SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 24 : Keputusan Berat


__ADS_3

“Eh, gara-gara wanita itu kamu sampai membentak Mama! Wanita yang telah melahirkanmu!” seru Yani tidak terima.


Reza tidak ingin mengeluarkan sumpah serapah pada sang ibu, meletakkan sebuah amplop di tangan ibunya cukup kasar. Tatapannya masih terlihat nyalang. “Terserah Mama mau melakukan apa. Tapi jika Mama menyakiti Sofia lagi, jangan harap aku akan diam saja, Ma!” Suara pria itu terdengar mengancam.


Setelah mengucapkannya, Reza melenggang menuju mobilnya, diikuti sebuah mobil pick up di belakangnya.


“Reza! Reza! Mau ke mana kamu?!” teriak Yani yang diabaikan oleh lelaki itu.


...\=\=\=\=oooo\=\=\=\=...


Sembuh dari sakitnya, Nino mulai beraktivitas kembali seperti biasa. Libur sekolah yang panjang, ia isi dengan memperbanyak latihan biola. Mengingat, ia sangat bersemangat menerima tawaran rumah produksi yang akan mengontraknya.


Sofia masih membatasi waktu latihan. Satu minggu berdiam diri di rumah, benar-benar membuat Nino bosan. Ia sering melamun, karena papanya tidak lagi berkunjung menemuinya. Ia merasa kesal karena saat bersama, lupa menanyakan nomor ponsel pria itu saking menikmati waktu mereka bersama. Meminta pada sang mama tidak berani.


Pagi ini, Nino sudah siap dengan kemeja dan celana panjang. Rambutnya yang rapi, tentu memperindah penampilannya.


“Ma, berangkat sama Mama ‘kan?” tanya Nino menerobos kamar ibunya yang terbuka.


Nino tampak terpaku, ketika menemukan sang mama sibuk menyeka air mata sembari menggenggam sebuah surat di tangan, namun buru-buru disingkirkan ketika mendengar langkah Nino mendekat.


“Mama kenapa?” tanya Nino berdiri di depan sang mama.


Sofia menggigit bibir bawahnya, manik matanya bergerak ke sana ke mari untuk menyampaikan kegundahan hatinya. Wanita itu menarik napas panjang, meraih kedua tangan kecil Nino dan menciumnya bergantian. Lalu mengangkat pandangannya hingga bertumbukan dengan netra sendu putranya.


“Nino, boleh Mama tanya sesuatu?” izin Sofia tanpa melepas genggaman tangannya.

__ADS_1


“Kalau seandainya papa dan mama nggak bisa bersatu lagi, boleh?” tanya Sofia membuat Nino tercekat.


“Tenang aja, Nino masih boleh kok ketemu papa. Kalau Nino pengen menginap sama papa juga boleh. Tapi kita nggak bisa tinggal bersama.” Pelan, tetapi cukup menusuk hati Nino.


Kebahagiaan yang sempat ia rasakan, nyatanya harus melebur kembali. Mata Nino memerah, berulang kali menelan salivanya yang terasa berat. Hatinya cukup terkoyak. “Kenapa, Ma?” tanya Nino singkat. 


“Ada banyak hal yang tidak bisa mama sampaikan, tapi Nino harus berjanji sama Mama.” Sofia merapikan rambut Nino yang sudah sangat rapi sebenarnya. Menyentuh kedua bahu anak itu, lalu melanjutkan ucapannya, “Apa pun yang akan Nino tahu tentang papa kelak, jangan pernah membencinya ya. Melihatnya waktu merawat Nino kemarin, Mama yakin, papa sangat menyayangi Nino.”


“Apa papa pernah menyakiti mama?” selidik Nino dengan tatapan serius.


Sebuah ketukan berulang pada daun pintu, mengurai ketegangan di kamar itu. Sofia menoleh, tampak Bi Sri berdiri sembari mengangguk di ambang pintu. “Maaf, Bu. Pak Tama sudah menunggu di bawah,” ujarnya sopan.


“Iya, Bi. Terima kasih, sahut Sofia segera beranjak. Meraih tasnya dan memasukkan amplop panjang itu ke dalam tasnya.


Tak ada jawaban apa pun, mereka segera berangkat dengan mobil berbeda. Tama bersama Nino menuju sebuah perusahaan label musik sedangkan Sofia, menuju pengadilan agama. Ya, hari ini merupakan sidang perceraiannya yang pertama.


Sofia berkendara seorang diri, jika boleh jujur, hatinya berdenyut nyeri membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Perceraian, sebuah keputusan berat yang baru berani ia ambil setelah melalui berbagai pertimbangan.


Reza tidak ada kabar sama sekali sejak kepulangan Nino dari rumah sakit. Ia sendiri tidak ingin mencari tahu ke mana lelaki itu. Meski sesekali Nino menanyakannya.


Setelah tiga puluh menit berkendara, mobil yang dikendarai Sofia berhenti di sebuah pelataran pengadilan agama. Kedatangannya disambut oleh pengacara.


“Selamat pagi, Bu. Pihak tergugat tampaknya belum hadir, bahkan kuasa hukumnya juga belum terlihat,” lapor pengacara Sofia.


Sofia terdiam sejenak, ia mengangguk kemudian segera melenggang ke ruang sidang. Ia duduk dengan gelisah, kedua tangannya yang dingin saling meremas. Degup jantungnya berlarian sedari tadi.

__ADS_1


...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...


“Nino, ada apa? Mamamu tidak setuju?” tanya Tama ketika melihat Nino murung sedari tadi.


Bahkan bocah itu sama sekali tidak fokus dengan apa pun yang disampaikan oleh direktur perusahaan tersebut. Tatapannya sedari tadi tampak kosong.


“Tidak, Om. Mama mendukung kok. Lalu aku harus ngapain?” Nino menarik kembali kesadarannya.


Tama kembali menjelaskan isi surat kontrak yang akan mereka jalani selama dua tahun ke depan. Pria itu dengan sabar membacakan setiap poin hak dan kewajiban Nino selama mereka terikat kontrak. Bukan hanya ia seorang, tapi juga melibatkan seorang penyanyi solois terkenal yang akan berkolaborasi dengannya. 


“Nino tenang aja. Semua disediakan oleh perusahaan. Nino tinggal terima bersih nanti latihan, rekaman dan peluncuran album bersama Kak Raina!” seru Tama setelah selesai menjelaskan keseluruhan isi.


Nino mengangguk mengerti, tidak ada semangatnya sama sekali. Dengan diwakili oleh Tama, semua dokumen kerja sama ditanda tangani olehnya. Ia merasa bertanggung jawab penuh pada anak itu.


“Halo, Nino. Seneng banget bisa kerja sama kamu! Kamu keren!” puji Raina, penyanyi yang sedang naik daun saat ini.


“Terima kasih, Kak. Semoga semua lancar,” sahut Nino membalas jabat tangan gadis remaja itu.


Hari sudah mulai beranjak siang, mereka masih tahap pengenalan dan penyesuaian. Sehingga tidak memakan waktu lama.


“Om, Mama ke mana? Boleh minta tolong antar Nino ketemu Mama?” tanya Nino ketika mereka sudah dalam perjalanan pulang.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2