
Hari demi hari kian berganti, tak terasa satu tahun berlalu begitu cepat. Kehidupan Reza berubah 180°, kebahagiaan yang dulu semu, telah ia rasakan dengan sempurna. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain berkumpul dengan anak istrinya.
Sikapnya juga berubah, selama setahun ini Reza mengurus usaha barunya, baik perizinan, renovasi lokasi, pengajuan kerja sama ke sana ke mari demi bisa membuka usaha bersama sang istri. Selain itu, Reza juga rajin mengikuti kajian, agar bisa menjadi pemimpin yang baik dalam rumah tangganya.
Sofia selalu mendampinginya ke mana pun. Tentu, tidak melupakan tugasnya untuk mengurus dan merawat ibu mertuanya. Segala macam pengobatan dan terapi juga sudah dilakukan, kini kondisinya sedikit ada perubahan. Sudah mulai bisa menggerakkan tangannya.
Nino, sejak peluncuran album pertamanya, banyak sekali job undangan untuk mengisi acara. Tetapi Sofia hanya membatasi di dalam kota saja. Tidak mengizinkan perform di luar kota. Pendidikan pun ia tempuh dengan home schooling agar tidak kelelahan, anak itu pun sangat menikmati pofesinya. Menjalani dengan penuh semangat dan kebahagiaan, apalagi ditambah lengkapnya keluarga.
“Sayang, nama perusahaan sudah deal ya, Rayyanza Parfume,” tutur Reza menghampiri istrinya yang tengah menyeka tubuh Yani.
“Iya, Mas. Sudah di acc?”
“Udah, hari ini disuruh tanda tangan hak cipta, merk dan label perusahaan, Sayang. Setelah ini kita mulai buka lowongan pekerjaan ya,” papar Reza duduk di sebelah sang istri dan menggenggam tangannya, mencium berulang kali hingga membuat Sofia merasa tak enak. Apalagi, Yani tengah memperhatikan mereka saat ini.
__ADS_1
“Mas, ada Mama ih,” elak wanita itu melirik pada sang ibu mertua.
“Ssssof....” Berat dan cukup kesulitan ketika Yani bersuara.
“Mama! Mama sudah bisa bicara?” Sofia segera mendekat. Matanya berbinar, menyentuh tangan Yani yang berusaha ia angkat.
Buru-buru Sofia menyentuh tangan itu dan meletakkan di pipinya. Senyum tulus berpendar dari bibirnya.
“Ma ... af....” Napas Yani tersengal-sengal dan mulai tak beraturan.
Yani memaksa bibirnya tersenyum, ingin sekali beranjak dan memeluknya. Sekujur tubuhnya kaku sepenuhnya. Reza dengan sigap membantu sang mama untuk duduk. Tangannya menepuk-nepuk lengan Reza. “Ma ... af!” ungkapnya menitikkan air mata. Keringat juga bercucuran dengan di keningnya. Tangan dan kakinya terasa dingin.
“Iya, Ma. Maafin Reza juga ya,” sahut lelaki itu masih menopang tubuh ibunya yang selama ini hanya bisa tidur di atas ranjang.
__ADS_1
Tangisannya seakan tertahan, hingga dadanya terasa sesak. Napasnya putus-putus. Sofia mengernyitkan dahnya, “Mas, rebahin lagi aja, Mas,” pintanya.
Reza mengangguk, membantu merebahkan tubuh ibunya yang hampir tak sadarkan diri. “Ma,” panggil Reza di telinga sang mama. Tak lama kemudian, Yani seperti tengah mengorok.
Sofia segera beralih ke sisi lainnya, berbisik untaian kalimat syahadat, berharap sang mama mau mengikuti. Dadanya berdenyut hebat, ia menggenggam tangan Yani yang sangat kaku dan sangat dingin itu. Sofia menggumamkan kalimat syahadat dengan suara bergetar.
Dada Reza seolah dihantam palu raksasa, sesak mengimpitnya, lidahnya kelu sampai tak bisa bersuara lagi. Beberapa saat kemudian, napas Yani tak terdengar lagi. Mulutnya masih menganga, kedua matanya pun terbuka.
“Ma!” panggil Reza dengan suara berat. Sepasang matanya memerah. Ia segera mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Yani, dan juga detak jantung di dada sang mama. Tubuhnya langsung melemas, “Innalillahi wainna ilaihi roji’un!” gumamnya diiringi air mata yang berjatuhan.
“Innalillhai wainna ilaihi roji’un,” tambah Sofia menutup mata dan mulut ibu mertuanya.
Pagi itu, duka menyelimuti kediaman Sofia. Prosesi pemakaman segera dilaksanakan. Sudah menghubungi Riana—anak bungsu Yani, tetapi sama sekali tak ada jawaban. Hingga pemakaman pun berlangsung tanpa putrinya itu.
__ADS_1
\=\=\=\=000\=\=\=\=