
“Mama ya? Emm ... kita makan dulu aja yuk. Kamu belum makan siang loh karena minta buru-buru pulang,” ucap Tama mengulur waktu.
"Enggak, Om. Aku mau ketemu mama,” tegas Nino.
Tama menghela napas berat, “Baiklah, Om telepon mama dulu,” ujarnya menepikan kendaraannya di jalur yang aman.
Pria itu segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Sofia. Menunggu selama beberapa saat, hingga terdengar suara lembut Sofia di ujung telepon.
“Sofia, Nino ingin ketemu. Kamu di mana?” tanya Tama.
“Baru mau pulang, Mas. Ketemu di Restoran aj\=\=\=\=a ya, deket kantor aku.”
“Baik. Aku tunggu di sana. Hati-hati,” ucap Tama mematikan sambungan telepon dan melanjutkan perjalanan.
Tama menoleh sekilas pada Nino, “Mama bilang, ketemu di restoran deket kantor mama. Nggak apa-apa ‘kan?”
“Iya, Om. Terima kasih,” sahut Nino mengangguk sopan.
\=\=\=ooo\=\=\=
Nino melenggang dalam genggaman Tama, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran, karena mereka sudah melihat mobil Sofia yang terparkir di pelataran.
__ADS_1
“Nino!” panggil Sofia beranjak sembari melambaikan tangan.
Nino segera melepas genggaman tangannya, berlari kecil menghampiri mamanya. Ia mencium punggung tangan wanita surganya itu lalu memeluknya erat.
“Gimana acaranya, Sayang? Lancar?” tanya Sofia membelai puncak kepala putranya.
“Alhamdulillah, dibantu Om Tama semua lancar, Ma,” sahut bocah lelaki itu mendongak, menampilkan senyum lebarnya.
“Baiklah, Mama udah pesen makanan kesukaan Nino. Makan dulu ya,” ujar Sofia menarik kursi untuk putranya.
Tama turut bergabung di meja mereka. Berbagai makanan sudah terhidang. Sofia sengaja memesan terlebih dahulu, agar ketika mereka tiba, bisa langsung segera makan.
“Mulai besok, Nino dijadwalkan datang ke perusahaan setiap jam 8 sampai jam 12, Sof. Kalau kamu enggak sempat mengantar, bisa sama aku. Kita ‘kan searah,” ujar Tama menawarkan setelah mereka selesai menyantap makan siang.
“Bagaimana sidang ceraimu?”
Sofia menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara. “Mas Reza nggak hadir di persidangan. Sidang ditunda minggu depan. Yaudah kalau begitu, aku pamit dulu y, Mas,” tutur Sofia mengajak Nino beranjak.
“Memangnya papa ke mana, Ma?” Nino bertanya saat nama sang ayah disebut.
“Enggak tahu, Sayang. Ikut Mama ke kantor sebentar ya. Ada yang harus Mama cek,” jawab wanita itu melangkah menuju mobil.
__ADS_1
Setelah sampai di kantor, Sofia segera masuk ruangannya. Nino mengekorinya, sesekali menjawab sapaan para karyawan yang mengenalnya.
“Nino, istirahat aja ya.” Sofia menghempaskan tasnya di meja. Duduk di kursi putarnya sembari menyalakan seperangkat komputer.
“Mau bantu Mama aja. Sini Nino yang cek di komputer, Mama yang cek dokumen.”
Tak bisa menolak permintaan putranya yang selalu kekeh membantu meringankan pekerjaannya. Sofia pun mengalah, ia mengambil satu kursi lagi dan merapatkan di sebelahnya.
Dua ibu dan anak itu tampak serius. Bahkan selama dua jam mereka tak beranjak sedikit pun. Kening Nino mengernyit dalam ketika membuka sebuah surel dari perusahaan iklan.
“Ma! Ada peringatan dari Perusahaan Axiata. Katanya produk terbaru yang dikirim merupakan plagiat! Komposisi, tekstur bahkan kemasannya juga, Ma,” seru Nino.
Sofia terperanjat, ia segera mendekat dan membaca detail email tersebut. “Apa? Bagaimana bisa?” seru Sofia terkejut.
Di tengah keterkejutan mereka, terdengar suara ketukan pintu. “Masuk!” seru Sofia mempersilakan. Pandangannya masih terfokus pada layar komputernya.
"Permisi, Bu. Ini tehnya,” ucap salah seorang office boy meletekkan dua cangkir teh di meja Sofia.
Suara yang familier, membuat Sofia dan Nino menoleh serentak. “Papa!” pekik Nino beranjak dan langsung berlari memeluk lelaki itu.
“Mas Reza?” lirih Sofia menautkan alisnya, menatap Reza yang mengenakan seragam cleaning service di kantor tersebut.
__ADS_1
Bersambung~