
Buk!
Setelah mungkin dua hai lamanya mengejar Pocong 2 ke manapun pergi dan menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali, kali ini Alena yang kelelahan berlari menabrak hantu kepala buntung dan membuat kepala milik hantu itu menggelinding.
“Ah, maafkan aku!! Aku yang salah karena berlari dan melihat ke atas!!” Alena langsung mengatakan maaf sembari bergidik ketakutan melihat hantu yang bagian tubuhnya terpisah.
“Itu tidak masalah! Hanya saja ... tolong bantu tubuhku menemukan kepalaku!!”
Alena mendengar teriakan dari kepala hantu kepala buntung yang menggelinding ke sisi lain dari tubuhnya. Alena masih merasa takut dengan hantu di hadapannya itu tapi ... Sadewa selalu menekankan satu hal padanya sejak terjebak di pemakaman Durawa ini dan Alena selalu ingat pesan itu.
“Jangan pernah menunjukkan rasa takutmu pada mereka, Alena! Menunjukkan rasa takutmu, hanya akan membuat mereka merasa senang dan terus menakutimu! Lawan rasa takutmu dan mereka tidak akan terlihat menakutkan di matamu!”
Awalnya ... Alena merasa ucapan itu terdengar mudah. Tapi sama seperti pepatah bahwa tindakan tidak semudah ucapan, apa yang dikatakan Sadewa itu sama sekali tidak mudah. Seringkali Alena masih merasa takut dan bergidik ngeri melihat senyuman yang muncul di wajah para hantu, ditambah lagi banyak hantu yang memiliki wajah yang rusak parah dan memiliki abu tubuh yang mengerikan. Apa yang Sadewa ucapkan memang tidak mudah, tapi ... perlahan Alena mulai terbiasa.
Hanya saja ... hantu kepala buntung adalah satu dari beberapa hantu yang jarang muncul di depan Alena dan berinteraksi dengan Alena. Jadi ... Alena masih belum terbiasa dengan hantu kepala buntung terutama bagian tubuhnya yang terpisah.
“Permisi, aku akan menyentuhmu dan menuntun tubuhmu.”
“Ya, silakan.”
Alena kemudian bergerak mendekat ke arah tubuh hantu kepala buntung dan menuntun tubuh itu mendekat ke arah kepalanya yang tadi menggelinding karena bertabrakan dengan Alena.
“Terima kasih banyak.” Hantu kepala buntung meletakannya kepalanya di atas lehernya seolah merasakan Alena sedang sedikit ketakutan melihat dirinya.
“Ini juga salahku. Jadi sudah seharusnya ... aku membantu. Sekali lagi, aku minta maaf.” Alena bicara dengan nada menyesal.
“Kenapa berlari dan melihat ke atas?” Hantu kepala buntung bertanya kepada Alena.
“Mencari Pocong 2.”
__ADS_1
“Ahhh ... jadi gosip itu memang benar adanya. Kau mengejar Pocong 2 ke sana kemari untuk mengabulkan keinginannya.”
Alena mengerutkan keningnya. “Gosip? Dari para hantu wanita?”
Hantu kepala buntung tidak menganggukkan kepalanya karena kepalanya yang hanya diletakkan di atas lehernya. Gerakan anggukan kepala hanya akan membuat kepala itu jatuh dan menggelinding lagi ke tanah. Dan jika hal itu terjadi, maka hantu kepala buntung sendiri yang akan merasa kesulitan untuk menemukan kepalanya sendiri. Sebagai ganti dari anggukan kepala, hantu kepala buntung menggunakan kedipan mata sebagai tanda setuju atau benar.
“Itu benar.” Hantu kepala buntung mengedipkan matanya dua kali sebagai ganti anggukan kepala. “Gosip yang dikelola para hantu wanita cukup luas, bahkan ada beberapa gosip tentang hantu-hantu dari bagian makam Cina yang menjaga jaraknya dengan hantu-hantu pribumi.”
“Aaahhhh ... “ Alena menganggukkan kepalanya paham. Komunitas yang cukup hebat. Haruskah aku bertanya ke sana mengenai Pocong 2, mengingat keinginan dari Pocong 2 tidak tertulis dalam buku lama peninggalan dari kakek buyut Sadewa? Tapi ... aku rasa itu bukan ide buruk setelah aku mengejar-ngejar Pocong 2 bak stalker yang tergila-gila padanya.
“Coba saja bertanya ke sana, daripada kau membuang tenagamu berlari ke sana kemari mengejar Pocong 2 yang selalu sendiri dan menyukai ketenangan.” Hantu kepala buntung sepertinya membaca raut wajah Alena hingga dapat membaca apa yang dipikirkannya saat ini.
“A-aku akan mencobanya. Kurasa itu bukan ide yang buruk.” Alena mencoba tersenyum meski dirinya masih merasa takut dengan hantu kepala buntung di hadapannya saat ini.
"Aku akan merasa senang jika bisa membantu.”
Alena berkeliling selama beberapa menit dan menemukan sekumpulan hantu wanita sedang duduk berkumpul bersama. Alena tersenyum melihat mereka dan tahu apa yang sedang mereka lakukan.
“Hai manusia ... apa yang kau lakukan di sini?” Sundel 1 bertanya kepada Alena.
“Aku datang karena hantu kepala buntung menyuruhku datang kemari.”
“Hantu kepala buntung menyuruhmu datang kemari??” Sundel 1 bicara dengan nada tidak percaya. “Wahhh .... jarang sekali ini terjadi. Hantu kepala buntung biasanya adalah hantu yang tidak ikut campur dengan urusan hantu lain kecuali jika menerima perintah dari Durawapati.”
“Apa ini mengenai keinginan dari Pocong 2 yang membuatmu mengejar-ngejarnya selama beberapa hari ini?” Sundel 2 mencoba menebak tujuan Alena.
Alena menganggukkan kepalanya. “Ya, karena itu.”
“Kami tahu apa yang kau inginkan. Tapi ... tidak ada yang gratis untuk itu.” Sundel 1 bicara lagi kepada Alena.
__ADS_1
“Selama bukan nyawaku ... aku akan melakukan apa yang kalian minta.” Alena melihat ke arah Sundel 1, Sundel 2, Sundel 3, Sundel 4, Kunti 3 dan Kunti 4 yang sedang duduk lesehan bersama.
Mendengar ucapan dari Alena, Sundel 1 bersama dengan hantu wanita lain mulai saling berbisik satu lain selama beberapa saat. Mereka semua kemudian tersenyum dan membuat Alena bergidik ketika telah mencapai kesepakatan untuk harga dari permintaan Alena.
“A-apa yang akan kalian minta?” Alena mencoba bertanya meski firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk.
Sundel 1 melambaikan tangannya kepada Alena sebagai isyarat untuk mendekat ke arahnya. Alena mendekat dan kemudian Sundel 1 berbisik kepada Alena.
“I-itu sepertinya akan sulit.” Alena menggelengkan kepalanya ketika Sundel 1 selesai berbisik di telinganya.
“Terserah.” Sundel 1 memberikan keputusan kepada Alena. “Jika kau ingin mengetahui keinginan dari Pocong 2, kau mau melakukan apa yang kami atau tidak. Ada barang, ada harga. Tidak ada yang gratis. Bahkan kalian para manusia juga selalu menggunakan prinsip itu.”
“I-itu memang benar.” Alena menjawab dengan wajah ragu-ragu mengingat permintaan yang diajukan oleh sekelompok hantu wanita itu menyangkut Sadewa. Alena sudah menduga akan hal itu tapi Alena benar-benar tidak menyangka sekumpulan hantu wanita itu akan benar-benar meminta hal itu pada dirinya.
“Sadewa!!!!” Alena berteriak dengan senyuman manis ketika melihat Sadewa yang sedang berkeliling di pemakaman Durawa. Alena berlari menghampiri Sadewa dan membuat Sadewa merasakan firasat buruk ketika melihat kedatangannya.
“Ada apa dengan senyumanmu itu?” Sadewa otomatis berjalan mundur melihat senyuman Alena.
“Aku butuh bantuanmu lagi, Sadewa.” Alena langsung bicara tanpa basa basi.
Bibir Sadewa naik ke atas. “Lagi?? Kali ini bantuan apa lagi??”
Alena mendekat ke arah Sadewa dan kemudian berbisik. Tidak lama kemudian ...
“Tidak!!!! Aku tidak mau!!!!” Sadewa langsung memberikan penolakan untuk permintaan Alena dan menjauh dari Alena.
Melihat Sadewa menjauh, Alena spontan langsung memeluk kaki Sadewa dan berusaha menghentikan Sadewa yang hendak pergi. “Ayolahh, Sadewa!! Bantu aku lagi!!! Hanya kau yang bisa membantuku!!”
Sadewa melihat tajam ke arah Alena dengan wajah kesal. Satu pertanyaan kemudian muncul di benak Sadewa ketika melihat kelakuan Alena saat ini. Sejak kapan kami sedekat ini?? Huft, aku tidak pernah menyangka akan dekat dengan wanita karena hal-hal absurd di pemakaman ini. Tapi ... kedekatan ini harusnya tidak akan bertahan lama.
__ADS_1