
Tubuh Sofia gemetar, dadanya seolah terimpit beban yang begitu berat. Ia mengira sudah kuat, sudah siap menghadapi Reza. Nyatanya semua hanya wacana.
Bulir bening mulai memenuhi kedua manik matanya. Buru-buru berkedip untuk memperjelas pandangan. Bohong jika dia bisa melupakan Reza. Semua hal tentang pria itu, sungguh masih terekam jelas di benaknya.
“Mama jangan sedih. Ada Nino yang akan jaga Mama. Jangan nangis ya, Ma,” ucap Nino yang sedari tadi menunggu jawaban. Menjulurkan lengan kecilnya, menyeka air mata sang mama.
Tersadar, cepat-cepat Sofia fokus berkendara. Menoleh sekilas pada Nino dengan seuntai senyum walau tipis. “Makasih ya, Sayang.” Sofia meraih jemari mungil Nino, dan mengecupnya. Kemudian kembali fokus ke jalan.
Nino tidak berani bertanya lagi. Ia paling tidak bisa melihat sang mama terluka dan mengeluarkan air mata.
“Mampir di hotel bentar ya, Sayang. Abis itu kita pulang. Besok mama harus ke kantor,” ucap Sofia tanpa menoleh.
“Besok Mama nggak bisa cuti?” tanya bocah itu.
“Enggak bisa, Nak. Mama ada meeting penting.”
“Kalau gitu, besok aku nggak sekolah, Ma. Ikut Mama kerja boleh? Nggak ada pelajaran, pasti membosankan,” celoteh anak itu.
Sofia mengerutkan dahi, tidak biasanya Nino meminta libur sekolah dan justru meminta ikut ibunya bekerja.
Hendak menjawab, tetapi mobilnya sudah memasuki lobi hotel yang disediakan penyelenggara acara. Hingga ia memutuskan untuk turun terlebih dahulu.
Tanpa disangka, ternyata Reza mengikuti mereka dari jarak aman. Saat hendak masuk, beberapa petugas keamanan mencegah langkah Reza. Karena harus memiliki akses masuk. Keamanan di sana dijaga dengan ketat.
“Sial!” decak Reza kesal menendang udara, karena tidak bisa menerobos masuk.
__ADS_1
Terpaksa Reza menunggu di mobilnya. Dadanya bergemuruh hebat, mengacak rambutnya hingga berantakan. Kepalanya serasa mau pecah. Ini benar-benar keterkejutan yang luar biasa.
Satu jam, dua jam hingga tiga jam lamanya, Sofia baru keluar bersama buah hatinya. Mereka bergegas menuju mobil dan sepertinya tengah bersiap untuk pulang, terlihat dari tas ransel cukup besar di punggung Sofia.
“Akhirnya keluar juga mereka!” gerutu Reza menunduk di balik kemudi, agar tidak terlihat.
Mobil yang dikendarai Sofia mulai keluar dari area hotel. Ia sudah izin untuk pulang terlebih dahulu. Apalagi, Tama terus menghubunginya sedari tadi karena merasa khawatir.
Reza masih terus membuntuti. Ia penasaran di mana tempat tinggal Sofia saat ini.
Meski hari mulai gelap, tak menyurutkan semangat Sofia menyetir lintas kota seorang diri. Apalagi ditemani putranya yang sedari tadi berceloteh tiada henti.
\=\=\=\=°°°\=\=\=\=
Tiga jam kemudian, mobil yang dikendarai Sofia memasuki pekarangan rumah modern berlantai dua, di salah satu perumahan elit Kota Bandung.
Pikirannya masih sama, mengira Sofia telah mengkhianatinya dan menikah dengan laki-laki kaya.
“Buka! Saya mau ketemu dengan pemilik rumah ini!” seru Reza pada dua satpam yang berjaga.
“Maaf, tapi Ibu sama sekali tidak menitipkan pesan apa pun. Silakan kembali lain waktu. Beliau butuh istirahat dan tidak bisa diganggu!” tegas pria berambut cepak dengan badan kekarnya.
“Heh! Kamu tidak tahu siapa saya? Saya itu suami dari Sofia!” Reza bersikeras ingin melabraknya.
Dua satpam itu saling pandang, lalu mengangguk serentak dan memberi pelajaran pada Reza. Sedikit pukulan untuk membuatnya jera.
__ADS_1
“Jangan pernah membuat keributan di sini! Pergi sana! Dasar gila!” sentak satpam itu menendang Reza hingga tersungkur. Tentu saja ia kalah tenaga.
Reza merasa wajahnya terasa nyeri, beranjak berdiri. Menyeret kakinya menuju mobil. Ia menoleh pada rumah tersebut dengan tatapan nanar. “Sofia!” gumamnya menyandarkan kepala.
Ingin kembali ke Jakarta tidak mungkin. Karena kondisinya benar-benar payah saat ini. Perutnya pun meronta ingin segera diisi. Reza memutuskan mencari makan malam sekaligus penginapan, dan melanjutkan usahanya esok hari. Ia butuh kejelasan.
\=\=\=\=°°°\=\=\=\=
Setelah mengganti pakaian tidur, Sofia merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini. Tidak bergantung pada orang lain dan bisa berdiri di kedua kakinya sendiri, tentu sebuah pencapaian dan kebanggaan tersendiri untuknya.
Sofia menyalakan ponselnya yang ia matikan sejak tadi, terkejut ketika membuka pesan group dari sekolah Nino.
“Jadi ini alasan Nino tidak ingin berangkat sekolah? Ternyata besok ada acara outing class. Dan semua wajib ada pendamping,” gumam Sofia menggigit bibir bawahnya. “Pantesan dia nanya besok bisa cuti atau tidak,” lanjutnya.
Buru-buru Sofia bergegas ke kamar Nino yang berada tak jauh dari kamarnya. Ia mengetuk beberapa kali, tak ada jawaban.
Sofia membuka pintu perlahan, masuk dengan langkah pelan dan duduk di tepi ranjang. Menatap lamat-lamat putranya yang tengah tidur pulas.
Tak terasa air mata Sofia berjatuhan, tangannya membelai puncak kepala Nino. Merasa terenyuh, karena anak sekecil itu bisa mengerti keadaannya. Tidak pernah menuntut apa pun.
“Terima kasih, anak baik. Terima kasih selalu ngertiin mama. Maafin Mama ya,” ucap Sofia mencium kening Nino lalu membenarkan selimut.
Sofia kembali ke kamarnya lagi. Tak disangka, Nino ternyata hanya pura-pura tidur. Ia kembali duduk, menatap nanar ke arah pintu. “Padahal aku nggak mau bikin Mama nangis. Kenapa Mama malah nangis?” gumamnya menggaruk kepala.
__ADS_1
Bersambung~