
Terdengar embusan napas penuh kelegaan di seberang sana, Nino hanya tersenyum menanggapi. Mereka pun segera mengakhiri panggilan dan lekas menyusul ke tempat Sofia.
“Papa sih,” cebik Nino meletakkan kembali benda pipih itu di dashboard.
“Kok nyalahin Papa? Eh, tunggu! Biola kamu mana, Sayang? Papa enggak lihat dari tadi?” tanya Reza sesekali menoleh pada putranya.
“Rusak, Pa,” jawab anak itu melebarkan senyuman.
“Hah? Rusak gimana? Bisa diperbaiki lagi enggak?” Reza penasaran.
Nino menggaruk tengkuknya sembari tersenyum kaku, ia memukulkan benda kesayangannya itu cukup keras di kepala Tama. Senar-senarnya sampai putus. “Enggak bisa, Pa. Tadi buat mukul kepala Om Tama. Abisnya dia bekap aku. Yang ada di tangan cuma itu.”
“Hah?” tanggap Reza terkejut, “Bagus, Sayang. Anggap aja balasan buat Tama karena pernah pukul Papa!” lanjutnya bersemangat.
“Enggak boleh gitu, Pa. Nino niatnya cuma buat jaga diri aja. Didengar mama bisa diceramahin sampai pagi,” seloroh lelaki kecil itu. Keduanya tertawa serempak. Membayangkan ekspresi Sofia yang tengah marah-marah.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
“Kalian kalau mau pulang dulu enggak apa-apa kok, tinggalin aja. Kalian pasti capek. Nanti bill-nya aku yang bayar. Nino sudah perjalanan ke sini,” ucap Sofia ketika para bawahannya selesai makan. Mereka pun juga telah berfoto ria bersama.
“Tapi, Buk....”
“Sttt! Biar Bu Sofia me time sama keluarganya. Kita mending shopping aja yuk,” bisik salah satunya yang segera diiyakan oleh mereka.
“Oke deh, Bu. Kami mau jalan-jalan dulu ya. Makasih banyak traktirananya, Bu,” pamit mereka beranjak meninggalkan Sofia.
Wanita itu mengangguk, mengurai senyum untuk menatap kepergian mereka. Matanya nanar, mengingat ini hari terakhir mereka bersama. Sofia sengaja tidak memberi tahu. Ia takut membuat mereka sedih atau bahkan ikut resign.
__ADS_1
“Ck! Nino, Mas Reza kalian di mana sih!” gumam Sofia mengusap wajahnya kasar. Hatinya berdegup tidak karuan, ia merasa tidak tenang sedari tadi.
Berkali-kali membuang napasnya kasar. Sofia tak tahan lagi, ia beranjak berdiri sembari meraih tasnya. Hampir saja terjengkang jika saja tak langsung berpegangan pada sandaran kursi.
Buket bunga mawar putih menghalangi pandangan pada seseorang di hadapannya. Sofia mematung, terdiam sampai Reza memiringkan kepala dengan senyuman manisnya.
“Mas Reza,” desahnya kembali duduk. Ia baru bisa bernapas lega setelah penantian selama satu jam lebih di restoran tersebut.
Reza berjongkok di hadapan Sofia, “Maaf ya, Sayang. Ini buat kamu,” ucapnya meraih tangan Sofia dan menciumnya. Lalu menyerahkan bunga mawar putih yang masih begitu segar.
Melirik sekeliling, Sofia merasa malu. Banyak pengunjung yang mengalihkan pandangannya ke sana. “Mas, bangun. Dilihatin banyak orang tau!” bisik Sofia.
“Mama.”
Dari belakang tubuh sang ayah, Nino muncul sembari menyerahkan sebuah bingkisan indah, berisi satu seri hijab merk terkenal.
Tidak bisa menahannya lagi, sepasang netra Sofia sudah tergenang bulir bening yang berjatuhan serentak membasahi pipinya.
Romantika keluarga sang artis cilik itu menarik atensi banyak pengunjung restoran itu. Tidak sedikit yang mengabadikan momen hangat mereka, dan menguploadnya di media sosial masing-masing.
“Ah, kalian curang. Bikin mama khawatir ternyata ini tujuannya,” cebik Sofia menyeka air matanya.
“Iya, dong. Mama itu spesial, jadi harus mendapatkan sesuatu yang spesial pula,” balas Nino meng-copy kalimat ayahnya tadi sebelum membelikan hadiah.
“Makasih, Sayang,” ucap Sofia meraih hadiahnya, lalu mencium pipi Nino dengan bangga.
“Papa juga mau dicium dong, Ma,” tukas Reza menyodorkan pipinya.
__ADS_1
“Cium! Cium! Apanya. Mas enggak tahu tempat!” ketus wanita itu menepis pipi Reza.
Wajah Sofia sepenuhnya memerah, ia tak berani menaikkan pandangan. Reza hanya terkekeh melihatnya, gemas dengan rona merah di pipi wanitanya.
“Udah ah, ayo duduk. Kita makan,” ucap Sofia menaikkan tangan untuk memanggil pelayan di sana.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Langit hampir menggelap ketika mereka menginjakkan kaki di lantai rumah. Buru-buru mandi karena sebentar lagi memasuki waktu magrib.
“Kamu dulu saja, Mas. Nanti keburu habis waktu magrib,” titah Sofia membereskan barang-barangnya. Meletakkan bunga segarnya dalam vas, lalu menyusun hijab-hijab barunya pada hanger khusus.
Sebelum beranjak ke kamar mandi, Reza sempat mencuri ciuman di pipi Sofia hingga membuat wanita itu terperanjat. “Mas!” pekik wanita itu menyentuh pipinya. Reza hanya tertawa sambil berlari ke kamar mandi.
Senyum lebar pun tersungging di bibir Sofia, sambil menyentuh pipinya yang memerah. Ia benar-benar merasakan perubahan yang besar dari sikap Reza.
Usai menyiapkan baju koko dan sarung milik sang suami, Sofia berniat keluar menemui mertuanya. Ia tidak mendapat kabar apa pun mengenai wanita paruh baya itu selama seharian ini.
“Mas, baju ganti di atas ranjang ya,” teriak Sofia saat tak mendengar gemercik air dari dalam sana.
“Ya, Sayang. Makasih,” sahut Reza menggema dari ruangan kecil itu.
Sofia keluar menuju dapur untuk membuatkan teh ibu mertuanya. Lalu segera mengantarnya sembari ingin berbicara empat mata.
Perlahan tangannya terayun pada daun pintu, menciptakan bunyi ketukan. Tidak ada jawaban apa pun hingga membuat kening Sofia mengernyit heran.
“Ma! Boleh Sofia masuk?” tanya Sofia di ambang pintu. Menunggu selama beberapa saat, tak kunjung ada suara balasan. “Sofia masuk ya, Ma,” izinnya membuka handel pintu dan masuk ke kamar sang ibu mertua.
__ADS_1
Bersambung~