SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 39 : Deep Talk


__ADS_3

Tubuh Sofia membeku ketika merasakan dekapan lelaki itu, matanya terpejam menikmati detak jantung yang berderap kuat dari keduanya. Terdengar merdu, namun juga mampu melumpuhkan persendiannya. Bibir tipis itu menyunggingkan senyuman, mendongak untuk menatap wajah pria yang kembali terikat dengannya.


“Mas,” panggil Sofia dengan lembut.


Pria itu menunduk, menyentuh pipi Sofia dan membelainya. Matanya berkaca-kaca, bahkan lama kelamaan bulir bening menetes dari sudut matanya.


“Kok nangis?” tanya Sofia menyeka air mata itu.


Reza menarik napas panjang, semakin deras saja aliran air matanya. “Bagaimana tidak? Setelah sekian lama aku menantikan momen seperti ini, kembali bersamamu. Bertahun-tahun aku kesulitan mencari keberadaanmu, untuk menebus semua kesalahanku dulu. Terlepas kamu memiliki anak atau tidak, terlepas bagaimana keadaanmu sekarang, aku begitu kehilanganmu, Sofia.” Pria itu bertutur dengan nada suara bergetar.


“Kenapa? Bukankah selama dua tahun kamu bahkan tidak pernah melihatku. Hanya datang saat ingin menyalurkan hasrattmu? Aku pikir kamu justru bahagia setelah aku pergi,” sahut Sofia menautkan alisnya.


Reza menunduk hingga keningnya menyatu dengan kening Sofia, tangannya menahan punggung wanita itu. “Mungkin karena pernikahan dadakan kita, membuat aku harus putus dengan kekasihku dulu. Setiap aku melihatmu, aku merasa mengkhianatinya. Dan aku selalu ingin melampiaskan kemarahanku padamu. Tapi, kamu justru masih mau bertahan di sisiku selama itu. Hingga saat kamu pergi, aku baru merasakan kekosongan dalam hidupku.”


Sofia mematung, menggigit bibir bawahnya. Penuturan yang baru pertama kali ia dengar. Sedikit mencubit hatinya, akan tetapi di akhir kalimat membuatnya berbunga.


“Tidak ada yang cerewet menyuruhku sholat dan membangunkanku ketika subuh, tidak ada yang menyiapkan makanan dan pakaian, tidak ada yang membereskan rumah, tidak ada yang menyambutku pulang, rumah benar-benar sunyi. Bahkan ketika mama yang mengurus rumah pun, aku masih tetap merasa kosong, Sofia. Jika saja kamu sudah menikah lagi, mungkin aku akan membunuh suamimu,” lanjut Reza memeluk wanita itu, mengecup keningnya beberapa kali.


Sofia terkekeh, mencubit pinggang suaminya yang sembarangan bicara. “Kamu sih, gengsi. Mana ngata-ngatain pula. Dua tahun enggak dianggap ya sakit lah, Mas. Ditambah lagi, mama selalu saja marah-marah kalau datang. Mencaciku, mengatai aku mandul, beban suami. Yaudah, mungkin udah waktunya aku menyerah,” ujar Sofia pelan.


“Apa? Mama bilang seperti itu?” Reza menjauhkan tubuhnya, hingga dapat melihat anggukan wanitanya sebagai jawaban.


Melihat wajah Reza yang berubah, buru-buru Sofia menggerakkan tangan di pipi sang suami, memaksa pria itu untuk menatapnya. “Tidak apa-apa, kalau mama tidak begitu, aku tidak akan bisa seperti ini.”


Reza menaikkan dagu Sofia, “Kamu luar biasa, Sayang,” ucapnya lalu semakin mendekat dan mencium bibir ranum sang istri hingga lama kelamaan keduanya saling memagut.


Napas keduanya terengah-engah, ketika hampir kehabisan napas. Reza bahkan tidak memedulikan kepalanya yang masih sedikit nyeri.


“Sofia, bolehkan aku....”

__ADS_1


Ucapan Reza menggantung ketika Sofia menggeleng, mimik mukanya mendadak pias melihat penolakan istrinya.


“Ke ... kenapa? Kamu masih marah?”


“Bukan, Mas. Tapi aku sedang haid. Baru sore tadi,” ucap Sofia membuat Reza mengembuskan napas berat. “Lagian Mas belum sembuh sepenuhnya. Tidur ya,” sambung Sofia.


Reza yang sempat melambung tinggi, kini terhempas begitu dalam. Apa mau dikata, sepertinya semesta belum mengizinkan mereka bersatu sepenuhnya. “Enggak apa-apa, setidaknya mulai malam ini aku tidur nyenyak memelukmu,” ucap Reza merapatkan tubuhnya.


\=\=\=\=ooo\=\=\=\=


Keesokan harinya, pintu kamar diketuk berulang. Sofia mengerjapkan mata, buru-buru melihat jam yang ada di atas nakas. Waktu sudah memasuki subuh.


“Iya, Nak. Sebentar,” sahut Sofia melepas lengan Reza yang masih betah membelit tubuhnya.


“Ma! Udah ditunggu!” teriak Nino. Ia heran, tidak biasanya pintu kamar sang mama terkunci.


“Iya, maaf.”


“Mas, bangun. Ayo sholat!” ajak Sofia di telinga Reza.


“Hmm? Katanya kamu lagi halangan? Kamu bohongin, Mas?” tanya lelaki itu masih memejamkan mata.


“Iya, tapi di sini biasa sholat jamaah. Udah buruan bangun, aku tunjukin tempatnya! Ayo, Mas. Ambil wudhu sana! Nino pasti seneng lihatnya.”


Dengan malas lelaki itu segera turun dari ranjang. Sofia bergegas mengikat rambut dan meraih hijab instan lalu mengenakannya.


Benar saja, sesampainya di musholla rumah itu, Nino sangat terkejut sekaligus bahagia. Ia langsung menuntun papanya dan menempatkan di sisinya. Sofia tersenyum di ambang pintu.


\=\=\=\=ooo\=\=\=\=

__ADS_1


Pagi harinya, Sofia menilik kamar ibu mertua yang masih tertutup rapat. ART mengatakan, jika sejak semalam Yani sama sekali belum keluar kamar.


“Yaudah, Bi. Nanti tolong siapkan sarapan dan antar ke kamarnya. Kami harus berangkat sekarang,” ucap Sofia melihat jam di pergelangan tangannya. Karena hari ini, ia harus menghadiri sidang tuntutan dari Perusahaan Axiata.


Nino tengah menuruni anak tangga dengan menggamit tangan sang ayah. Ia sangat antusias pagi ini. Semakin bersemangat untuk rekaman.


“Pa, Papa bisa tinggal di sini terus ‘kan?” tanya Nino sebelum mendekati ibunya.


“Tentu saja, Sayang. Bahkan Papa sudah boleh tidur satu kamar sama mama,” cetus lelaki itu mencubit hidung putranya.


Nino membelalak, bertepuk tangan dengan tawa yang riang. “Asyik! Jangan pernah tinggalin kami ya, Pa! Nino kasihan lihat mama sendirian,” pintanya.


“Tentu saja, Sayang!”


“Mas! Nino! Buruan kita sudah terlambat!” seru Sofia yang melihat dua lelakinya tak kunjung bergerak.


“Yuk! Jangan sampai mama marah!” Dengan kompak mereka segera keluar dari rumah.


“Aku aja yang nyetir.” Reza merebut kunci mobilnya.


“Yakin udah enggak sakit, Mas?” tanya Sofia tampak khawatir.


“Iya, Sayang. Buruan nanti terlambat,” ajak Reza membuka pintu kemudi dan segera duduk di sana.


Usai mengantar Nino, mereka bergegas ke pengadilan. Sofia tampak gugup, jari jemarinya terasa dingin. Ia terus terdiam sampai tak terasa mobil telah berhenti.


“Tenang saja! Aku yakin kamu pasti bisa. Aku di belakangmu,” ucap Reza menggenggam jemari Sofia.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2