SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 10 : Pendekatan


__ADS_3

Sofia menatap manik Reza dengan sangat tajam, meski kini kedua netranya tampak merah. Emosi bercampur khawatir kian memancar dari sorot manik indah itu. Lengannya melingkar pada pundak Nino, begitu erat.


Wanita itu tampak menghela napas panjang, sebelum akhirnya bersuara, “Dia, putraku. Dia anakku! Aku yang mengandung, melahirkan dan membesarkannya! Aku sudah menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian kita!” tegas Sofia dengan suara dinginnya.


Seketika mulut Reza menganga, matanya membulat dengan sempurna. Hendak meraih tangan Sofia dan meminta penjelasan, dering ponsel Sofia menghentikannya.


"Assalamu’alaikum, Mas Tama, kenapa?” tanya Sofia setelah mengangkat panggilan tersebut. Lalu sedikit menjauh.


Sesak, dada Reza terasa sesak ketika mendengar Sofia menyebutkan nama pria lain dengan sangat lembut. Jauh berbeda saat berbicara dengannya. Rasa cemburu semakin menanjak dalam tubuhnya.


‘Cerai? Tidak, aku tidak akan menceraikan kamu, Sofia!’ batin Reza bergejolak.


Masih bergelut dengan pergolakan batinnya, sentuhan di telapak tangannya menyadarkan Reza. Ia menunduk, Nino menggenggam jari jemarinya hingga mau tak mau pria itu berjongkok untuk menyamakan tingginya, mensejajari bocah cilik itu.


“Om, maafin Nino ya. Gara-gara Nino, Om jadi kesakitan. Nino nggak tahu kalau mama mengenal Om. Mama selalu mengingatkan agar jangan pernah dekat dengan orang asing. Apalagi dengan iming-iming kayak tadi,” tutur Nino mengakui kesalahannya.


Getaran di dada Reza semakin kuat. Matanya berkaca-kaca menatap wajah polos yang begitu mirip dengan Sofia.


Apalagi, pernyataan maaf dari anak sekecil Nino, tentu mampu menamparnya. Ia merasa malu, bocah sekecil itu mau mengakui kesalahan dan langsung meminta maaf. Ada hasrat untuk memeluk anak itu. Tetapi Reza tidak berani.


“Om akan memaafkan kamu. Tapi dengan satu syarat!” Reza menaikkan jari telunjuknya. Ia ingin semakin mengenal Nino. Harapannya begitu besar, ingin memperbaiki hubungan dengan Sofia.

__ADS_1


“Apa itu, Om?” tanya Nino penasaran.


Reza menepuk kedua lengan Nino dengan perlahan, tersenyum meski sembari meringis kesakitan. “Nino harus mau makan siang bersama Om! Gimana?” tawar Reza.


“Nino harus tanya mama dulu, Om,” sahut Nino cepat menghampiri mamanya yang baru saja memasukkan ponselnya ke dalam tas.


“Ma, Nino boleh makan siang sama Om itu, Ma?” izin Nino menunjuk Reza.


Sofia melirik ke arah Reza. Masih dengan tatapan yang tajam. Meski Reza mengurai senyum untuknya.


“Tidak, Sayang. Kamu lupa, harus latihan biola. Bentar lagi acara House Concer akan digelar. Kamu mau beramal ‘kan, Sayang?” Sofia mengingatkan dengan suara lembutnya.


Nino menepuk keningnya, “Ooiya! Nino lupa, Ma.”


“Oh ya? Di mana? Boleh Om ikut?” Reza luluh, nada bicaranya mulai bersahabat.


Nino menoleh pada Sofia, “Ma! Konsernya di mana? Om mau ikut boleh?”


Sofia menyeka air matanya dengan cepat melihat interaksi mereka. Tidak ingin memperlihatkan kesedihan yang memupuk di hatinya.


“Enggak! Ayo! Mama harus segera kembali. Ada kerjaan mendesak, Sayang,” tolak Sofia tegas. Lalu beralih menatap Reza, “Jangan pernah ganggu kehidupanku lagi! Sudah cukup. Kisah kita berakhir!” tandasnya dengan suara lirih namun penuh penekanan.

__ADS_1


Buru-buru Sofia membawa Nino pergi meninggalkan Reza. Ia takut ketika dua lelaki itu semakin dekat. Takut jika suatu hari nanti, Reza akan merebut buah hatinya. Tidak, Sofia tidak akan siap. Nino, satu-satunya alasan ia hidup.


Sepanjang perjalanan, Sofia hanya diam. Dadanya masih bergemuruh dipenuhi kekhawatiran. Ia berusaha fokus menyetir hingga sampai di tempat les biolanya selama ini.


“Sayang, kalau udah selesai langsung hubungi Mama ya. Jangan kemana-mana sebelum Mama jemput!” ucap Sofia mencium kening Nino lalu segera turun.


“Iya, Ma. Hati-hati!” Nino turun dari mobil membawa benda kesayangannya. Melambaikan tangan hingga mobil Sofia menghilang dari pandangannya.


Tak lama kemudian, di depan Nino berhenti mobil yang berbeda. Nino mengabaikannya, segera berbalik dan berlari kecil masuk ke studio.


“Nino tunggu!” teriak Reza ikut berlari menyusul.


“Loh, Om?” sapa Nino menautkan alisnya, ia tidak tahu nama lelaki itu.


Reza tersenyum lebar, ia begitu bersemangat. “Om ikut ya.”


“Memangnya Om nggak sibuk apa?”


“Eng ... enggak!” sahutnya ragu, walau dalam dadanya berdebar karena meninggalkan pekerjaan. Bahkan ia tidak tahu bagaimana nasib pekerjaannya kelak, untuk saat ini, hati kecilnya terus meronta, ingin semakin dekat dengan Nino.


“Baiklah! Ayo, Om! Nanti aku kenalin guru lesku,” ajak Nino memimpin jalan.

__ADS_1


"Yess!" sorak Reza yang tentu hanya dalam hatinya.


Bersambung~


__ADS_2