
Dua hari lalu, Yani berkunjung ke kediaman lama Reza. Ia tak menduga bahwa ucapan putranya itu ternyata tidak bercanda. Kedatangannya disambut oleh penghuni baru rumah tersebut. Secara kebetulan, surat cerai dari pengadilan agama untuk Reza juga disampaikan pada Yani selaku ibunya.
Yani juga pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA yang jelas hasilnya cocok. Dia adalah orang pertama yang menginginkan perceraian Sofia dan Reza sedari dulu. Sehingga, ketika menerima surat panggilan tersebut, Yani memikirkan cara untuk menjatuhkan Sofia, agar ia bisa mengambil hak asuh Nino—cucunya yang namanya semakin melambung di kancah hiburan tanah air itu.
Dengan berbagai informasi, Yani bisa menemukan alamat Sofia. Jauh-jauh datang dari Jakarta ke Bandung demi melancarkan aksinya.
Sesampainya di rumah Sofia, cukup lama Yani bersembunyi di balik pagar untuk mengawasinya sekaligus memastikan rumah wanita itu. Dari sana, ia melihat seorang pria dewasa. Meski samar hanya bayangan saja. Tanpa ia tahu, bahwa lelaki itu adalah Reza, putranya sendiri.
Yani mengulik kehidupan Sofia, pada tetangga sekitar. Mereka mengatakan bahwa Sofia belum menikah. Hanya tinggal berdua bersama putranya. Dari sanalah, ia menghasut para warga jika Sofia kumpul kebo.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
“Astaga! Reza? Bagaimana bisa?” gumam Yani dengan kedua kaki melemas.
Tangannya segera menekan kepala yang terasa berdentum dengan begitu kuat. Ia terduduk di belakang kerumunan, lidahnya mendadak kelu tidak bisa berkata-kata. Semua rencana yang telah disusun secara matang, ternyata justru berbalik.
“Mari, nikahkan kami segera!” ucap Reza menggenggam jemari Sofia dengan erat. Sorot matanya begitu tajam membalas cibiran dan cemoohan yang ditujukan untuknya maupun Sofia.
__ADS_1
Sedangkan Sofia hanya menunduk dalam, sama sekali tidak berani mengangkat pandangannya. Memasrahkan semua yang terjadi pada Tuhan, Sang pembolak-balik hati manusia.
Hatinya cukup kuat tak menanggapi ata-kata pedas yang dilontarkan untuknya. Meski tak dapat dipungkiri dadanya bergemuruh hebat menahan emosi.
“Silakan, Pak!” Ketua RT setempat yang tadi dipanggil segera membawa penghulu di kompleks mereka. Sehingga tak perlu menunggu terlalu lama untuk melakukan akad dadakan ini.
Sebelumnya, Reza meminta Pak RT untuk berbicara empat mata dengannya. Hanya sebentar, lalu kembali ke ruang tamu. Di mana banyak orang berkumpul.
Mereka duduk di atas karpet tebal yang membentang di ruang tamu. Reza duduk di sebelah Sofia, berhadapan dengan penghulu dan juga Ketua RT. Dengan disaksikan para warga yang masih emosi.
Reza menjabat tangan penghulu, dalam sekali tarikan napas ia mengucap qabul usai kalimat ijab selesai dilantunkan. Hingga terdengar kata sah yang menggema di ruang tamu tersebut.
Sofia yang sempat saling menatap haru dengan suaminya, segera menoleh serentak. Reza membantu Sofia untuk berdiri dan menggenggam jemarinya.
“Dengar semuanya! Saya tegaskan, kami berdua tidak berzina seperti yang kalian tuduhkan. Saya baru keluar dari rumah sakit, karena dikontrakan saya sendirian, Sofia menyarankan untuk tinggal di sini karena ada banyak orang yang akan membantu saya.”
“Halah! Alesan aja itu! Maling mana ada yang mengaku.”
__ADS_1
“Kami sebenarnya adalah suami istri yang sah di mata negara. Nino adalah anak saya. Lihat ini!” Reza meraih sebuah buku nikah dan membukanya. “Silakan lihat baik-baik!” tegasnya menyodorkan buku itu dengan kasar.
“Jadi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya, Pak Reza dengan Ibu Sofia ini memang pasangan suami istri. Hanya saja, sudah delapan tahun terpisah. Dan memang rencananya mereka akan melakukan ijab qabul ulang dalam waktu dekat. Tolong, lain kali kalau ada masalah jangan main hakim sendiri.” Ketua RT itu menjelaskan dengan bijak.
Pria berpeci itu menghela napas panjang. “Untung saja beliau ini orang baik, jika tidak kalian semua bisa masuk penjara karena kasus pencemaran nama baik," tambahnya lagi.
Setelah membaca salah satu buku nikah itu, mereka menunduk. Tidak berani menatap Sofia maupun Reza. Mereka saling sikut dan merasa tak enak karena telah menuduh sembarangan.
“Maafkan kami, Pak, Bu, sudah menuduh sembarangan.”
“Sudah kubilang ‘kan dari awal, kalau Sofia itu tidak mungkin melakukan hal sehina itu! Kalian sih enggak percaya!” seru seorang wanita bertubuh gemuk sembari memainkah kipas di tangannya. Padahal dia adalah provokator yang berseru paling keras.
“Heleh, bukannya kamu tadi yang paling keras ngatain Sofia!"
"Cukup!” teriak Reza menggelegar. “Silakan tinggalkan rumah ini. Dan jangan pernah lagi ada kalimat kotor mengenai Sofia! Jika aku mendengarnya lagi, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian ke kantor polisi!” sambung pria itu menatap nyalang. Lalu kembali merebut buku nikah yang masih dipegang oleh salah satu warga.
“Oh ya, satu lagi. Terima kasih telah mempermudah proses rujuk kami! Assalamu’alaikum!” ucap Reza memilih ke berbalik dan meniti anak tangga tanpa melepaskan tautan tangan dengan Sofia.
__ADS_1
Satu per satu warga membubarkan diri, meninggalkan kediaman Sofia. Hingga kini tersisa Yani yang masih mencengkeram dadanya. Duduk di sofa dengan napas tersengal. “Re ... Reza!” panggil Yani membuat Reza dan Sofia menghentikan langkah, ia berbalik dan terkejut saat menemukan ibunya duduk di sana.
Bersambung~