SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 44 : Mengundurkan Diri


__ADS_3

Pintu terdorong dengan sangat pelan, takut akan mengejutkan mertuanya. Sofia melangkah menuju ranjang, di mana wanita paruh baya itu kini terbaring sembari membelakangi pintu.


Kening Sofia mengernyit kala menemukan bahu sang ibu mertua terlihat menggigil. Memang tidak ada yang berani masuk ke kamar seharian tadi, sehingga tidak ada yang tahu bagaimana keadaan wanita itu.


“Ma,” sapa Sofia menyentuh bahu Yani dengan pelan.


Masih bergeming, namun terdengar giginya bergemeletuk. Sofia pun beralih menempelkan punggung tangan di kening Yani. “Astagfirullah, mama demam!” serunya berjingkat kaget.


Sofia segera berbalik menuju dapur untuk mengambil air hangat dalam baskom, beserta washlap-nya. Setidaknya dengan kompres akan lebih baik sembari menunggu para penghuni rumah lainnya menyelesaikan ibadah magribnya.


Diletakkannya perlahan baskom di atas nakas, lalu menyentuh bahu Yani, “Sejak kapan Mama demam begini? Permisi, Ma,” tutur Sofia lembut berusaha membalikkan tubuh wanita tua itu.


Betapa terkejutnya Sofia, ketika melihat wajah mertuanya yang berubah tidak simetris. Sudut bibirnya terangkat sebelah, ingin bersuara tapi tidak bisa. Hanya terdengar lenguhan saja. “Astagfirullahaladzim, Mama!” seru Sofia membekap mulutnya sendiri. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat kini.


“Ma, bisa dengar Sofia? Berkedip ya kalau bisa,” titah Sofia menunduk, menatap lamat-lamat wanita paruh baya itu. Hingga tak berapa lama, Yani mengedipkan matanya meski agak kesulitan.


“Sabar sebentar ya, Ma. Kita akan ke rumah sakit. Mas Reza dan lainnya sedang menunaikan salat,” ucap Sofia menatap jam di pergelangan tangannya.


Sembari menunggu, Sofia mengompres kening Yani dengan telaten. Ia merasa iba dan penasaran atas apa yang terjadi pada Yani.


Usai mengira-ngira waktu telah selesai, Sofia setengah berlari menuju musholla rumahnya. Napasnya terengah-engah di ambang pintu. Hingga semua mata tertuju padanya.


“Sayang, kenapa?” Reza yang selesai berdoa segera berdiri dan menghampiri istrinya.


“Mas, mama ... mama harus dibawa ke rumah sakit segera!” ucap Sofia cepat sembari menunjuk ke arah pintu ibu mertuanya.


“Mama kenapa?” Reza bertanya dengan panik.


“Mas lihat sendiri saja! Ayo, Pak! Tolong semuanya bantu Mas Reza,” titah Sofia yang juga panik.


Mereka segera berbondong-bondong mengunjungi kamar Yani. Dan sama seperti Sofia, tak dapat menyembunyikan keterkejutan usai melihat kondisi Yani.


“Mas! Buruan bawa ke rumah sakit! Pak Amir tolong siapkan mobil!” perintah Sofia.


Wanita itu beralih pada putra semata wayang, menyentuh kedua bahunya dan menatap lembut, “Nino di rumah sama Bibi ya, Sayang. Rumah sakit enggak baik untuk anak-anak.”


“Iya, Ma. Semoga nenek cepet sembuh,” balas anak itu.


Beberapa dari ART di sana membicarakan kondisi Yani. Banyak yang menganggap itu adalah karma yang dia petik dari hasil perbuatannya.

__ADS_1


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Sesampainya di rumah sakit, Yani segera mendapat penanganan. Dokter menyarankan agar rawat inap karena hasil pemeriksaan tidak dapat keluar saat itu juga.


Sofia dan Reza pun setuju. Mereka mengurus administrasi hingga kini berada dalam ruang rawat inap. Yani diberi obat penenang agar bisa beristirahat. Namun masih terlihat miris, karena wajahnya tidak bisa kembali seperti semula.


Sofia duduk di kursi tunggu sembari menatap iba wanita yang terbaring di atas brankar. “Mas, mama pernah punya riwayat penyakit apa sebelumnya?” tanya Sofia.


“Setahuku enggak ada, Sayang. Aku bahkan sudah lama tidak bertemu dengan mama sejak pindah ke sini,” papar Reza yang berdiri di belakang istrinya. Menumpukan kedua tangan pada bahu sang istri. Sesekali memberi pijatan lembut.


Reza lalu memeluknya, mengecup puncak kepala Sofia yang terbungkus hijab. “Makasih, Sayang. Kamu baik banget. Bahkan setelah semua perlakuan mama padamu hingga kejadian kemarin, kamu tidak membencinya,” ujar Reza kagum.


Sofia menyentuh kedua lengan sang suami, “Aku hanya tidak ingin menyimpan kebencian pada wanita yang telah melahirkanmu, Mas. Lagi pula penyakit hati jika terus dipelihara hanya akan membuat hidup kita gelap. Merasa paling baik, merasa paling hebat, naudzubillah, Mas.”


Pria itu memejamkan matanya, semakin mengeratkan pelukannya. Dadanya sesak dipenuhi sesal yang menjalar hingga ubun-ubun. “Kenapa dulu aku bahkan menyia-nyiakan berlian sepertimu!” gumamnya.


“Setiap orang punya kesalahan, tinggal bagaimana kita menyikapi dan tidak melakukan kesalahan yang sama, Mas. Kesempatan tidak akan datang dua kali,” tutur Sofia.


Bertubi-tubi Reza menjatuhkan ciuman di puncak kepala Sofia. Bersyukur sekali karena bisa mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. “I love you berkali-kali, Sayang!"


Sofia mendongak, mengurai senyum yang semakin membuat Reza gemas dan tak tahan untuk tidak mencium kening sang istri.


“Apa aja, Mas, penting halal. Aku enggak pilih-pilih makanan,” sahut Sofia.  


\=\=\=000\=\=\=


Selesai makan malam, Reza melakukan ibadah lalu menyusul sang istri yang duduk di sofa. Ia langsung duduk di pangkuan sang istri yang sedari tadi sibuk mengoperasikan ponselnya.


“Sibuk banget,” sindir Reza.


Sofia meletakkan ponselnya, mengurai senyum yang selalu membuat dada Reza berdetak kuat. “Lagi lihatin chat anak-anak, besok aku akan mengundurkan diri. Tapi aku belum bilang mereka,” ucap Sofia bernada lemah.


Rasanya berat sekali keputusan ini ia ambil. Bagaimanapun juga, dari sana Sofia bisa bangkit dan memperbaiki kehidupan bersama buah hatinya.


“Aku juga!” cetus Reza dengan santainya.


Sofia menautkan alisnya, “Kenapa?”


“Aku kerja di sana karena ada kamu, Sayang. Kamu keluar, buat apa aku masih di sana!” sahut lelaki itu membingkai wajah istrinya gemas.

__ADS_1


“Yaudah tidur, kita harus pulang dulu ‘kan besok pagi, siapin berkas pengunduran diri,” ucap Sofia.


“Heemm, sini!” Reza menepuk sisi sebelahnya.


“Enggak muat, Mas! Kamu sisi sebelah sana!” tolak Sofia memicingkan mata.


“Muat, orang badan kamu kurus. Ayo sini! Enggak mau aku peluk nih?”


Sofia menghela napas berat. Mau tak mau menurut dan merebahkan tubuhnya di samping Reza. Meski harus berhimpitan dan tidak bisa bergerak bebas. Apalagi Reza langsung memeluknya dengan sangat erat.


Hangat, nyaman dan begitu menenangkan. Sofia senyum-senyum sendiri, semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami, membalas pelukan hangat itu.


\=\=\=000\=\=\=


Pagi harinya, Sofia meregangkan tubuhnya yang terasa remuk, karena semalaman tidur di tempat sempit dan tidak bisa bergerak.


Ia terkejut ketika tak menemukan Reza di sampingnya, segera bangun dan langsung mengurai senyum saat netranya menangkap sang suami tengah bersujud di waktu subuh. Perubahan Reza yang signifikan membuatnya terharu.


Selepas berdoa, Reza segera melipat sajadah yang memang disediakan pihak rumah sakit. Sofia langsung berdiri, mencium tangan suaminya lalu memeluknya. Ia sangat bahagia.


“Aku sangat menantikan berdiri satu shaf di belakangmu, Mas. Impianku sejak dulu yang belum bisa terwujud,” tutur Sofia yang mengerti keterkejutan Reza.


“Sebentar lagi, Sayang.” Reza mengecup kening, hidung dan bibir Sofia.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Matahari kian meninggi, Sofia menyeka tubuh ibu mertuanya dengan telaten. Yani tampak ingin berbicara namun sangat kesulitan. Bahkan sisi tubuhnya sebelah kanan mati rasa, tidak bisa bergerak sama sekali.


“Kami mau ngurus pengunduran diri dulu ya, Ma. Nanti setelah selesai kita langsung kembali ke sini. Sementara sama perawat dulu enggak apa-apa ya,” ucap Sofia setelah mengancingkan baju pasien Yani.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Sofia menatap nanar gedung tinggi tempatnya berkarir selama ini. Reza menggenggam tangannya dengan sangat erat. Pria itu mengenakan kemeja dibalut jas semi formal, terlihat sangat rapi dan begitu tampan.


Keduanya berjalan serentak menuju ruangan Widya. Tak peduli dengan panggilan para bawahan Sofia, ia ingin menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.


Pintu dibuka Sofia setelah mendapat sahutan dari Widya, betapa terkejutnya wanita itu ketika menatap Sofia yang datang bersama Reza pagi itu.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2