
“Ah, kamu harus segera makan, minum obat biar cepat sembuh.” Sofia mengalihkan pembicaraan, beranjak berdiri lalu segera mengambil bubur yang sudah disediakan untuk Nino.
Sofia menaikkan sedikit ranjang pasien Nino, agar posisinya setengah duduk. Dengan telaten, wanita itu menyuapi putranya sedikit demi sedikit.
“Habis ini Papa juga disuapin ya, Ma,” celetuk Reza yang sedari tadi terus mengamati Sofia. Sungguh, netranya berbinar melihat pemandangan indah di depannya.
“Makan sendiri ‘kan bisa? Punya tangan ‘kan?” sahut Sofia dengan ketus.
“Tapi tangan Papa ‘kan sakit, Ma. Itu ada infusnya.” Nino menyela.
Reza tersenyum smirk mendapat dukungan dari putranya. Ia mengaduh sembari memeluk lengan kanannya, berlebihan memang. Tapi ia ingin menarik simpati ibu dan anak itu. “Iya nih, Nino bener. Aduh, sakit banget.”
Sofia berdecak kasar, bibirnya mengerut disertai embusan napas berat. Bagaimana pun, lelaki itu telah kehilangan banyak darah demi putranya, “Ya, sabar!” ucapnya tanpa menoleh.
Nino menatap sang ayah, dua lelaki itu saling melempar senyum penuh kemenangan. Buru-buru Nino menelan setiap suapan Sofia sampai tandas. Ia tidak sabar ingin segera sembuh. “Obatnya, Ma,” pinta Nino menggebu.
Setelah meletakkan mangkuk kosong, Sofia menuangkan obat cair pada sendok yang disediakan. Dua jenis obat pun sudah masuk ke tubuh Nino. Wajah anak itu sudah tidak sepucat saat pertama datang ke rumah sakit.
“Udah, Ma. Sekarang giliran papa,” pinta Nino dengan senyum manisnya. Mana bisa Sofia menolak.
Sudah ada sup daging dengan sedikit nasi, bubur kacang hijau dan potongan buah-buahan yang disediakan oleh pihak rumah sakit khusus untuk Reza. Tanpa banyak bicara, Sofia membuka satu persatu plastik wrapping yang membungkus setiap mangkuk dan piring.
“Mmm,” gumam Sofia menyodorkan sendok penuh makanan ke mulut Reza.
Reza tak langsung membuka mulutnya, menatap lekat-lekat wajah cantik yang selalu menari dalam ingatannya. Hatinya menghangat karena bisa sedekat ini dengan Sofia.
__ADS_1
“Ayo buka mulutnya, Mas. Kalau nggak jadi aku nih yang makan!” geram Sofia karena Reza tak kunjung membuka mulut.
“Sabar, Ma. Papa ‘kan lagi sakit,” celetuk Nino menyandarkan kepala, namun tatapannya mengarah pada ranjang sang ayah.
Sofia menghela napas panjang untuk mengurai kesabarannya. Jika saja tidak ada Nino, ia pun malas melakukannya.
“Sabar, Ma,” ujar Reza tertawa lalu mulai melahap makanan dari tangan Sofia.
Begitu manis, hatinya seperti dihujani ribuan bunga. Dalam hati ia berterima kasih berulang kali pada Nino. Di balik kesakitan Nino, ternyata bisa semakin mendekatkan lagi pada keluarganya.
“Dasar manja!” umpat Sofia bersuara pelan, hanya didengar oleh Reza.
“Jangan cemberut gitu, kamu makin cantik. Sepertinya dulu mataku buta karena tidak pernah melihat kecantikanmu," goda Reza sama sekali tak mengalihkan pandangan dari wanita itu.
Sofia menjadi salah tingkah, namun karena ingin segera berakhir, ia tetap menahan diri agar semua makanan segera habis dan tugasnya selesai. Pujian Reza sama sekali tidak bisa menyentuh hatinya. Ia hanya gugup karena terus ditatap Reza sedari tadi.
“Terima kasih, Sayang,” ujar Reza menampilkan senyum lebarnya.
Sofia justru mencebikkan bibir, telinganya merasa aneh mendengar panggilan itu. Dering ponsel Reza, memecah kecanggungan di antara mereka. Ia menoleh pada Sofia.
“Apa?” tanya wanita itu.
“Tolong ambilin, aku nggak bisa,” pinta Reza.
“Astaga, Mas! Kenapa kamu jadi manja gini sih! Menyebalkan!" decaknya meraih jas di atas nakas dan menyerahkan benda pipih itu pada Reza.
__ADS_1
"Sabar, Ma!" cetus Nino kembali mengingatkan.
“Istirahat lagi ya,” ucap Sofia pada Nino, membenarkan posisinya dan menaikkan selimut hingga ke dada. “Cepet sembuh, Sayang,” lanjutnya meninggalkan kecupan di kening Nino.
“Mama jangan sedih, Nino pasti segera sembuh!”
“Iya, Mama percaya.” Sofia membelai puncak kepala Nino sampai ia memejamkan mata.
Sofia tak sengaja dengar percakapan Reza. Meski terlihat tak peduli. Ia tahu, jika penelepon itu adalah Yani, menanyakan keberadaannya. Dan setelah itu, Sofia menyingkir. Perutnya sedari tadi keroncongan minta diisi. Ia baru bisa makan dengan lega, setelah melihat Nino mulai membaik.
...\=\=\=\=\=ooo\=\=\=\=\=...
Malam harinya, transfusi darah sudah dihentikan. Hasil lab darah Nino cukup mengejutkan, karena semua kembali normal. Tinggal pemulihan saja.
Reza sebenarnya masih lemah, tetapi ia menguatkan diri untuk menyusul Sofia yang duduk di sofa sambil menatap serius layar laptopnya.
“Kenapa bangun? Istirahatlah, kata dokter besok Mas sudah bisa pulang,” ucap Sofia tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
“Tidak, aku masih ingin di sini bersama putraku,” tolak Reza, menyandarkan punggung dan kepalanya.
“Memangnya kamu nggak kerja apa? Perasaan sering absen,” tegur wanita itu.
“Enggak, aku sudah dipecat.”
Perkataan Reza sontak membuat Sofia menoleh, kedua alisnya saling bertautan. “Dipecat? Kok bisa?” tanyanya terkejut.
__ADS_1
Bersambung~