
Sofia segera beranjak berdiri, Nino menjulurkan kepalanya di belakang tubuh sang mama, akan tetapi Sofia menahan kepala Nino agar tidak bergerak.
Sofia menarik napas dalam-dalam, mengembangkan dada untuk menyimpan pasokan oksigen sebanyak mungkin, “Bisa ikut saya sebentar, Bapak Reza Reynaldi?” ucap Sofia sesopan mungkin. Ia pun mencoba menampilkan senyuman yang manis.
Sempat terpaku hingga tak berkedip, kesal yang membuncah dalam dada menguap begitu saja. Reza bergeming dalam kekagumannya.
“Mari, ikut saya,” ajak Sofia menjulurkan lengan kanannya menunjuk ke belakang panggung.
Sebelum pergi, Sofia berpesan pada putranya, “Fotonya sama Om Tama dulu ya. Mama ada urusan sebentar,” ucapnya yang dijawab anggukan cepat oleh Nino.
“Titip Nino sebentar ya, Pak.” Sofia beralih pada Tama.
“Siap! Jangan khawatir,” sahut Tama bersemangat.
Tanpa diduga, Nino berdiri di hadapan Reza. Ia berkacak pinggang dan menunjukkan wajah tak suka. “Jangan bentak-bentak mamaku!” sentak lelaki kecil itu dengan berani.
“Cih! Anak kecil tahu apa kamu!” seru Reza menundukkan pandangan, matanya sedikit melotot. Dua lelaki beda usia itu saling melempar tatapan permusuhan. Meski dalam dadanya kini tengah berdenyut hebat tatkala menelisik lebih dalam.
“Akan aku pukul kamu! Kalau jahat sama mama!” Jiwa kesatria Nino muncul untuk melindungi sang mama.
Sofia yang sadar segera merengkuh pundak putranya, “Eh, katanya mau foto? Keburu Om Edwinnya pulang loh. Sana!” titah Sofia membalik tubuh putranya. Kembali menghadap panggung megah.
“Oh iya, ayo Om Tama!” ajak Nino menarik tangan Tama ke arah panggung.
Senyum yang sempat mengukir bibir Sofia, seketika memudar. Berganti dengan wajah tegas ketika berbalik dan berhadapan dengan Reza. “Mari, tidak baik kita bicara di tempat umum seperti ini,” ajak Sofia berjalan lebih dulu menuju ruang meeting kedap suara.
“Saya pinjam ruangan sebentar ya,” izin Sofia pada kru yang ada di sana.
__ADS_1
“Baik, silakan, Kak,” balasnya ramah.
“Terima kasih.”
Reza tanpa suara mengekori Sofia hingga kini mereka berada di dalam ruangan yang sama. Kebingungan sempat melandanya. Dadanya berdebar hebat. Sempat mengumpat dirinya sendiri karena tadi membentak Sofia.
Sofia memilih duduk berjauhan dengan Reza. “Apa kabar, Mas? Kok semakin kurus? Kantung matamu juga kelihatan sekali,” ucap Sofia membuka suara. Tidak bermaksud perhatian, hanya saja ia bingung apa yang akan dia sampaikan.
“Semua karena kamu, Sofia! Kamu tidak tahu bagaimana aku bingung mencarimu selama ini! Kamu tidak tahu bagaimana hancurnya hidupku tanpamu! Tetapi ternyata....” Bibir Reza tersenyum sinis. “Kamu justru hidup bahagia bersama pria lain!” sambungnya.
Helaan napas berat berembus dari mulut Sofia. Menahan kesal yang bisa saja meledak kapan saja. Bibirnya masih tersenyum tipis.
“Oh ya? Tapi aku masih ingat jelas hinaan dan segala macam umpatan dari mulutmu itu! Bahkan di detik ini pun, setelah kita bertahun-tahun berpisah. Sampai mati pun aku tidak akan lupa, Mas!” Sofia menatapnya tajam.
“Memang begitu kenyataannya. Kamu nggak usah menyangkal! Anak siapa itu? Kamu menikah dengan siapa? Ingat ya, pernikahanmu tidak sah. Cih! Ketika bersamaku saja kamu sama sekali tidak memperindah penampilanmu!” sinis Reza menatap kagum perubahan Sofia.
Terlihat jelas bagaimana raut keterkejutan Reza. Ia benar-benar tidak tahu menahu hal itu. Bahkan Reza tidak menemukan ATM yang dimaksud oleh Sofia.
‘Apa jangan-jangan, ibu yang menemukannya,’ batin Reza bertanya-tanya. Pasalnya, Yani sempat tinggal di rumahnya selama satu bulan setelah kepergian Sofia.
Sofia tidak ingin membuka luka masa lalunya. Ia harus berdiri tegak menatap lurus ke depan. Karena saat ini ada kebahagiaan yang ia perjuangkan, kebahagiaan Nino. Sofia beranjak tanpa menoleh, keluar meninggalkan Reza yang masih termenung dalam pikirannya.
Yah, pikirannya memang kacau. Ingin menarik kembali Sofia dalam pelukannya namun bingung bagaimana caranya. Sedangkan hatinya memanas terbakar cemburu hingga tanpa sadar sikap dan ucapannya justru menyakiti wanita itu lagi.
“Sofia tunggu!” teriak Reza mencekal lengan Sofia.
Dengan cepat wanita itu menghempaskan tangan Reza. “Secara agama kita bukan suami istri lagi. Jangan sentuh saya,” tegas Sofia.
__ADS_1
Reza yang geram mengimpit tubuh Sofia. Jarak mereka begitu dekat. Napas mereka saling bertumbukan. Hampir saja mendekatkan wajahnya, Sofia lebih dulu mendorong dada Reza dan menamparnya.
“Maaf, jangan kurang ajar!” tegas Sofia menatap tajam.
“Kamu masih istriku, Sofia!” bentak Reza.
“Kalau begitu ceraikan aku!” teriak Sofia tak mau kalah. Ia sendiri geram dengan Reza yang semaunya sendiri dan keras kepala.
Reza tersenyum smirk, gertakan giginya terdengar jelas. Urat-urat di kepalan tangannya pun terlihat jelas.
Napas Sofia terengah-engah menahan emosi. Tidak ingin semakin brutal, Sofia segera berlari keluar.
“Sofia, tunggu!” teriak Reza.
Tepat sekali berpapasan dengan Nino yang sudah selesai berfoto ria, Sofia segera menggendong tubuh putranya, melangkah cepat menuju mobil. Tidak peduli acara belum selesai. Tama sampai bingung dibuatnya.
Langkah Reza sedikit terhambat karena beberapa kru sedang menggulung kabel yang cukup besar. Hingga dia harus memutar arah agar bisa mengejar Sofia.
“Sofia! Sofia! Kamu belum jelasin, anak siapa itu! Aku janji bakal terima anak itu, asal kamu mau kembali sama aku, Sofia!” teriak Reza mengetuk-ngetuk jendela kaca mobil yang dikendarai Sofia.
Sofia tak peduli, ia tetap melajukan mobilnya. Bahkan Reza sampai terpental di jalan karena tidak mau menyingkir.
“Mama! Orang itu siapa sih? Kenapa ngejar-ngejar Mama?” tanya Nino menoleh ke belakang.
Bersambung~
__ADS_1