SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 36 : Lamaran


__ADS_3

Reza menatap nyalang, para warga itu satu per satu. Deru napasnya berembus dengan kasar. Ia meraih pergelangan tangan Sofia cukup kuat. “Baik! Silakan siapkan tempat, penghulu dan saksinya! Kami akan segera bersiap!” tegas Reza menatap tajam lalu menarik lengan Sofia untuk masuk ke rumah.


“Eh! Tunggu! Kami harus ikut masuk. Untuk memastikan kalian tidak akan kabur dan membawa sial kompleks sini!” teriak salah satu ibu-ibu yang melotot tajam.


Sofia masih syok mendapat serangan tak terduga seperti itu. Ia sampai tidak bisa berucap, dadanya terasa sesak karena menahan emosi yang nyaris meledak.


“Silakan! Tenang saja, kami tidak akan melarikan diri!” sanggah Reza melenggang masuk dan meminta satpam untuk membuka pintu gerbang. Ia berjalan tanpa melepas genggaman tangannya. Berhenti sejenak, ketika berpapasan dengan Nino, mengusap wajah penuh khawatir itu sembari tersenyum lembut. “Nino di rumah dulu ya,” pintanya menunduk.


“Tapi, Pa....” Nino mendongak dengan mata berkaca-kaca. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan mamanya.


“Tenang aja, Sayang. Sekarang saatnya akan jagain Mama. Kamu mau ‘kan kita berkumpul?” tukas Reza menunduk dan berbisik di telinga Nino. Bocah itu mengangguk tanpa suara. “Yaudah, sekarang masuk dan istirahat ke kamar ya,” titah Reza mengusap puncak kepala Nino.


Mereka bertiga berjalan pelan memasuki rumah. Tubuh Sofia masih gemetar hebat, hatinya berkecamuk luar biasa. Napasnya berembus tak beraturan. Ia bahkan mengabaikan Nino yang kini juga digandeng oleh Reza.

__ADS_1


“Sof,” panggil Reza usai mereka menutup pintu kamar Nino.


Sofia menoleh, manik matanya yang basah kini bersitatap dengan netra tegas Reza. Ia masih tak bersuara sejak tadi.


“Izinkan aku menjadi suami yang baik. Aku benar-benar menyesal atas semua sikap burukku selama kita bersama. Aku akan menebus semuanya mulai sekarang. Sejak kamu pergi, aku benar-benar merasa kehilangan separuh napasku, Sofia. Aku terlalu mudah dihasut oleh lingkungan sekitar yang terus menyudutkanmu,” papar Reza menumpukan tangan pada jemari lentik wanita itu.


“Tapi sekarang, aku sudah meninggalkan semuanya. Aku sudah janji pada diriku sendiri, untuk memperjuangkanmu ketika kita diberi kesempatan bertemu lagi. Bisakah kita mengulang akad lagi?” Napas Reza berembus berat, ia menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. Lalu menyeka air mata Sofia yang masih berjatuhan.


“Aku ingin mengucap janji suci di hadapan Allah, yang telah lama aku lalaikan. Maukah kamu berjalan di sampingku, menggapai pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah, bersama buah hati kita? Aku mencintaimu, Sofia,” tutur Reza menarik tangan Sofia dan mencium punggung tangannya lama.


Derap langkah kaki yang memasuki rumah, disertai suara-suara bising membuat Sofia menarik kesadarannya. Ia hendak melepas tangannya, tapi tidak bisa. Wajahnya yang memerah tidak berani menatap Reza.


“Sofia, ayo kita menikah lagi. Meski tidak pernah terucap kata talak, tapi aku sudah terlalu lama tidak memberikan nafkah lahir dan batin untukmu. Sungguh, selama ini tidak pernah ada yang mampu menggeser namamu di hatiku, Sofia,” ajak Reza dengan tutur kata lembutnya. Hingga membuat detak jantung Sofia meningkat berkali-kali lipat.

__ADS_1


Reza menggigit bibir bawahnya, was-was menunggu jawaban dari Sofia. Mungkin inilah saat yang tepat.


Wanita itu menelan salivanya gugup. Meski sering mendengar lamaran spontan dari Tama, tetapi ini terdengar berbeda. Mampu membuat gelombang di dadanya hingga membuncah. Apalagi, ini adalah lamaran yang pertama kalinya. Mengingat, dulu mereka menikah secara paksa. “Iya, Mas. Aku mau,” ungkap Sofia mengangguk.


Hati Reza berbunga-bunga, hingga teriakan menggema di ruang tamu. Ada penghulu, perwakilan warga, Ketua RT dan .... Yani.


“Mana tuh ****** tidak tahu malu? Cih, sok sok an berhijab tapi kelakuan setan!” cibir wanita itu memancing keributan.


Beberapa waktu berlalu, Sofia dan Reza menuruni anak tangga sembari bergandengan tangan. Sofia sudah terlihat lebih segar, bahkan kesedihan yang merundungnya sedari tadi kini berganti dengan senyum kebahagiaan.


Manik Yani seketika membelalak dengan lebar. Betapa terkejutnya Yani ketika melihat laki-laki yang bersama Sofia adalah Reza, putranya sendiri.


 

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2