
“Kalian kenapa?” Reza yang merasa terusik dalam tidur lelapnya, segera membuka sepasang netranya. Ia bahkan tidak bisa bergerak karena ditindih Nino, sedang lengannya yang lain ditindih Sofia.
Suara Reza yang terdengar sontak menaikkan pandangan Nino dan Sofia secara serentak. Wajah mereka sembab dan berlinang air mata, sorot penuh kekhawatiran terlihat jelas dari manik sendu mereka.
“Papa enggak apa-apa ‘kan? Apa yang terjadi, Pa?” tanya Nino menyeka air matanya dan langsung menginterogasi.
Sedangkan Sofia segera membuang wajah, ia merasa malu kepergok menangisi Reza sampai seperti itu. Padahal, ia belum tahu bagaimana kondisi Reza sebenarnya.
“Papa baik-baik saja,” sahut Reza beranjak duduk. Namun tiba-tiba mendesis kesakitan dan menekan pangkal hidung ketika kepalanya serasa berputar-putar.
“Jangan banyak gerak, Mas!” ucap Sofia menahannya.
Lengan Sofia menekan bahu Reza, pandangan keduanya saling beradu. Melihat manik Sofia yang memerah, bulu mata lentik yang basah, tentu mampu menarik kedua sudut bibir Reza membentuk sebuah senyuman. Setidaknya ia bisa merasakan, Sofia masih peduli padanya.
__ADS_1
“Papa!” sentak Nino ketika pria itu justru menatap ibunya lamat-lamat dan mengabaikan kehadirannya.
“Ah, iya, Sayang. Kamu sudah menerima video itu ‘kan? Kalau bisa langsung cadangkan. Itu bukti paling kuat dalam kasus ini,” papar Reza membagi pandangan pada mereka berdua.
“Mas, jadi benar kamu seperti ini karena mereka?” tebak Sofia.
“Iya, aku ketahuan. Bahkan ponselku sepertinya dibawa. Karena waktu aku tanya petugas medis, mereka tidak menemukan apa pun selain dompet. Kamu jangan hubungi dulu. Aku sudah membersihkan galeri dan log panggilan maupun pesan. Aku takut mereka akan mengincar kalian,” tutur Reza menggenggam tangan putra dan istrinya.
Reza menaikkan tangan hingga menyentuh puncak kepala Sofia, mengusapnya dengan begitu lembut. Hal yang bahkan tidak pernah ia lakukan sewaktu masih tinggal bersama dulu. “Mungkin karena kamu menolak cintanya. Makanya dia nekat lakuin apa pun biar kamu bergantung padanya, Sofia.”
Sofia menurunkan kedua tangannya. Menatap mata teduh Reza yang menyimpan ketulusan di sana. Batin Sofia menghangat, di tengah hatinya yang antah berantah, hancur dan sakit, di saat itu pula ia merasa ada yang memberinya kekuatan dan perlindungan, “Alhamdulillah, Allah masih melindungiku!” ucapnya menghela napas pelan.
“Berikan bukti itu pada pengacaramu. Kalau bisa jangan pada pengacara perusahaan. Tapi pengacara pribadi, aku ada kenalan. Mau pakai?” tawar Reza menyarankan. “Aku takut hukum bisa dibeli. Apalagi setelah melihat Tama selicik itu. Takutnya ia juga membayar lawyer perusahaan demi menjatuhkan kamu di pengadilan,” sambungnya yang langsung dibenarkan oleh Sofia.
__ADS_1
“Kamu juga harus bikin laporan, Mas. Ini penganiayaan. Bikin mereka jera,” ucap Sofia menggebu.
“Udah, aku mah gampang. Enggak usah dipikirin. Ini cuma luka kecil kok,” ucap Reza dengan seuntai senyum.
Ingin sekali ia mengajak rujuk wanita itu, tapi diurungkan. Reza tidak mau Sofia melabelinya sama seperti Tama. Melakukan apa pun demi bisa mendapatkannya kembali. Biarlah semua mengalir apa adanya.
Nino tersenyum lebar ketika melihat pemandangan asing ini. Padahal sebelumnya, mamanya sangat jarang berbicara lembut pada sang papa.
“Luka kecil gimana? Lihat, darahnya aja sebanyak ini!” sentak Sofia menunjuk kemeja Reza, yang dipenuhi darah yang mengering.
“Nanti juga sembuh. Yang penting masalah kamu beres,” sanggah lelaki itu menepuk punggung tangan Sofia. “Oh ya, sepertinya kamu juga harus memastikan kontrak Nino. Apakah ada pengaruhnya dengan Tama atau tidak. Bukannya buruk sangka, tapi waspada lebih baik ‘kan sebelum terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan?”
Bersambung~
__ADS_1