
Selesai dengan rekamannya, Nino segera keluar untuk menunggu kedatangan sang papa. Akan tetapi, bukan Reza yang datang. Justru Tama, bersama seorang wanita yang tak lain adalah Mona, tengah menoleh ke samping kanan dan kirinya.
Tama mengenakan sebuah topi untuk menyamarkan penampilan. Ia masuk untuk meminta izin manajer Nino, agar bisa membawanya pulang. Pria itu mengatakan bahwa ini adalah pesan Sofia. Sayangnya, mereka percaya saja dengan Tama. Yang memang sedari awal membawa Nino bergabung ke sana.
Dari belakang Nino, Tama mengeluarkan sapu tangan. Mona mengangguk di seberang jalan untuk memastikan kondisi sekitar aman. Sehingga Tama segera membekap hidung dan mulut Nino dengan sangat kuat. Sempat memberontak, bahkan Nino refleks mengayunkan biolanya ke kepala Tama sekuat tenaga.
Alhasil bekapan itu terlepas, Nino berlari sekuat tenaga sembari merogoh ponselnya. Karena panik, Nino justru berlari keluar, bukan ke dalam dapur rekaman yang masih ada beberapa staff di sana. Ruangan kedap suara, sama sekali tidak akan mendengar teriakannya. Sedangkan di luar sangat sepi. Untuk membuka pintu pun lumayan berat, takut jika Tama justru akan membopongnya paksa.
“Astagfirullah, siapa itu?!” gumam Nino melangkah cepat dengan sepasang kaki kecilnya. Semakin menjauh untuk mencari tempat persembunyian. Sebelumnya ia meraih ponsel untuk melakukan panggilan cepat di kantor polisi. Sofia memang sudah menyiapkan semuanya di ponsel Nino.
“Taman Tadika! Tolong! Ada penculik anak!” Nino berucap tanpa basa-basi dengan napas tersendat. Bahkan tanpa menunggu balasan, ia mempercepat larinya.
“Nino, tunggu! Mamamu memintaku untuk menjemputmu!” teriak Tama mengejar. Namun, ia kehilangan jejak saat berada di pelataran taman yang begitu ramai dan luas. “Hei, Mona! Ke mana larinya bocah itu tadi?” sentak lelaki itu pada wanita yang turut berlari meski kesulitan karena memakai heels.
“Sa... saya enggak tahu, Pak. Pasti masih di sekitar sini!” ucap Mona membungkuk, menumpukan tangan di kedua lututnya dengan napas tersengal-sengal.
“Goblokk! Ngawasin anak kecil aja enggak bisa!” berang Tama berkacak pinggang. Wajahnya memerah. Kepalanya juga masih berdenyut nyeri akibat pukulan keras Nino. Karena itulah langkahnya tidak seimbang, bahkan hampir terhuyung saat mengejar Nino.
Bocah kecil itu meringkuk di bawah pohon yang rindang. Ia sangat mengenal suara itu. Meski keringat mengguyur wajah tampannya, ia tak ingin menyerah. Apalagi ketika suara Tama dan Mona terdengar semakin mendekat.
Nino meraih kelereng di dalam tas. Ia selalu membawanya ke mana pun. Memang tujuannya untuk berjaga-jaga menjebak para penjahat.
Derap langkah di trotoar, disertai umpatan dari Tama semakin dekat. Jantung Nino berdetak semakin kuat. Ia menuangkan satu toples kecil kelereng di trotoar tersebut, sedikit memberi dorongan ketika melirik keberadaan mereka berdua. Menyisakan tiga biji dan segera menyiapkan ketapel.
“Aaaahhh!” pekik Mona dan Tama bersamaan ketika langkah cepat mereka harus terpaksa terhenti. Keduanya tergelincir hingga jatuh terjengkang di atas trotoar tersebut.
Mendengar teriakan kesakitan dan suara debum terjatuh, Nino keluar dari tempat persembunyian. Ia berdiri di depan Mona dan Tama. Segera lelaki kecil itu membidik kepala Tama dengan tiga kelereng yang tersisa.
"Aaarggh!" pekik Tama mengerang kesakitan.
__ADS_1
“Om mau apa lagi?” tanya Nino menantang.
“Kurang ajar! Tidak tahu terima kasih!” umpat Tama mencoba berdiri meski kepalanya terasa semakin pusing.
“Oh, lalu bagaimana caranya aku berterima kasih untuk orang-orang yang telah menghancurkan mama? Anda Mbak Mona? Apa salah mama sama Anda? Sampai-sampai tega melakukannya. Padahal mama sudah begitu baik sama Mbak Mona!” tandas Nino dengan tatapan tajam.
Kakinya sengaja menendang tempat sampah yang berdiri di sebelahnya. Hingga isinya tumpah ruah tepat mengenai Tama dan Mona. “Maaf, Om, Mbak. Sampah harus dibuang di tempatnya!” ketus anak itu semakin menyulut amarah dua orang itu.
“Sialan kamu, Nino! Kamu itu anak kecil! Tidak perlu tahu urusan orang dewasa!” teriak Tama menendang tempat sampah itu ke arah Nino. Namun berhasil dihindari. “Sini kamu!” Ia melambaikan tangan sambil memegangi pinggangnya yang encok.
“Bau sekali seperti hatimu, Om!” ledek Nino mencubit hidung mancungnya, bocah itu tersenyum ketika melihat dua lelaki berpakaian rapi berlari ke arahnya.
Sesuai laporan Nino, petugas kepolisian langsung datang namun tidak berseragam agar tidak begitu mencolok dan membuat pelaku kabur.
“Angkat tangan!” seru mereka menodongkan senjata api ke arah Tama dan Mona.
Keduanya langsung diringkus oleh dua lelaki kekar itu, lalu membawanya ke mobil. Dan seorang pria berseragam segera melindungi Nino. “Kamu tidak apa-apa, Dek? Apa mereka melukaimu?” tanyanya menilik tubuh Nino.
“Syukurlah. Kalau begitu ayo saya antar. Mereka ternyata buronan!” ucap pria berseragam itu setelah mengeceknya berulang dengan ponselnya. Dua orang yang sedang diburu pihak berwajib karena kasus penganiayaan dan rekayasa.
“Saya nunggu papa, Pak. Nanti beliau kebingungan mencari saya. Sekali lagi terima kasih, Pak. Permisi, assalamu’alaikum,” ucap Nino sopan sedikit membungkuk lalu kembali ke tempat rekamannya. Polisi itu tak membiarkannya seorang diri. Ia mengawal Nino sampai di tempat tujuan.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
“Ya Allah, Nino! Kamu dari mana saja!” teriak Reza berlari ketika melihat Nino dari kejauhan.
Ia segera memeluk anaknya, menangkup kedua pipinya dan menatapnya nanar. “Dari mana, Nak? Kenapa ada polisi?” tanya lelaki itu saat menatap pria di belakangnya.
Nino lalu menceritakan kronologi bagaimana Tama dan Mona berusaha menculiknya. Namun, ia berhasil kabur dan melapor polisi.
__ADS_1
“Ya Tuhan!” pekik Reza kembali memeluk Nino dengan sangat erat. Sedari tadi ia sudah mengamuk karena membiarkan Nino pergi bersama orang lain, bukan orang tuanya. Dan kini mendengar penuturan Nino yang hampir celaka. Sungguh, jantung Reza seakan hendak melompat dari dadanya.
“Sudahlah, Pa. Nino enggak apa-apa. Ayo pulang, Nino mau ketemu mama!” ucap bocah lelaki itu menepuk punggung sang papa.
Reza meregangkan pelukannya, mencium kening dan pipinya bertubi-tubi. Bersyukur sekali karena putranya masih diberi keselamatan.
Setelah drama kemarahan berujung permintaan maaf dari perusahaan label musik atas kelalaiannya, Reza segera membawa Nino pergi dari sana. Sejak tadi ponselnya sudah memekik karena panggilan beruntun dari Sofia. Namun, Reza sama sekali tidak berani mengangkatnya.
“Pa, itu mama?” tanya Nino merasa terusik dengan dering ponsel itu.
“Iya, Sayang. Papa enggak berani angkat karena tadi kamu hilang,” ucap Reza melajukan mobilnya.
“Mama pasti khawatir, Pa.”
“Ya gimana dong. Papa bingung. Kamu aja yang angkat ya. Kan Papa nyetir,” sanggah pria itu.
Nino meraih ponsel sang papa di dashboard. Segera mengangkat dan meletakkan di telinga. “A....”
“Mas ke mana aja sih? Kenapa udah mau sejam kamu enggak sampai juga? Kamu nyasar ke mana sebenarnya? Nino pasti udah nunggu lama, Mas! Kenapa sejak tadi enggak angkat teleponku, hah?” cecar Sofia berteriak di ujung telepon.
Nino menjauhkan ponsel sembari meringis mendengar kemarahan sang mama.
“Mas!” pekik wanita itu lagi ketika tak mendengar jawaban.
“Assalamu’alaikum, Ma. Maaf kami lama,” Balas Nino dengan sopan.
“Waalaikumsalam... ya Allah, Nino! Di mana kalian, hah? Bikin panik Mama tahu enggak?”
“Iya, Maaf, Ma. Ini lagi di jalan. Sabar, Ma. Sabar,” ucap Nino menoleh pada sang papa yang mengulumm senyumnya. Entah kenapa justru hatinya menghangat mendengar kecerewetan sang istri.
__ADS_1
Bersambung~