
Sofia bergeming, pikirannya menelisik beberapa waktu lalu. Di mana Tama mendesaknya untuk menyetujui kontrak Nino. Kepercayaannya pada lelaki itu, tidak sampai berpikir jauh.
“Sof,” panggil Reza menyentuh tangan Sofia yang menggantung di udara.
Terjingkat kaget, Sofia menarik tangannya dengan kasar. “Ah, iya, Mas. Aku akan memastikannya lagi. Mungkin besok ketika aku mengantarnya,” balas wanita itu memalingkan muka. Sejak tadi, Reza sama sekali tak melepaskan tatapannya.
Nino memilih mundur dan duduk di sofa. Ia merebahkan tubuh sembari mengotak atik ponselnya. Mengabaikan pasangan yang terlihat salah tingkah, bak anak remaja yang baru jatuh cinta. Ia bahkan mengenakan haedset untuk mendengar alunan biola dari para musisi ternama sebagai bahan pembelajaran.
Sofia melirik nakas yang terdapat nampan dengan makanan khusus pasien. Ia mengalihkan kegugupannya untuk meraih nampan tersebut. “Masih utuh, belum dimakan ya?” tanyanya membuka plastik wrapping yang menutup nampan tersebut.
Sofia meletakkan kembali, membantu Reza untuk duduk. Berada di posisi sedekat itu, membuat Reza tak kuasa menahan senyumnya.
“Rasanya aku pengen sakit terus aja. Selama bisa deket sama kamu,” gurau Reza mendongak.
“Ish! Mulutnya! Jangan sembarangan bicara!” ketus Sofia menyuapkan makanan tersebut.
Beberapa waktu berlalu, Sofia menghubungi pengacara pribadi dan bertemu di ruang rawat Reza. Ia menyerahkan semua bukti-bukti sekaligus meminta keterangan dari Reza sebagai saksi sekaligus korban penganiayaan. Sofia tidak terima, ia juga ingin menindak lanjuti kasus yang dialami Reza.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
__ADS_1
Satu minggu kemudian, Reza sudah diperbolehkan pulang. Luka di kepalanya mulai mengering. Namun, meski begitu Sofia masih khawatir. Ia meminta Reza untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Mengingat di kontrakan tidak ada siapa-siapa.
Sofia juga sudah memastikan kontrak Nino, dan ternyata memang benar adanya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tama. Setidaknya ia bisa bernapas lega, meski kini harus mengawasi dan menemani Nino kemanapun dia melangkah. Sofia takut Tama akan menggunakan Nino untuk menekannya.
Malam kian larut, Sofia baru pulang dari kantornya. Ia memang sering pulang malam akhir-akhir ini. Tiba-tiba terkejut ketika melihat rumahnya dikepung oleh warga sekitar. Bahkan teriakan-teriakan mereka menggema sembari menggebrak pintu gerbang. Karena satpam rumah tersebut sama sekali tidak mau membukanya.
“Ada apa ya ini, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu? Kenapa membuat keributan di rumah saya?” tanya Sofia setelah turun dari mobil. Keningnya mengernyit ketika menatap tatapan nyalang dari para warga, baik pria maupun wanita.
“Nah! Ini dia! Wanita sok suci! Sok pinter di depan kamera, taunya busuk di belakang!” cecar seorang wanita dengan tatapan sinis.
“Iya! Kamu sudah mengotori kompleks ini! Berani-beraninya kumpul kebo!” tambah lelaki bertubuh gempal.
“Jangan-jangan Nino memang anak haram! Bapaknya enggak jelas yang mana!”
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi seorang wanita yang mengucapkan kalimat terakhir. Ia bisa terima semua cacian untuknya. Tapi tidak jika sudah menyangkut Nino.
Amarahnya membuncah, kedua netra Sofia yang biasanya teduh kini menatap nyalang. “Jangan pernah sebut anakku seperti itu. Mulutmu itu yang haram!” tegas wanita itu dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Hendak dibalas, namun Sofia sigap menangkap lalu mengempaskan tangan itu dengan kasar. Namun seketika itu ibu-ibu lainnya juga turut maju dan berniat menyerang Sofia.
“Heh! Dasar murahan! Keluar kamu dari kompleks ini!” teriaknya menarik hijab Sofia ke belakang. Sofia mempertahankan dengan kedua tangannya, agar hijabnya tidak terlepas dari kepala.
Mendengar bising dan keributan, Nino dan Reza keluar dari rumah. Langkah keduanya dipercepat kala melihat Sofia tengah dicecar habis-habisan oleh para warga.
Sofia didorong oleh mereka, namun Reza memanjangkan langkah dan menangkapnya kala pintu gerbang dibukakan oleh satpam. Kepalanya sampai berdenyut nyeri karena gerakan kasarnya.
“Kamu enggak apa-apa?” tanya Reza menatap wanita itu dalam dekapannya.
Sofia mengatur napas, pandangan matanya saling bertautan erat. Hingga suara memekakkan telinga menyadarkannya.
“Tuh kan bener, kalian kumpul kebo. Akhirnya keluar juga! Ayo, kita kawinkan mereka segera. Dari pada mencoreng nama baik kompleks kita dengan kumpul kebo begini!” seru salah seorang pria.
Bersambung~
__ADS_1