
Perlombaan dalam
waktu yang cukup singkat itu membuat Alena dan Sadewa untuk sejenak merasa para
hantu di depan mereka bukanlah hantu melainkan manusia yang masih hidup. Canda
dan tawa yang diperlihatkan oleh hantu-hantu gentayangn itu, tidak jauh berbeda
dengan canda dan tawa manusia yang sedang menikmati perlombaan di hari
kemerdekaan. Ketika ada yang jatuh, mereka akan tertawa. Ketika ada yang
bertingkah aneh, mereka akan tertawa. Ketika ada yang curang, mereka akan
berteriak tidak terima.
“Terima kasih, Kakak dan
durawapati.” Tuyul 1 berterima kasih kepada Alena dan Sadwwa ketika perlombaan
berakhir.
“Aku juga ingin berterima kasih,
pada kakak dan pada durawapati.” Tuyul 2 tidak ingin kalah.
“Sama-sama.” Alena tersenyum
membalas ucapan terima kasih yang diterimanya. “Senang jika kalian juga
menikmatinya. Jujur … aku juga sudah lama tidak melihat permainan dan
perlombaan seperti ini.”
“Kenapa? Bukankah di dunia manusia
permainan seperti ini masih sering dimainkan??” Tuyul 2 bertanya.
Alena menggelengkan kepalanya.
“Permainan atau perlombaan seperti ini hanya bisa kulihat setiap tahun sekali, tepatnya
di hari kemerdekaan. Karena perkembangan teknologi dan berbagai macam permainan
digital dari dua dimensi, hingga empat dimensi, permainan seperti ini tidak
lagi menarik anak-anak di dunia manusia.”
“Sayang sekali.” Tuyul 1 dan Tuyul 2
keewa bersamaan. “Padahal permainan ini sangat-sangat menyenangkan.”
“Ya, sayang sekali.” Alena setuju.
“Jadi … “ Sadewa memotong percakapan
Alena dengan Tuyul 1 dan Tuyul 2. “Karena keinginan kalian sudah terkabul,
kalian sudah siap untuk pergi? Tuyul 1? Tuyul 2?”
Tuyul 1 dan Tuyul 2 melihat ke arah
Sadewa dengan mata nanar, pertanda bahwa perpisahan adalah hal yang cukup sulit
bagi dua hantu kecil dengan kepala botak.
“Apakah setelah aku pergi, aku akan
menemukan sesuatu yang menyenangkan di sana, durawpati?” Tuyul 1 bertanya
kepada Sadewa.
“Ya.”
“Apa di sana, aku bisa punya
keluarga seperti anak-anak yang datang ke pemakaman ini, durawapati?” Kali ini,
Tuyul 2 yang bertanya.
“Mungkin ya, mungkin juga tidak.
Tapi kemungkinan besar, ya.”
“Apa di sana, aku bisa punya kakak
yang cantik dan kakak yang tampan seperti kalian berdua?” Tuyul 1 bertanya
dengan melirik Alena.
“Mungkin ya.”
“Apa di sana … aku bisa bermain
__ADS_1
bersama teman-teman seperti tadi?” Tuyul 2 bertanya lagi.
“Mungkin ya.”
Alena melihat ke arah Sadewa yang
sejak tadi memberikan jawaban dengan dimulai dengan kata ‘mungkin’. Alena yang
penasaran kemudian mengajukan pertanyaan kepada Sadewa. “Kenapa kau selalu
menjawab dengan kata mungkin lebih dulu, Sadewa??”
Sadewa menjawab tanpa menoleh ke
arah Alena dan terus menatap ke arah dua tuyul kecil di hadapannya. “Aku tidak
akan berbohong bahkan di depan anak-anak. Aku belum pernah mati dan aku tidak
tahu apa yang akan terjadi setelah kematian. Tapi meski aku tidak tahu … aku
yakin apa yang menunggu di sana bagi anak-anak terutama mereka yang belum
dewasa adalah sesuatu yang mungkin menyenangkan atau membahagiakan. Jika di
dunia ini, banyak anak-anak yang hidup dengan terlantar, maka yang menunggu
mereka setelah kematian adalah keluarga yang menyayangi mereka. Jika di dunia
ini, anak-anak hidup dengan bekerja keras membantu orang tuanya, maka apa yang
menunggu mereka setelah kematian adalah kehidupan hangat dan nyaman.”
Tes … tes …. Tiba-tiba, air mata
Alena jatuh ketika mendengar ucapan Sadewa. Alena tidak menyangka pemikiran
Sadewa akan sedalam itu kepada anak-anak yang meninggal di usia mereka yang
masih anak-anak.
“Durawapati, kami siap pergi!” Tuyul
1 menggandeng tangan Tuyul 2 dan berteriak memberikan keputusan pada Sadewa.
Sadewa tersenyum dan kemudian
menggandeng tangan Tuyul 1 dan Tuyul 2. “Semoga tempat yang kalian datangi setelah ini adalah tempat
Setelah mengatakan hal itu, dari
tubuh Tuyul 1 dan Tuyul 2 muncul cahaya yang sama seperti beberapa hantu yang
selama ini mendapatkan keinginan mereka dan akhirnya pergi ke alam baka.
Seperti biasanya, cahaya itu begitu terang, begitu menyilaukan hingga Alena
tidak bisa membuka matanya untuk melihat. Tapi di saat yang sama, cahaya itu
terasa begitu hangat.
“Kami pergi dulu, Kakak! Kami pergi
dulu, durawapati!” Tuyul 1 dan Tuyul 2 berteriak kepada Alena dan Sadewa
sebelum tubuh mereka yang kecil itu menghilang menjadi pendar-pendar cahaya.
Alena dan Sadewa yang merasa silau
berusaha membuka matanya dan melambaikan tangannya untuk mengucapkan selamat
tinggal pada dua hantu kecil yang akan pergi ke alam baka.
“Selamat jalan, Tuyul 1, Tuyul 2!”
Alena berteriak.
“Selamat jalan dan semoga kalian
menemukan kebahagiaan di sana.” Sadewa mengucapkan salam perpisahan terakhir
dan setelah itu … Tuyul 1 dan Tuyul 2 menghilang seperti Kunti 1 dan beberapa
hantu lain.
*
H-10
Meski sudah mengerjakan tugasnya
dengan baik, Alena menyimpan rasa penasaran untuk Tuyul 1 dan Tuyul 2. Tidak
seperti hantu-hantu sebelumnya, kali ini Alena mengerjakan tugasnya tanpa tahu
__ADS_1
latar belakang dari Tuyul 1 dan Tuyul 2 hingga kedua hantu itu menginginkan hal
yang cukup sederhana sebagai keinginan yang menjebak mereka di pemakaman
Durawa. Alena kali ini mendapatkan bantuan dari Pocong 2 dan mengerjakan tugas terakhirnya dengan cukup
cepat.
Tapi jawaban untuk rasa penasaran
Alena itu, tidak lama kemudian terjawab.
“Kau penasaran dengan cerita Tuyul 1
dan Tuyul 2 sebelum kematian menjemput mereka?”
“Ya, Kakek. Aku penasaran. Jujur,
kali ini aku mengerjakan tugas dengan bantuan dari Pocong 2. Tapi bantuan itu
membuatku melupakan latar belakang Tuyul 1 dan Tuyul 2 sebelum kematian datang
padanya.” Alena merasa sedikit menyesal karena tidak sempat tahu nama dari
Tuyul 1 dan Tuyul 2 ketika mereka masih hidup.
“Ehm … “ Bendara Abinawa meletakkan
kedua tangannya di atas tongkat miliknya dan berpikir sejenak untuk memberikan
jawaban atas rasa ingin tahu Alena. “Jika aku tidak salah ingat, dua hantu
kecil itu pernah menceritakan kehidupan mereka padaku. Beri aku waktu sebentar
untuk mengingatnya … “
Alena menunggu dengan tenang di
samping Bendara Abinawa dan tidak lama kemudian, Bendara Abinawa membuka
mulutnya dan mulai menceritakan kisah dari Tuyul 1 dan Tuyul 2 semasa mereka
hidup sebagai manusia. Tuyul 1 dulunya adalah anak laki-laki bernama Bagus,
sementara Tuyul 2 adalah anak laki-laki bernama Putra. Bagus dan Putra adalah
dua anak laki-laki yang berasal dari panti asuhan yang sama. Keduanya berumur masing-masing tujuh dan lima tahun. Bagus dan Putra bertemu di panti asuhan yang sama
dan dalam waktu singkat langsung menjadi teman baik. Sayangnya … panti asuhan
di mana mereka tinggal adalah panti asuhan yang bisa dikatakan tidak baik.
Pengelola panti asuhan itu mengambil uang donasi untuk panti asuhan yang
harusnya digunakan untuk kebutuhan anak yatim piatu, untuk kepentingan mereka
pribadi. Pengelola panti asuhan sering kali membelikan makanan kadaluwarsa
dengan harga murah dan memberikannya kepada anak-anak yang tinggal di sana.
Tidak berhenti di titik itu saja.
Ketika panti asuhan mulai kehilangan kepercayaan dari para donator mereka, pengelola
panti asuhan kemudian membuat anak-anak yatim piatu yang tinggal di sana,
bekerja dengan mengirim mereka turun ke jalanan untuk mengemis.
Bagus dan Putra adalah satu dari
banyak anak tidak beruntung yang tinggal di panti asuhan mengerikan itu. Makan
makanan yang kadaluawarsa dan juga dipaksa untuk bekerja dengan mengemis di
jalanan, membuat Bagus dan Putra akhirnya jatuh sakit.
Pengelola panti asuhan yang gila
uang itu, telah kehilangan rasa kemanusiaannya dan hanya melihat anak-anak
sebagai sumber uang mereka. Ketika Bagus dan Putra bersama dengan anak-anak
lain jatuh sakit, pengelola panti asuhan mengabaikan hal itu dan justru memberikan
makanan beracun pada anak-anak yang jatuh sakit.
Tes … tes … sekali lagi, Alena
meneteskan air matanya untuk Tuyul 1 dan Tuyul 2.
“Terkadang … manusia itu lebih buruk
dari hantu-hantu di sini.”
__ADS_1