sama membaca catatan lama yang ditulis oleh kakek buyut Sadewa.
Pocong 1 sebelum menjadi hantu gentayangan di pemakaman Durawa, dulunya bernama Surya yang tewas pada tahun 1940. Dulunya adalah tentara yang ikut dalam banyak perang sebelum akhirnya meninggal dalam perang terakhir yang diikutinya. Pocong 1 akhirnya menjadi hantu gentayangan karena kesalahan orang yang menguburnya dan lupa melepas tali pocongnya. Jika beberapa hantu pocong lain merasa marah karena tali pocongnya yang lupa tidak lepas dan akhirnya menjadi hantu gentayangan, maka Pocong 1 justru merasa senang karena berkat tali pocong yang belum dilepas bisa bergentayangan.
“Hanya ini saja??” Alena mengeluh ketika selesai membaca catatan peninggalan dari Kakek buyut Sadewa.
Sadewa mengerutkan alisnya mendengar keluhan itu. “Apa yang kau harapkan dari catatan lama ini, Alena? Berhentilah mengeluh! Kau tahu dengan baik bahwa tugas ini bukan tugas yang mudah!!”
“Ma-maaf.”
__ADS_1
“Jadi apa rencanamu setelah ini?” Sadewa bertanya lagi. “Kali ini sepertinya sasaranmu tidak mudah.”
Alena menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Ya tidak mudah. Tapi ... jika Pocong 1 terjebak di sini-di tanah ini maka pasti keinginannya yang belum terwujud. Jadi kenapa tidak bertanya langsung padanya??”
Dua hari kemudian.
“Bagaimana?” Sadewa bertanya kepada Alena setelah melihat dua hari ini Alena selalu mengikuti Pocong 1 ke manapun dia pergi. Bahkan Alena tanpa sadar beberapa kali berjalan dengan melompat-lompat karena terbiasa mengikuti Pocong 1 dengan cara berjalan yang sama.
Alena menggelengkan kepalanya. “Pocong 1 itu ... dia benar-benar hantu yang susah untuk diajak bicara. Aku tidak bisa menemukan apa yang diinginkannya. Sebagai hantu, Pocong 1 benar-benar hantu yang misterius. Dia begitu patuh padamu dan cukup baik padaku, tapi ketika aku mengajukan pertanyaan itu padanya, dia selalu diam dan tidak memberikan jawaban.”
Sadewa melihat wajah kesal dari Alena karena untuk pertama kalinya menemui kesulitan dalam tugas yang diberikan oleh Bendara Abinawa. Melihat Alena, Sadewa teringat dengan cerita kakek buyutnya yang hampir sepanjang hidupnya dihabiskan di dalam pemakaman Durawa untuk melepaskan hantu-hantu yang terjebak di sini, hanya untuk bertemu dengan arwah istrinya. Benar-benar tidak mudah. Tidak heran kakek buyut akhirnya menitipkan dua putranya pada adiknya. Dulu ... tugas ini mungkin terlihat lebih mustahil dibandingkan sekarang di mana zaman sudah cukup maju.
“Jadi kau ingin menyerah?” Sadewa mencoba bertanya kepada Alena.
Sudah kuduga! Sadewa tidak terkejut mendengar jawaban dari Alena. “Jadi apa rencanamu setelah ini?? Bertanya kepada Pocong 1 sepertinya adalah hal yang mustahil untuk dilakukan.”
Alena yang sedang berjongkok di depan pondok di mana dirinya tinggal kemudian memainkan ranting yang ditemukannya dan membuat gambar di tanah dengan menggunakan ranting itu. Gambar yang dibuatnya adalah gambar pocong yang diubahnya menjadi gambar yang imut dan menggemaskan tidak lagi menyeramkan seperti gambaran hantu pocong di film-film horor.
“Aku akan bertanya kepada hantu-hantu lain.” Alena tiba-tiba membuang ranting yang digunakannya untuk menggambar dan bangkit dari posisi jongkoknya. “Mungkin ada hantu yang tahu akan keinginan dari Pocong 1 yang menjebaknya di tanah ini.”
Dua hari kemudian.
“Bagaimana?” Sadewa mengajukan pertanyaan yang sama seperti dua hari sebelumnya ketika melihat Alena sedang berjongkok kembali di depan pondok sembari menggambar di tanah dengan ranting jatuh yang dipungutnya dari dekat pondok.
Alena diam sejenak sebelum akhirnya duduk di tanah, membuang ranting di tangannya dan mengacak-acak rambut di kepalanya karena kesal. “Ahhhhh ini menyebalkan!!!!!”
__ADS_1
Sadewa melongo melihat bagaimana Alena melampiaskan rasa kesalnya di hadapannya. Satu alis Sadewa terangkat ke atas karena tidak menyangka Alena akan bertindak seperti ini.
“Akkkhhhhhh ....” Alena masih berteriak sembari mengacak-acak rambutnya.
Sadewa yang kesal dengan teriakan dari Alena kemudian berjongkok di samping Alena, menangkap dua tangan Alena dan membuat Alena berhenti untuk mengacak-acak rambutnya dan tentunya berhenti untuk berteriak. “Berhenti berteriak, Alena!!”
“Ini benar-benar membuatku frustasi. Pocong 1 benar-benar misterius. Aku bertanya ke sana kemari dan tidak ada yang tahu kisah lama dari Pocong 1.” Alena mengeluh melampiaskan rasa kesalnya kepada Sadewa.
Sadewa menatap Alena dengan tatapan dalam. “Jadi ... kau ingin menyerah??”
“Tidak, tidak akan!” Alena menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
Sadewa melepaskan kedua tangan Alena dan membuat senyuman kecil di bibirnya yang merah. “Aku punya ide. Tapi aku tidak yakin apakah ide ini bisa membantumu atau tidak.”
Raut wajah Alena kemudian berubah menjadi cerah mendengar ucapan dari Sadewa. “Apa? Apa itu?”
Sadewa kemudian berbisik di telinga Alena dan membuat Alena terkejut ketika mendengar ide itu.
“Kau yakin?” Alena bertanya kepada Sadewa setelah Sadewa menyelesaikan bisikannya.
“Hanya sekitar 50%. Bagaimana? Kau ingin mencobanya?”
Huft. Alena mengembuskan nafasnya untuk memberikan keberanian pada dirinya sendiri dan tidak lama kemudian Alena menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan. “Tidak ada salahnya mencoba.”
“Kalau begitu ... biar aku mengecek beberapa hal lebih dulu sebelum mencoba rencana itu.”
__ADS_1