
Dua wanita yang ada di ruangan itu memutar tubuhnya dengan cepat. Sofia sempat membelalak, namun ia segera berlari mendekati ranjang ibu mertuanya.
“Ma, Mama enggak apa-apa?” tanya Sofia membungkuk.
Air mata meleleh dengan deras dari kedua sudut mata Yani. Ia berusaha keras berucap meski sama sekali tidak bisa.
"Udah, Ma tenang aja. Biar aku yang bicara. Mama istirahat ya,” tuturnya iba, di tengah kondisinya yang tak berdaya, putri bungsunya justru membentak-bentak dengan suara keras.
Sofia menaikkan selimut, menguraikan senyum pada Yani lalu menegakkan punggung dan menatap adik iparnya.
Kilat tajam dari netra Reza langsung menyambut Riana—adik perempuannya, saat berbalik hendak keluar. Reza memang benci dengan ibunya. Karena wanita itu salah satu faktor perpisahannya dengan Sofia. Tetapi, ia memilih diam. Apalagi wanita itu tengah terbaring lemah di sana. Dan adiknya, baru datang justru langsung berteriak lantang seperti itu.
Reza langsung menarik lengan adiknya untuk keluar, diikuti oleh perempuan yang sempat ingin dijodohkan dengan Reza.
“Apa-apaan kamu? Enggak lihat Mama sedang sakit? Kamu itu anak kesayangannya!” bentak Reza di koridor rumah sakit yang sepi. Jauh dari kamar-kamar pasien.
“Mas! Mama malu-maluin tahu enggak? Bayangin aja, dia punya hutang di mana-mana! Siapa yang dikejar-kejar? Siapa yang dicari-cari? Aku, Mas?” teriak Riana membela diri. “Aku pikir mama melarikan diri meninggalkan hutang yang banyak padaku!”
Semalam Riana menelepon ke ponsel Yani, kebetulan diangkat oleh ART di rumah Sofia dan menjelaskan keadaan dan di mana posisinya sekarang. Pagi harinya, Riana segera melakukan perjalanan ditemani perempuan centil yang sering ke rumahnya.
“Aku tiap bulan kirim uang ke rekening kamu untuk kebutuhan mama, buat apa mama hutang sana sini, hah?” berang Reza.
“Ya mana aku tahu!” Riana menjawabnya dengan ketus tidak berani menatap mata sang kakak.
__ADS_1
Sofia menyusul setelah menenangkan ibu mertuanya. Ia mencari-cari keberadaan kakak beradik itu. Suara saling bersahutan kian terdengar. Kemudian ia segera berlari menghampiri.
“Kau bohong? Ke mana uang yang kuberikan selama ini, Riana?” tandas Reza dengan suara penuh penekanan.
“Buat makan sehari-hari lah. Sekarang apa-apa ‘kan mahal, Mas. Enggak cukup lah.”
“Lima juta sebulan kamu belanjakan apa kok sampai enggak cukup? Kamu ngemil emas? Kamu juga selalu minta tambahan kalau mama sakit atau butuh sesuatu!” sentaknya penuh emosi. Riana menunduk, mencengkeram ujung gaun mahalnya.
Reza hampir saja mencekik leher adiknya, namun segera ditepis Sofia. Wanita itu merangkul lengan suaminya dan mendorongnya agar menjauh.
“Sabar, istigfar, tenang, Mas.” Sofia mengusap-usap dada bidang Reza.
Tubuh Reza masih menegang sepenuhnya. Deru napasnya berembus dengan sangat kasar. Sofia terus menggumamkan kata sabar dan mengusap-usap lengan, dada sang suami.
Lelaki itu mengembuskan napas berat berulang kali, lalu memeluk istrinya hingga kemarahannya benar-benar mereda.
“Berapa hutang mama seluruhnya?” tanya Reza dengan nada melemah.
“55 juta!” sahut Riana.
“Besok datanglah ke sini. Aku ambilkan!” tegas lelaki itu lalu melenggang pergi.
Sofia memandang adik ipar yang juga tidak menyukai Sofia dari dulu. Ia tetap tersenyum walau diabaikan. “Riana, Surga itu ada di telapak kaki mama, wanita yang melahirkanmu. Semakin kamu menyakitinya, semakin jauh kamu dari kebahagiaan. Bahkan jika mama berdoa atas kesakitannya, akan menembus langit ke tujuh dan langsung dikabulkan. Minta maaf lah, Ri. Sebelum semuanya terlambat,” tutur Sofia pelan.
__ADS_1
“Enggak sok ceramah deh!” sahut wanita itu ketus.
“Terserah, sebagai kakak ipar, aku hanya mengingatkan,” tukas wanita berhijab itu lalu menyusul suaminya.
....
Keesokan harinya, sesuai janji Reza mengambilkan uang cash 55 juta rupiah. Ia tidak ingin memperpanjang masalah dan mempertanyakan ke mana uang yang ia beri selama ini.
“Mulai saat ini biar kami yang merawat mama! Pulanglah. Kasihan anak kamu,” ucap Reza tanpa ekspresi.
“Nah, gitu dong. Dari dulu kek!” cetus Riana meraih koper kecil dan pulang saat itu juga, tanpa berpamitan dengan mama atau Sofia.
Reza menghela napas panjang, Sofia segera duduk di samping sang suami, melingkarkan lengan di perut sang suami. Menyandarkan kepala di dada bidang Reza yang naik turun dengan cepat.
“Uang bisa dicari, ikhlas ya, Mas. Yang penting hidup kita berkah,” gumam Sofia mendengarkan detak jantung lelaki itu yang bergemuruh hebat.
Sementara itu, di atas ranjang Yani terus mengeluarkan air mata. Merasakan sakit yang menikam jantungnya. Anak yang ia bangga-banggakan, justru membalasnya seperti itu. Melihat ketulusan Sofia, Yani semakin terisak.
Bersambung~
__ADS_1