
“Papa ke mana aja?” tanya Nino meregangkan pelukan sembari mendongak menatap ayahnya.
“Maaf, Sayang. Sepulang dari sini, Papa sibuk ngurus pindahan, biar semakin dekat dengan Nino. Jadi, belum sempat jenguk Nino lagi. Udah sehat ‘kan sekarang?” tanya pria itu membungkuk, dibalas anggukan semangat dari Nino.
Sofia turut beranjak, mengitari meja kerjanya hingga berdiri di belakang Reza. Tatapannya masih tajam seperti biasa, “Sejak kapan kamu kerja di sini, Mas? Terus kenapa nggak hadir di persidangan?” tanya wanita itu ketus.
Reza beralih memandang Sofia, senyum di bibirnya tak juga pudar sekalipun tak dibalas oleh Sofia. “Udah 3 hari. Kamu-nya aja yang sibuk, jarang di kantor. Makanya nggak tahu,” balasnya ramah. “Oh ya, mungkin surat panggilan dikirim ke rumah lama. Tapi sayangnya sekarang kosong. Aku sudah menjualnya, ya walaupun belum ketemu pembeli yang cocok,” lanjut lelaki itu.
Sofia menghela napas kasar. Ia tidak ingin berdebat lebih lanjut, mengingat ada Nino di depannya. “Di mana kamu tinggal sekarang?” tanya wanita itu.
“Dekat dengan rumah kamu. Biar bisa sekalian jaga kalian,” ujarnya membuat Sofia memutar bola matanya malas.
Ini yang Sofia takutkan sejak dulu ketika bertemu lagi dengan Reza. Ia tidak suka Reza mengusik hidupnya lagi. Apalagi Nino terlihat sangat lengket dengan Reza, meski mereka belum kenal lama. Mungkin benar, darah lebih kental dari pada air. Karena selama ini, Nino tidak bisa dekat dengan orang asing. Sekalipun itu adalah Tama, pria yang selalu mendekatinya selama ini.
“Tepatnya berapa, biar nanti nggak salah alamat lagi. Tolong kirim sekarang,” tegas wanita itu.
__ADS_1
Reza menatapnya nanar, helaan napasnya pun berembus kasar. Mungkin ia terkejut dengan perubahan Sofia. Akan tetapi, menurutnya ini masih belum seberapa dibanding sikapnya dulu. Ia masih mengurai senyum penuh kesabaran disertai anggukan, tidak ingin melebarkan masalah.
“Ohya, mumpung Mas di sini, aku minta tolong siapin ruang meeting. Aku akan pakai lima belas menit lagi.” Sofia menimpali sembari menatap jam di pergelangan tangannya.
Bukannya langsung mengerjakan, pria itu mengerutkan keningnya, “Bukannya sebentar lagi jam pulang?” tanya Reza.
“Iya, tapi ini urgent Mas. Tolong ya,” seru Sofia kembali duduk di kursinya. Ia segera menghubungi developer dan tim marketing untuk ikut rapat darurat.
“Nino bantu papa ya, Ma!” izin lelaki cilik itu pada sang mama.
Karena terlalu tegang, Sofia hanya mengangguk sembari mengibaskan tangan. Ia sedang panik dan tidak bisa diganggu.
“Permisi, Bu,” ujar Reza bersikap profesional kembali sebelum meninggalkan ruangan.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
__ADS_1
“Pa, sepertinya ada musuh dalam selimut,” gumam Nino berkeliling di ruang meeting.
“Maksudnya?” tanya Reza sembari membereskan meja dan kursi, menyusunnya dengan rapi sekaligus membersihkannya.
Nino berjalan mondar mandir sembari berpikir keras. Ia yang sering berkecimpung di dunia bisnis ibunya, merasa ada kejanggalan. Ia duduk di kursi paling depan. Tatapannya serius.
“Perusahaan Mama mau meluncurkan produk baru. Semua proposal, design dan sampel sudah dikirim ke perusahaan iklan. Tiba-tiba ada klaim hak cipta dari salah satu perusahaan, Pa,” tuturnya memutar-mutar kursi yang diduduki.
Reza terkejut, karena Nino berpikiran kritis walau bukan di ranahnya. Ia jadi semakin penasaran dengan putranya itu. Sepengetahuannya, anak seusia Nino hanya bisa bermain, belajar sesuai porsinya. Akan tetapi, berbeda dengan Nino. Putranya mampu membuatnya geleng kepala karena kecerdasan dalam permasalahan dewasa.
“Enggak usah bingung, Pa. Aku sering menemani mama bekerja sejak lama. Sejak bisa lancar membaca, aku sering membantunya. Aku suka hal-hal baru yang lebih menantang dari sekedar mata pelajaran di sekolah. Makanya aku tahu, Pa," jelas Nino ketika melihat kebingungan di wajah Reza.
“Astaga! Ternyata ragamu saja yang kecil. Jiwa bisnis sudah tertanam di otakmu sejak bayi,” seloroh Reza tertawa sembari memegang kepala putranya.
Nino ikut tertawa mendengar candaan sang ayah. Namun tak lama kemudian menepis lengan ayahnya dan menatap serius. “Jadi, langkah kita selanjutnya apa, Pa? Kita enggak bisa biarin mama menghadapinya seorang diri!” tanya Nino menatapnya serius.
__ADS_1
Bersambung~