SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 49 : Siang yang Panas


__ADS_3

Sofia menumpukan tangan pada suaminya, menatapnya lembut dengan senyuman yang meneduhkan. “Mas, kita buka usaha lainnya ya. Aku enggak bisa jika harus menjadi rival sahabatku sendiri. Bagaimana pun juga aku besar karenanya, aku bukan kerang yang lupa cangkangnya,” seloroh wanita itu tertawa.


Baru hendak menyahut, gesekan biola Nino mulai terdengar, alunan nada-nada indah bersatu padu dengan suara emas seorang penyanyi terkenal membius para penonton dan pendengar di studio, maupun penonton di rumah.


“Kita bahas di rumah aja ya, Mas!” elak Sofia meraih ponsel dan mengabadikan penampilan Nino dengan ponsel pribadinya.


“Baiklah,” balas Reza fokus pada penampilan putranya. Senyum lebar mulai terukir di bibirnya. Tatapan penuh kekaguman tak beralih dari Nino yang sangat menikmati alunan setiap nada yang ia ciptakan.


Sofia menggerakkan kameranya perlahan ke arah ratusan penonton hingga berhenti pada suaminya yang masih fokus dengan Nino. Hingga saat sadar, ia merengkuh bahu Sofia, menarik ke dalam dekapannya. Lalu mengubah mode kamera depan. Mereka menikmati lagu romantis yang tengah menggema. Sofia menunduk karena malu, cepat-cepat mengarahkan kembali pada Nino.


“Mas ih!”


Reza terkekeh, gemas melihat wajah istrinya yang merona malu. Semakin terlihat menggemaskan.


Konser akbar dua jam penuh Nino bersama para musisi lainnya akhirnya selesai. Reza segera membawa Nino pulang, meskipun masih ada acara makan-makan bersama semua crew. Ia tidak ingin putranya kelelahan.


Benar saja, tak berapa lama mobil berjalan, Nino sudah tidur di kursi penumpang belakang. Sofia tidak tega, akan tetapi ia juga tidak ingin mengekang dan membatasi keinginan Nino.

__ADS_1


“Aku aja yang angkat, Sayang,” ucap  Reza buru-buru turun dan bergegas menggendong Nino.


Sofia membukakan pintu mobil hingga ke kamar Nino. Perlahan, Reza meletakkannya perlahan, mencium kening putranya.


“Shalat dulu, Mas,” perintah Sofia membentangkan selimut hingga menutup sebagian tubuh Nino.


Reza mengangguk, mereka meninggalkan kamar Nino dan menuju kamar utama. Sofia membuka hijab yang sedari tadi membungkus rambut panjangnya.


Pria itu terpaku, apalagi mendengar gemercik air kran di kamar mandi. Dadanya berdegup semakin cepat. Bahkan terlihat gugup. Senyum di bibirnya semakin lebar, kakinya melangkah cepat menuju kamar mandi. Matanya berbinar dengan mulut menganga saat menemukan sang istri tengah mengambil air wudhu.


“Sa ... sayang! Kamu ....”


Buru-buru Reza bergegas mengambil wudhu dan bersiap menunaikan ibadah bersama sang istri. Terharu, untuk pertama kalinya mereka berada dalam satu shaf. Manik Reza berkaca-kaca saat berdiri di atas sajadah dan menoleh ke belakang, Sofia tampak mengangguk.


Keduanya pun beribadah dengan khusyuk. Lantunan ayat-ayat suci terdengar merdu dan bergetar dari suara Reza sebagai imam. Sofia sendiri sampai berkaca-kaca.


Setelah selesai dzikir dan berdoa, Reza memutar tubuhnya. Tangannya langsung disambut dan dicium oleh Sofia. Ia mengusap puncak kepala Sofia lalu membenamkan ciuman cukup lama di kening, turun ke hidung dan bibirnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah, impian aku satu shaf di belakangmu akhirnya terwujud, Mas,” ucap Sofia yang langsung dipeluk oleh Reza. Mengingat pernikahan sebelumnya, mereka tidak pernah melakukannya. Sofia benar-benar bahagia.


“Bisakah kita melakukannya sekarang?” tanya lelaki itu.


Sofia mendongak, ia tersenyum lalu mengangguk. Buru-buru Reza membantu melepas mukena Sofia dan membantu membereskannya. Lalu meraup tubuh wanita itu, membawanya ke atas ranjang.


“Pintunya, Mas.”


Reza bergerak cepat menuju pintu dan segera menguncinya. Lalu kembali pada sang istri dengan bersemangat. Langsung merebahkan tubuh di samping Sofia. Merapatkan tubuhnya, dan memeluk wanita itu dengan sangat erat.


Keduanya saling menatap lekat, Reza membelai kepala, pipi hingga berakhir pada bibir ranum sang istri. Beberapa saat kemudian mulai membenamkan ciuman di sana. Berawal sangat lembut hingga berujung menuntut.


Siang menjelang sore itu menjadi saksi penyatuan pertama kali, setelah perpisahan mereka yang begitu lama. Hawa sejuk di kamar itu pun berubah semakin panas, seiring dengan panasnya pertempuran mereka di atas ranjang, demi mengarungi surga dunia bersama.


 


 

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2