
Reza meraih buku menu untuk menutupi sebagian wajahnya. Mata elangnya memindai tajam pria dan wanita yang duduk tak jauh darinya. Buru-buru mengarahkan kamera ponsel dan menyalakan rekam video.
Detak jantung Reza bertalu dengan begitu kuat, gerahamnya mengetat setelah beberapa menit mendengar obrolan mereka. Ingin rasanya menghajar pria itu, namun sebisa mungkin ia tahan karena takut kehilangan bukti penting ini.
“Bapak yakin akan melindungiku ‘kan? Jika kemungkinan terburuknya aku dipecat karena ketahuan, Bapak akan membantuku ‘kan? Ingat perjanjian awal kita, Pak,” ucap Mona dengan tatapan mengintimidasi.
“Haha! Tenang saja, Sofia sudah masuk perangkap kita. Hanya saja, dia memang sedikit keras kepala dan sombong. Aku yakin, sebentar lagi dia pasti akan mengemis bantuan padaku! Ini bayaranmu. Sisanya nanti kalau rencana ini sukses dan berjalan mulus!” sahut Tama menyodorkan amplop cokelat yang cukup tebal.
Reza menaikkan sebelah alisnya. Darahnya serasa mendidih, deru napasnya bahkan cukup kasar saat ini.
“Maaf, mau pesan apa, Pak?” tanya seorang pelayan membuat Reza mendelik. Karena dua orang dalam pengawasannya saat ini melempar pandangan ke arahnya. Buru-buru Reza meletakkan ponsel, menaikkan buku menu dan asal sebut. “Mochacino float!” ucapnya berdehem agar terdengar samar.
“Ada yang lain?” tawar pelayan lagi.
Reza menggeleng agar gadis berseragam itu segera pergi dari sisinya. Sialnya, saat ia mencari keberadaan Mona dan Tama, ia kehilangan jejak. Pria itu memutar pandangan, “Sial!” geramnya menggebrak meja.
Buru-buru lelaki itu menyimpan ponsel setelah mengirim video ke email Nino dan segera menghapus jejak setelah terkirim seluruhnya. Reza meninggalkan selembar uang 50 ribuan, lalu melenggang untuk kembali ke kantor.
__ADS_1
Tak disangka, baru melalui pintu keluar, seseorang memukul belakang kepala Reza dengan vas bunga hingga pecah. Pria itu memutar tubuh sembari menyentuh kepalanya yang terasa basah. Cairan merah menempel di ketiga jarinya.
“Cih! Manusia sampah!” umpatnya ketika melihat Mona yang pucat pasi, membuang sisa pecahan vas bunga.
Meski darah mulai mengalir di kepala Reza, pria itu masih bisa berdiri tegap dengan kedua kakinya. Matanya memicing tajam, dengan gigi yang bergemeletuk hebat.
“Tega-teganya ingin menjatuhkan Sofia! Apa salah dia padamu, hah?!” teriak Reza mencekik leher Mona. Namun tak berapa lama, sebuah pukulan hebat mendarat di tengkuknya hingga ia jatuh pingsan.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Tama. Mereka sempat melihat Reza, Mona langsung memberi kode pada Tama bahwa lelaki itu tengah dekat dengan Sofia dan bekerja di Perusahaan yang sama dengannya.
Beberapa karyawan berlarian, begitu pun dengan petugas keamanan. Tama dan Mona segera keluar dari restoran itu, sebelum dihajar massa. Padahal rencananya, mereka ingin memberi pelajaran pada Reza.
Suasana menjadi genting seketika. Pengunjung yang lewat pun sengaja berhenti karena penasaran dengan percobaan pembunuhan tersebut.
Tiga karyawan membawanya menggunakan mobil restoran. Sesampainya di rumah sakit, Reza langsung mendapat penanganan. Untung saja identitasnya masih melekat di dompet. Sedangkan ponselnya berhasil dirampas oleh Tama.
...\=\=\=\=ooo\=\=\=\= ...
__ADS_1
Terik mentari yang begitu menyengat menandakan hari sudah semakin siang. Nino yang sudah selesai dengan latihan, dengan sabar menunggu kedatangan sang ayah. Namun seketika terkejut ketika melihat rekaman video yang dikirim oleh Reza.
“Ternyata benar,” gumam Nino mencengkeram ponselnya dengan kuat.
Kedua alis Nino bertaut erat ketika tidak bisa menghubungi papanya. Bahkan terakhir online juga pagi tadi.
Firasatnya merasa tidak enak. Nino segera beralih menghubungi Sofia. “Assalamu’alaikum, Ma. Papa di kantor?” tanya Nino dengan cepat ketika mendengar suara panggilannya sudah tersambung.
“Wa’alaikumsalam. Loh, belum dijemput, Nak?” Sofia bertanya balik.
“Belum, Ma. Dan Papa enggak bisa dihubungi. Nino pulang naik grab aja ya, Ma,” izin lelaki itu.
“Iya, Sayang. Hati-hati.”
Sofia mengerutkan keningnya dalam, segera mencari informasi di bagian office boy. Terkejut ketika justru mendapati Reza belum kembali sejak pagi tadi. Dadanya berdegub cukup kuat. Pikirannya berlarian ke mana-mana.
__ADS_1
Bersambung~