Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: tuyul 1 dan tuyul 2 part 5


__ADS_3

Perlombaan dalam


waktu yang cukup singkat itu membuat Alena dan Sadewa untuk sejenak merasa para


hantu di depan mereka bukanlah hantu melainkan manusia yang masih hidup. Canda


dan tawa yang diperlihatkan oleh hantu-hantu gentayangn itu, tidak jauh berbeda


dengan canda dan tawa manusia yang sedang menikmati perlombaan di hari


kemerdekaan. Ketika ada yang jatuh, mereka akan tertawa. Ketika ada yang


bertingkah aneh, mereka akan tertawa. Ketika ada yang curang, mereka akan


berteriak tidak terima.


            “Terima kasih, Kakak dan


durawapati.” Tuyul 1 berterima kasih kepada Alena dan Sadwwa ketika perlombaan


berakhir.


            “Aku juga ingin berterima kasih,


pada kakak dan pada durawapati.” Tuyul 2 tidak ingin kalah.


            “Sama-sama.” Alena tersenyum


membalas ucapan terima kasih yang diterimanya. “Senang jika kalian juga


menikmatinya. Jujur … aku juga sudah lama tidak melihat permainan dan


perlombaan seperti ini.”


            “Kenapa? Bukankah di dunia manusia


permainan seperti ini masih sering dimainkan??” Tuyul 2 bertanya.


            Alena menggelengkan kepalanya.


“Permainan atau perlombaan seperti ini hanya bisa kulihat setiap tahun sekali, tepatnya


di hari kemerdekaan. Karena perkembangan teknologi dan berbagai macam permainan


digital dari dua dimensi, hingga empat dimensi, permainan seperti ini tidak


lagi menarik anak-anak di dunia manusia.”


            “Sayang sekali.” Tuyul 1 dan Tuyul 2


keewa bersamaan. “Padahal permainan ini sangat-sangat menyenangkan.”


            “Ya, sayang sekali.” Alena setuju.


            “Jadi … “ Sadewa memotong percakapan


Alena dengan Tuyul 1 dan Tuyul 2. “Karena keinginan kalian sudah terkabul,


kalian sudah siap untuk pergi? Tuyul 1? Tuyul 2?”


            Tuyul 1 dan Tuyul 2 melihat ke arah


Sadewa dengan mata nanar, pertanda bahwa perpisahan adalah hal yang cukup sulit


bagi dua hantu kecil dengan kepala botak.


            “Apakah setelah aku pergi, aku akan


menemukan sesuatu yang menyenangkan di sana, durawpati?” Tuyul 1 bertanya


kepada Sadewa.


            “Ya.”


            “Apa di sana, aku bisa punya


keluarga seperti anak-anak yang datang ke pemakaman ini, durawapati?” Kali ini,


Tuyul 2 yang bertanya.


            “Mungkin ya, mungkin juga tidak.


Tapi kemungkinan besar, ya.”


            “Apa di sana, aku bisa punya kakak


yang cantik dan kakak yang tampan seperti kalian berdua?” Tuyul 1 bertanya


dengan melirik Alena.


            “Mungkin ya.”


            “Apa di sana … aku bisa bermain

__ADS_1


bersama teman-teman seperti tadi?” Tuyul 2 bertanya lagi.


            “Mungkin ya.”


            Alena melihat ke arah Sadewa yang


sejak tadi memberikan jawaban dengan dimulai dengan kata ‘mungkin’. Alena yang


penasaran kemudian mengajukan pertanyaan kepada Sadewa. “Kenapa kau selalu


menjawab dengan kata mungkin lebih dulu, Sadewa??”


            Sadewa menjawab tanpa menoleh ke


arah Alena dan terus menatap ke arah dua tuyul kecil di hadapannya. “Aku tidak


akan berbohong bahkan di depan anak-anak. Aku belum pernah mati dan aku tidak


tahu apa yang akan terjadi setelah kematian. Tapi meski aku tidak tahu … aku


yakin apa yang menunggu di sana bagi anak-anak terutama mereka yang belum


dewasa adalah sesuatu yang mungkin menyenangkan atau membahagiakan. Jika di


dunia ini, banyak anak-anak yang hidup dengan terlantar, maka yang menunggu


mereka setelah kematian adalah keluarga yang menyayangi mereka. Jika di dunia


ini, anak-anak hidup dengan bekerja keras membantu orang tuanya, maka apa yang


menunggu mereka setelah kematian adalah kehidupan hangat dan nyaman.”


            Tes … tes …. Tiba-tiba, air mata


Alena jatuh ketika mendengar ucapan Sadewa. Alena tidak menyangka pemikiran


Sadewa akan sedalam itu kepada anak-anak yang meninggal di usia mereka yang


masih anak-anak.


            “Durawapati, kami siap pergi!” Tuyul


1 menggandeng tangan Tuyul 2 dan berteriak memberikan keputusan pada Sadewa.


            Sadewa tersenyum dan kemudian


menggandeng tangan Tuyul 1 dan Tuyul 2. “Semoga tempat  yang kalian datangi setelah ini adalah tempat


            Setelah mengatakan hal itu, dari


tubuh Tuyul 1 dan Tuyul 2 muncul cahaya yang sama seperti beberapa hantu yang


selama ini mendapatkan keinginan mereka dan akhirnya pergi ke alam baka.


Seperti biasanya, cahaya itu begitu terang, begitu menyilaukan hingga Alena


tidak bisa membuka matanya untuk melihat. Tapi di saat yang sama, cahaya itu


terasa begitu hangat.


            “Kami pergi dulu, Kakak! Kami pergi


dulu, durawapati!” Tuyul 1 dan Tuyul 2 berteriak kepada Alena dan Sadewa


sebelum tubuh mereka yang kecil itu menghilang menjadi pendar-pendar cahaya.


            Alena dan Sadewa yang merasa silau


berusaha membuka matanya dan melambaikan tangannya untuk mengucapkan selamat


tinggal pada dua hantu kecil yang akan pergi ke alam baka.


            “Selamat jalan, Tuyul 1, Tuyul 2!”


Alena berteriak.


            “Selamat jalan dan semoga kalian


menemukan kebahagiaan di sana.” Sadewa mengucapkan salam perpisahan terakhir


dan setelah itu … Tuyul 1 dan Tuyul 2 menghilang seperti Kunti 1 dan beberapa


hantu lain.


*


            H-10


            Meski sudah mengerjakan tugasnya


dengan baik, Alena menyimpan rasa penasaran untuk Tuyul 1 dan Tuyul 2. Tidak


seperti hantu-hantu sebelumnya, kali ini Alena mengerjakan tugasnya tanpa tahu

__ADS_1


latar belakang dari Tuyul 1 dan Tuyul 2 hingga kedua hantu itu menginginkan hal


yang cukup sederhana sebagai keinginan yang menjebak mereka di pemakaman


Durawa. Alena kali ini mendapatkan bantuan dari Pocong 2  dan mengerjakan tugas terakhirnya dengan cukup


cepat.


            Tapi jawaban untuk rasa penasaran


Alena itu, tidak lama kemudian terjawab.


            “Kau penasaran dengan cerita Tuyul 1


dan Tuyul 2 sebelum kematian menjemput mereka?”


            “Ya, Kakek. Aku penasaran. Jujur,


kali ini aku mengerjakan tugas dengan bantuan dari Pocong 2. Tapi bantuan itu


membuatku melupakan latar belakang Tuyul 1 dan Tuyul 2 sebelum kematian datang


padanya.” Alena merasa sedikit menyesal karena tidak sempat tahu nama dari


Tuyul 1 dan Tuyul 2 ketika mereka masih hidup.


            “Ehm … “ Bendara Abinawa meletakkan


kedua tangannya di atas tongkat miliknya dan berpikir sejenak untuk memberikan


jawaban atas rasa ingin tahu Alena. “Jika aku tidak salah ingat, dua hantu


kecil itu pernah menceritakan kehidupan mereka padaku. Beri aku waktu sebentar


untuk mengingatnya … “


            Alena menunggu dengan tenang di


samping Bendara Abinawa dan tidak lama kemudian, Bendara Abinawa membuka


mulutnya dan mulai menceritakan kisah dari Tuyul 1 dan Tuyul 2 semasa mereka


hidup sebagai manusia. Tuyul 1 dulunya adalah anak laki-laki bernama Bagus,


sementara Tuyul 2 adalah anak laki-laki bernama Putra. Bagus dan Putra adalah


dua anak laki-laki yang berasal dari panti asuhan yang sama. Keduanya berumur  masing-masing  tujuh dan lima tahun. Bagus dan Putra bertemu di panti asuhan yang sama


dan dalam waktu singkat langsung menjadi teman baik. Sayangnya … panti asuhan


di mana mereka tinggal adalah panti asuhan yang bisa dikatakan tidak baik.


Pengelola panti asuhan itu mengambil uang donasi untuk panti asuhan yang


harusnya digunakan untuk kebutuhan anak yatim piatu, untuk kepentingan mereka


pribadi. Pengelola panti asuhan sering kali membelikan makanan kadaluwarsa


dengan harga murah dan memberikannya kepada anak-anak yang tinggal di sana.


            Tidak berhenti di titik itu saja.


Ketika panti asuhan mulai kehilangan kepercayaan dari para donator mereka, pengelola


panti asuhan kemudian membuat anak-anak yatim piatu yang tinggal di sana,


bekerja dengan mengirim mereka turun ke jalanan untuk mengemis.


            Bagus dan Putra adalah satu dari


banyak anak tidak beruntung yang tinggal di panti asuhan mengerikan itu. Makan


makanan yang kadaluawarsa dan juga dipaksa untuk bekerja dengan mengemis di


jalanan, membuat Bagus dan Putra akhirnya jatuh sakit.


            Pengelola panti asuhan yang gila


uang itu, telah kehilangan rasa kemanusiaannya dan hanya melihat anak-anak


sebagai sumber uang mereka. Ketika Bagus dan Putra bersama dengan anak-anak


lain jatuh sakit, pengelola panti asuhan mengabaikan hal itu dan justru memberikan


makanan beracun pada anak-anak yang jatuh sakit.


            Tes … tes … sekali lagi, Alena


meneteskan air matanya untuk Tuyul 1 dan Tuyul 2.


            “Terkadang … manusia itu lebih buruk


dari hantu-hantu di sini.”

__ADS_1


__ADS_2