SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 17 : Kelas Akselerasi


__ADS_3

“Mas?” seru Sofia melebarkan manik matanya.


Tama gelagapan, refleks mengulum bibirnya kuat-kuat karena keceplosan bicara. Senyum pun terurai dari bibirnya, menatap ibu dan anak di belakangnya. “Maaf, bercanda, Sofia,” gumam lelaki itu kembali fokus menyetir.


Dia paling takut membuat pujaan hatinya meradang. Karena Sofia, tipe orang yang puncak kemarahannya adalah diam. Bagi Tama, diamnya Sofia lebih menyakitkan dari pada diomeli.


“Memang bisa, Om?” tanggap Nino meregangkan pelukan.


“Enggak, Sayang. Om bercanda,” sahut Sofia dengan cepat. Wanita itu benar-benar membekukan hatinya. Tidak mudah disentuh siapa pun, trauma itu masih mengakar kuat di hatinya.


‘Huft! Harus gimana lagi aku, Sofia,’ desah Tama dalam hati.


“Oh ya, Sof. Ada yang tertarik dengan Nino. Ingin mengajaknya kerja sama di label rekaman mereka. Perusahaan besar ini, tinggal terima bersih, untuk pemasaran, hak cipta, proses rekam, semua diurus major label mereka. Gimana? Tertarik nggak?” tawar Tama.


Sofia terdiam, ia menatap putranya sembari berpikir. Mata jernih itu terlihat berbinar dengan senyum yang begitu manis.


“Tidak, Mas. Aku hanya ingin sekedar memberikan wadah untuk menyalurkan hobi Nino. Tujuanku bukan untuk memperkerjakannya! Aku masih mampu memberinya nafkah. Itu namanya eksploitasi anak, Mas,” tegas Sofia memeluk putranya.


“Ma, Nino seneng kok, apa pun yang berhubungan dengan biola. Sama sekali nggak keberatan.” Nino mencoba merayu mamanya. Karena impiannya ingin membuat sang mama bangga.


“Nah, Nino aja seneng kok. Jadi bukan eksploitasi, Sof. Nanti bisa dibuatin single, atau bahkan album kolaborasi dengan para artis terkenal. Nino, kamu akan jadi superstar!” teriak Tama di ujung ucapannya.


Masih tampak berat hati, Sofia menatap putranya yang berbinar penuh harap. Ia tidak tega mematahkan semangat buah hatinya. “Nanti sekolah kamu gimana, Sayang?”


“Tenang aja, Sof. Dari perusahaan itu, bakal difasilitasi home schooling. Kalau masih mau belajar di sekolah lama pun nggak masalah, tapi untuk mengejar ketertinggalan, ada les privat juga untuknya. Lagi pula dia cerdasnya sama kaya kamu. Ini kesempatan emas sih menurutku. Karena Nino bakal jadi pelopor violin cilik untuk pertama kalinya. Aku yakin bakal meledak di pasaran, Sof,” papar Tama yang sudah memahami pengajuan kerja sama tersebut.


“Mmm ... aku pikir-pikir aja dulu. Aku nggak mau Nino tertekan dan kelelahan,” sahut Sofia.


“Baiklah, aku tunggu kabar baiknya. Kalau sudah ambil keputusan, segera kabari aku.”


“Mas, terima kasih banyak atas semuanya,” ucap wanita itu.


“Jangan sungkan, Sofia.” Tama mengembuskan napas lega. Meski raut wajah itu masih datar seperti biasa.

__ADS_1


\=\=\=\=ooo\=\=\=\=


“Nino mana, Bi?” tanya Sofia ketika tidak melihat putranya di meja makan. Padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul 06.30.


“Sepertinya selepas salat subuh, Den Nino tidur lagi, Bu,” sahut Bi Sri yang sudah beberapa tahun bekerja di rumah tersebut.


“Kok tumben?” Sofia mengerutkan keningnya. Mengurungkan niat untuk duduk di kursi yang sudah ia tarik.


Hari ini memang libur sekolah, hanya wali murid yang hadir untuk mengambil rapor kenaikan kelas. Setelah dua hari kembali dari Jakarta, Nino hanya berdiam diri di rumah. Sambil mengutak-atik laptopnya.


“Nino, Mama masuk ya,” ucap Sofia menyentuh gagang pintu.


“Iya, Ma,” sahut Nino dengan suara serak.


Khawatir terjadi sesuatu, Sofia segera mendorong pintu dan melenggang dengan cepat. Terkejut ketika putranya bergelung di bawah selimut tebal.


“Nino, kamu sakit?” tanya Sofia menyentuh kening putranya itu. “Demam!” gumamnya beranjak meraih termometer untuk mengecek suhu tubuh Nino.


“Nino nggak apa-apa, Ma. Nanti terlambat ambil rapornya,” ucap Nino.


“Enggak apa-apa terlambat, Mama nggak tenang ninggalin kamu. Mama ambilin makan dulu, terus minum obat. Kenapa diam aja sih, Nak,” Omel Sofia bergegas keluar menyiapkan bubur untuk Nino. Ia sendiri yang berkutat di dapur, tak peduli akan menghabiskan waktu dan membuatnya terlambat.


Satu jam kemudian, Sofia baru keluar menuju sekolah Nino, usai kondisi putranya itu membaik. Nino juga tertidur setelah minum obat penurun demam. Sudah berulang kali Sofia ditelepon wali kelasnya.


“Bi, tolong temani Nino. Kalau ada apa-apa segera telepon saya, Bi,” titah Sofia sebelum pergi.


“Baik, Bu. Hati-hati,” balas Bi Sri bergegas ke kamar Nino.


\=\=\=\=°°°\=\=\=\=


Mobil milik Sofia masih di bengkel, sehingga ia terpaksa naik taksi. Meski Tama setiap detik menawarkan diri untuk mengantarnya ke mana pun, Sofia menolaknya.


“Selamat pagi, Bu. Maaf saya terlambat. Nino sedang sakit, Bu,” ucap Sofia setelah mengetuk pintu.

__ADS_1


“Silakan masuk, Bu,” ucap wanita berseragam guru dengan ramah.


Tinggal Sofia seorang, semua wali murid sudah mengambil rapot anaknya masing-masing. Sofia duduk berhadapan dengan Bu Nisa, wali kelas Nino.


“Bu, ini hasil pembelajaran Nino selama satu tahun ini. Pencapaiannya luar biasa. Di saat teman-temannya banyak yang kurang lancar membaca, Nino bahkan sudah hafal materi di luar kepala. Semua tugas juga dikerjakan dengan cepat dan nilainya memuaskan,” puji Bu Nisa menunjukkan sebuah hasil belajar Nino.


“Alhamdulillah,” gumam Sofia menatap semua nilai A yang tertera pada laporan hasil belajar Nino.


“Sayangnya, Nino kurang dalam berkomunikasi, Bu. Pendiam, tidak mau berbaur dengan teman-temannya. Tapi secara akademis, kemampuannya setara dengan pelajaran kelas 3. Kami sudah membuktikan sendiri dengan menyodorkannya soal-soal kelas 3. Hasilnya di luar dugaan. Nino sangat spesial, Bu.”


Lagi-lagi Sofia bergumam penuh syukur. Bibirnya tersenyum penuh rasa bangga. Kecerdasan Nino, sepenuhnya menurun dari Sofia.


Sofia menerima tawaran kelas akselerasi untuk Nino, yang langsung lompat ke kelas 3. Apalagi hasil test IQ anak tersebut, di atas rata-rata.


\=\=\=\=oooo\=\=\=\=


Sofia buru-buru pulang dengan panik, ketika Bi Sri menelepon dan mengatakan ada darah yang keluar dari hidung Nino. Di dalam taksi, wanita itu menangis dan meminta sopir untuk secepatnya sampai di rumah.


“Pak, tolong tunggu sebentar. Saya ingin membawa anak saya ke rumah sakit!” seru Sofia bergegas turun. Sedikit menaikkan gamis yang ia kenakan, untuk memudahkannya berlari.


“Nino!” panggil Sofia dengan suara bergetar langsung memeluk putranya erat. Wajahnya pucat pasi, matanya terpejam. Bekas darah sudah dibersihkan, namun masih tampak jejak kemerahan.


Hati Sofia teremas kuat, tapi dia berusaha kuat. Sofia segera menggendong putranya, berjalan perlahan menuruni anak tangga. Menekan rasa panik berlebih, meski di dalam hatinya bergemuruh hebat saat ini.


“Kamu kuat, Sayang,” ucap Sofia membelai kepala Nino.


Bi Sri turut berlari membukakan pintu, hingga masuk ke mobil taksi yang masih menunggu Sofia.


“Tolong cepat sedikit, Pak. Ke rumah sakit!” perintah Sofia memeluk erat Nino yang ada di pangkuannya.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2