SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 38 : Cinta?


__ADS_3

“Mama?” seru Reza membelalak lebar. Bersama Sofia serentak saling pandang, keterkejutan luar biasa berpendar dari wajah keduanya.


Sofia menelisik kedua mata Reza, mencari kebohongan di sana. Seolah mengerti, Reza menggeleng untuk menepis pemikiran wanita itu. Ia memang benar-benar tidak tahu menahu mengenai ibunya.


Langkah kaki Reza beriringan dengan sang istri tanpa melepas tautan jemari mereka. “Bagaimana bisa Mama sampai di sini? Apa yang Mama lakukan? Sama siapa?” cecar Reza menautkan kedua alisnya. Ia mengedarkan pandangan, tidak ada yang ia kenali.


Wajah wanita paruh baya itu begitu pias. Lidahnya pun kelu sampai kesulitan untuk berucap.


“Bi, tolong ambilkan teh hangat,” perintah Sofia dengan sopan.


“Baik, Bu,” sahut ART di rumahnya segera berlalu.


Belum sempat menjawab, wanita gemuk dengan sederet emas di lengan dan jarinya kembali masuk dengan langkah mengendap-endap. Kipas di tangannya pun tak ketinggalan. Ia yang paling bersemangat untuk memprovokasi warga. Memang kesehariannya dijuluki ratu gosip.


“Silakan diminum dulu, Ma,” ucap Sofia mengambil teh hangat dari ART-nya, lalu menyodorkannya pada Yani.


“Loh, bukannya ibu ini tadi yang tiba-tiba mengumpulkan warga dan memberi berita hoax ini ya?” sindir Elly, memicingkan mata.


Sofia menatap keduanya bergantian, tak lama kemudian ia mengurai senyum dan meminta agar Elly keluar dari rumahnya. “Maaf, Bu. Bisa minta tolong tinggalkan rumah saya dulu? Ini urusan keluarga saya. Maaf sekali lagi,” ucap Sofia bernada lembut.

__ADS_1


Elly menggerakkan kipas di tangannya semakin cepat, wajahnya teramat masam, “Loh, kenapa? Eh Sofia asal kamu tahu aja. Wanita ini yang tadi sebarin gosip kalau kamu kumpul kebo. Mati kutu ya kamu sekarang!” cetusnya melirik Yani sembari mencebikkan bibir. Ia tidak akan mau disalahkan dalam hal ini.


Sofia terdiam sejenak, ia menghela napas berat. Lalu kembali mengurai senyum dan meminta Elly agar meninggalkan rumahnya. Sakit? Jangan ditanya lagi. Tapi tidak mungkin ia melakukan hal yang sama. Menurutnya, ini sebuah tantangan untuk meluluhkan ibu mertuanya.


Walaupun menggerutu dan banyak alasan, akhirnya Elly berhasil dipaksa keluar. Hingga kini tinggallah mereka bertiga di ruangan itu bersama seorang ART yang selalu sigap membantu Sofia.


“Bi, tolong siapkan kamar untuk mama. Silakan beristirahat dulu, Ma. Mama pasti lelah,” ucapnya bergantian pada ART dan ibu mertuanya.


Tanpa berucap apa pun lagi, Sofia berbalik dan meniti anak tangga. Tujuan pertamanya adalah kamar Nino. Namun, anak lelakinya ternyata sudah tidur dengan lelapnya. Sofia memberi kecupan lembut pada kening bocah itu sembari membelai puncak kepala. “Nino, keinginan kamu sudah terwujud. Kamu pasti seneng ‘kan?” ucapnya pelan.


Usai memasang selimut, Sofia kembali ke kamarnya. Di depan pintu terkejut dengan pria yang berstatus suaminya itu menjulang tinggi dan menatapnya nanar.


“Sofia, maaf. Aku benar-benar tidak tahu mama ada di sini.” Ketakutan terpancar dari wajah tampan lelaki itu. Bahkan kini berubah pias. Baru saja kebahagiaan menghampiri dan ibunya justru lagi-lagi merusak semuanya.


Lelaki itu mengekor di belakang Sofia. Lalu menutup pintu dengan perlahan, tak lupa menguncinya. Ia duduk dengan canggung di tepi ranjang besar Sofia. Begitu rapi, bersih dan tentunya wangi.


Pandangan lelaki itu tak lepas dari Sofia yang mulai menanggalkan hijabnya. Rambut hitam dan lebat tergerai dengan begitu indahnya. Ia membersihkan make up di depan meja rias, kemudian berganti pakaian tidur di kamar mandi.


Reza menghela napas kasar, jari jemarinya saling bertautan. Sofia masih belum berbicara sepatah kata pun mengenai ibunya. Ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya. Ia benar-benar takut Sofia marah.

__ADS_1


Menunggu beberapa saat, wanita itu keluar dengan piyama satin berlengan pendek. Reza menelan salivanya dengan degup jantung yang bertalu kuat. Setelah sekian lamanya, akhirnya ia kembali bisa melihat istrinya dengan leluasa.


Sofia masih diam, segera merebahkan tubuhnya di tepi ranjang dan menyalakan lampu tidur. “Tidurlah, Mas. Kamu masih pemulihan,” titah Sofia lembut lalu membelakangi lelaki itu.


Dengan gugup, Reza turut bergabung di ranjang sang istri. Menindih salah satu lengannya sembari menatap lekat punggung sang istri yang bergerak teratur. Benar-benar seperti mimpi.


“Sofia, aku minta maaf atas semua sikap mama sama kamu. Besok, aku akan memintanya segera pulang. Agar tidak mengganggu rumah tangga kita lagi,” ucap Reza membuka suara. Ia trauma jika ibunya mengusik kehidupannya lagi.


Ingin rasanya memeluk wanita itu. Akan tetapi entah kenapa nyalinya ciut sekali. Melihat Sofia yang tidak banyak bicara, cukup membuat batin Reza kalang kabut. Ia sangat takut Sofia marah dengannya.


Sofia bergerak, kini menatap ke arahnya. “Emm ... tapi aku akan bicara dulu sama mama. Aku penasaran, apa yang membuat mama membenciku sampai seperti ini sejak dulu. Jika memang aku ada salah, harusnya bicara baik-baik. Dulu aku diam saja, karena aku merasa tidak pantas di sisimu, Mas. Kalau sekarang, aku akan mempertahankan orang-orang yang aku cintai. Tanpa mama, kita tidak akan menikah malam ini ‘kan,” papar wanita itu dengan tatapan nanar.


Reza tersentak, hatinya berbunga mendengar ungkapan cinta dari Sofia untuk pertama kalinya. Ia tak kuasa menahan bibir untuk tidak tersenyum. “Boleh aku memelukmu?” tanya.


“Hmm? Kenapa bertanya seperti itu? Aku istrimu, bahkan kamu berhak melakukannya lebih dari itu,” balas Sofia.


Mendapat lampu hijau, Reza segera merapatkan tubuhnya. Merengkuh tubuh wanitanya dengan sangat erat. Bahkan mencium keningnya bertubi-tubi. “Terima kasih kamu sudah mempercayaiku. Aku juga mencintaimu, Sofia!” ungkapnya mencium kening istrinya begitu lama.


 

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2