
Sore harinya, Riana muncul berlari dari luar memasuki kediaman Sofia sembari berteriak, “Ma! Mama!” jeritnya di seluruh penjuru ruangan.
Sofia segera menghampiri, memeluk tubuh adik iparnya yang bergetar hebat. Tangisnya pecah seketika.
“Mama mana, Kak? Kakak bohong ‘kan? Di mana mama?” teriak wanita itu lagi memberontak.
Sofia tak menjawab apa pun, mengajaknya duduk dan memberikan air minum agar lebih tenang. “Minum dulu, Ri,” ucapnya membantu menyodorkan gelas pada bibir pucat Riana.
Penampilannya tampak jauh berbeda dari pertemuan terakhirnya. Sekarang lebih kurus, bahkan sangat kurus, pakaiannya juga biasa saja, wajahnya tidak semulus dahulu. Tangisnya kembali pecah saat menyadari mamanya sudah meninggal dunia.
“Kamu kenapa tadi pagi aku telepon berulang, aku chat sama sekali tidak kamu respon?” seru Reza dengan tatapan mengintimidasi.
“Kamu bahkan tidak pernah menjenguk mama selama satu tahun terakhir. Sekedar menanyakan kabarnya saja tidak!” geram Reza mengepalkan kedua tangannya.
“Mas,” tegur Sofia menggelengkan kepalanya. Berharap agar tidak mencecar adiknya dengan amarah.
“Istirahatlah dulu, kamu datang sendiri? Nanti malam biar kamu bisa ikut acara tahlilan,” pinta Sofia mengulurkan tangannya.
Riana menatap mata teduh kakak iparnya, air matanya semakin berlinang. Ia langsung menghambur ke pelukan wanita berhijab itu. Menumpahkan segala tangis dan kesedihannya.
“Maafin aku, Kak!” seru Riana dengan tangis yang menggema.
Sofia menghela napas panjang, mengusap punggung wanita itu dengan pelan. “Iya, ayo istirahat, tenangkan pikiran kamu dulu. Nanti malam kamu bisa cerita kalau ada masalah. Siapa tahu bisa meringankan beban pikiran kamu,” balas Sofia mengurai pelukannya.
Riana mengangguk, tidak berani menatap kakaknya yang masih memendarkan amarah. Ia mengikuti Sofia ke kamar tamu, lalu mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang setelah Sofia memberikan waktu dan ruang untuknya.
\=\=\=000\=\=\=
Malam harinya, acara tahlilan berjalan lancar. Seluruh tetangga ikut mendoakan. Termasuk rekan-rekan kerja Sofia dulu. Tidak tertinggal Widya juga ikut bersama rombongan anak buahnya.
Hubungan mereka membaik, meski Sofia tidak bisa melupakan kejadian satu tahun silam, tetapi ia berusaha memaafkan sahabatnya itu. Hanya saja, sekarang lebih menjaga jarak. Sekedar menghargai pertemanan mereka.
Setelah rumah sepi, Sofia mendekati Riana yang duduk menyendiri di sudut ruangan. Masih terdengar isakan kecil darinya.
“Sabar ya. Ikhlaskan mama. Agar kepergiannya tidak berat.” Sofia mengusap bahu adik iparnya itu.
Setelah terdiam beberapa saat, Riana membuka suara. Kehidupannya selama satu tahun terakhir berubah 180°. Suaminya selingkuh, hingga berujung perceraian. Ia harus pontang panting mencari pekerjaan untuk menghidupi anaknya seorang diri. Apalagi Reza sudah tidak pernah memberinya uang sama sekali. Riana bercerita dengan deraian air mata sembari bersandar di bahu Sofia.
Miris, tapi begitulah hidup. Roda kehidupan selalu berjalan. Jika berada di atas, mengingatkan kita agar terus menunduk, senantiasa menjadi manusia penuh syukur. Apabila sedang berada di bawah, mengingatkan manusia agar mendekatkan diri pada sang pencipta, tidak menyerah atau mengambil jalan pintas. Karena setiap ujian tidak akan melampaui batas kemampuan manusia.
“Sebentar lagi kami akan membuka usaha. Kalau kamu berkompeten, bisa lah ikut kerja di sana. Nanti setelah tujuh hari, cari kontrakan aja di sini. Siapin berkas-berkas lamaran, karena kami akan segera membuka lowongan pekerjaan,” papar Sofia yang membuka secercah harapan bagi Riana.
__ADS_1
Ia tercengang, sekaligus terharu. Lagi-lagi air matanya tumpah ruah. Memeluk kakak ipar yang dulu tidak pernah ia sapa, bahkan saat bicara pun selalu ketus. Riana sudah merasakan bagaimana pahitnya hidup selama setahun ini. Ia ingin berubah.
“Jangan macam-macam, Riana! Sekali kamu berulah, aku tendang kamu! Jangan mentang-mentang adikku kamu bisa seenaknya. Harus profesional!” tegas Reza tak pandang bulu.
“Terima kasih, Kak,” ucap Riana menghampiri lalu mencium tangan kakaknya. “Maafin aku selama ini,” tambahnya.
Reza menyentuh puncak kepala adiknya, tidak tega juga melihatnya sesedih itu. “Hmm, tidurlah!” titahnya mulai melunak.
\=\=\=OooO\=\=\=
Malam semakin larut, Sofia dan Reza bergegas ke kamar setelah menyelesaikan desain-desain baru dan membuat selebaran lowongan pekerjaan. Baik untuk yang berpengalaman maupun tidak. Untuk sementara memang hanya terbatas. Namun, suatu saat nanti, Reza berharap perusahaannya akan berkembang dengan cepat dan mampu membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya.
“Sayang, kok kamu berkeringat begini? Pucat banget. Kamu sakit?” tanya Reza panik saat sudah duduk bersebelahan dengan istrinya.
Tangannya mengulur menyeka keringat di kening Sofia yang membanjir. Tubuhnya juga terlihat sangat lemas.
“Enggak tahu, Mas. Capek aja mungkin,” ucap wanita itu masih mengurai senyum.
Reza membuka hijab instant yang menutupi rambut sang istri sedari tadi. Rambutnya tampak basah karena keringat. “Jangan sampai kelelahan, tidur ya sekarang. Mau aku pijitin?”
“Enggak usah, Mas. Kamu juga pasti lelah. Yaudah, ayo tidur,” ajak Sofia merebahkan tubuhnya.
“Mas, jangan bicara seperti itu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian. Aku seneng dan ikhlas kok lakuinnya,” ucap Sofia mendongak.
“Makasih, Sayang. Aku nggak tahu lagi jika seandainya kita tidak bertemu dan menikah lagi. Mungkin aku masih gila kerja dan tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti saat ini. I love you, Sayang,” balas Reza menciun kening Sofia sangat dalam.
“Aku mencintaimu karena Allah,” sahut Sofia yang deep sekali langsung menancap di hati Reza. Ia memeluk erat wanita itu. Seakan takut kehilangan.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Menjelang subuh, Reza mengerjapkan mata saat mendengar suara yang menyelusup indra pendengarannya. Tangannya meraba ke samping, tetapi kosong. Tidak ada siapa pun.
Buru-buru membuka matanya, lalu terperanjat duduk. Suara Sofia yang tengah muntah-muntah terdengar jelas. Ia segera melompat dari ranjang dan berlari menghampiri sang istri.
“Sayang! Kamu kenapa?” Reza memijit tengkuk Sofia dengan lembut sampai menyelesaikan muntahannya.
Usai mencuci mukanya, Sofia menatap Reza dengan berkaca-kaca. Padahal lelaki itu panik setengah mati.
“Nanti ke rumah sakit ya?” ucap Reza menyeka kedua pipi Sofia.
“Mas.” Sofia tersenyum lebar.
__ADS_1
“Iya, Sayang?”
Wanita itu menyodorkan sebuah testpack. Reza menerimanya, mengernyit tidak mengerti. Setelah beberapa saat, ia baru sadar. Mulutnya menganga sepenuhnya.
“Sayang! Positif? Kamu hamil?” pekik lelaki itu dijawab anggukan oleh Sofia.
“Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah!” teriak Reza memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat.
“Ma! Pa! Ada apa? Kenapa teriak-teriak?” Nino yang bersiap untuk shalat jamaah terkejut mendengar teriakan papanya. Ia segera mengetuk pintu kamar orang tuanya.
Reza berlari membuka pintu kamar, menggendong bocah lelaki itu lalu berputar-putar.
“Pa! Pusing, Pa!” elak Nino menepuk bahu sang papa.
“Nino!” Reza tersenyum, napasnya tak beraturan. “Sebentar lagi, Nino akan punya adik!” pekik Reza bersemangat dan sangat bahagia.
“Hah? Beneran, Pa?”
“Iya, Sayang! Mama hamil adiknya Nino!” teriak Reza lagi.
“Alhamdulillah,” teriak para asisten rumah tangga di ambang pintu. Mereka yang khawatir juga turut mengikuti Nino ke kamar Sofia. Mereka turut bahagia mendengar kabar tersebut.
Nino segera turun, berlari memeluk mamanya. Mengusap perut sang mama yang masih datar dan menciumnya. “Assalamu’alaikum, Dek. Ini Kakak!” sapanya menempelkan bibir pada perut mamanya.
“Wa'alaikumsalam, Kak. Nanti jagain adek ya,” balas Sofia mengusap lembut puncak kepala Nino.
“Pasti, Ma!” seru Nino masih memeluk mamanya.
Reza turut bergabung, memeluk dua harta yang paling berharga dalam hidupnya. Dalam hati dihujani penuh syukur atas semua nikmat yang telah ia dapatkan.
Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Tapi setiap manusia selalu diberi kesempatan untuk berubah. Tergantung diri sendiri, ingin berubah lebih baik atau sebaliknya?
...__TAMAT__...
Alhamdulillah.... 🙂 terima kasih banyak yang telah sabar menunggu novel ini. Terima kasih supportnya. Maaf jika banyak kesalahan.
Bagi yang punya toko sebelah (F**z0), mampir yuk. Ramein yaa.. Maaciii...
__ADS_1