
Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, Sofia berjalan diiringi oleh kuasa hukumnya. Reza sendiri mengekori mereka, bersiap jika nanti dijadikan saksi.
Ruang sidang sudah penuh, Sofia duduk di tempat yang sudah disediakan. Status terlapor masih melekat dalam dirinya, setelah proses penyidikan selama beberapa hari sebelumnya. Ia duduk tenang, pandangan lurus ke depan dengan sebuah microphone di tangan kanan.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai menghujaninya, di mana jaksa penuntut terus mendesaknya agar mengakui tindakan plagiat yang dilakukan oleh Sofia.
Senyum tipis justru mengembang di bibir wanita itu, ia mengedarkan pandangan sejenak, mencari pelaku utama. Akan tetapi keningnya mengernyit saat tidak menemukan mereka berdua. Sofia hanya menemukan sahabatnya yang menampakkan wajah tak bersahabat.
“Sudah boleh menjawab, Pak?” tanya Sofia setelah cecaran pertanyaan yang menggebu terlontar penuh emosi.
“Kepada pihak terlapor, waktu dan tempat dipersilakan.”
Sofia menarik napas panjang, senyum di bibirnya masih tak kunjung pudar. Ia mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih. “Saya tidak ingin banyak bicara untuk melakukan pembelaan. Namun sebelumnya, izinkan saya menunjukkan hasil desain dari tim developer kami,” ucapnya menoleh pada pengacaranya lalu mengangguk.
Cahaya lampu dikurangi agar pembiasan cahaya dari proyektor bisa terlihat lebih jelas.
“Ini adalah desain kami, file-nya asli, bukan hasil copyan. Bisa dicek oleh para ahli. Dan di sini tertera tanggal mulai pembuatan desain pertama, hingga final desain tim kami. Bisa dilihat history-nya ya, Yang Mulia,” ucap Sofia sembari menyorotkan senter kecil berwarna merah pada setiap detail gambar beserta waktunya.
“Kemudian ini laporan semua bahan yang akan diproduksi, produksi krim untuk pertama kali, hasil tes laborat di perusahaan kami, pengajuan BPOM, semua sudah kami rangkum dengan runtut. Silakan bandingkan dengan Perusahaan Axiata!” tegas Sofia menunjukkan setiap slide laporan demi laporan yang tertera dalam soft file tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai, lampu kembali dinyalakan sepenuhnya. Tim kuasa hukum Sofia dan kuasa hukum perusahaan menyerahkan hardcopy yang sudah dilegalkan.
Hakim dan jajarannya memeriksa dengan teliti lembar demi lembar, juga meminta tim ahli untuk mengecek keabsahan dokumen tersebut. Setelah itu, hakim meminta perwakilan Perusahaan Axiata untuk menyerahkan laporan.
Hampir dua jam berkutat dengan bukti-bukti. Hingga akhirnya Reza membuka suara. “Mohon izin, Yang Mulia!” ujarnya mengangkat tangan sembari berjalan ke depan.
“Saya sudah melaporkan kasus penganiayaan yang telah dilakukan oleh oknum, yang bersangkutan dengan kasus ini. Akan tetapi, sampai sekarang tidak ada tanggapan dari kepolisian. Jadi, langsung saja saya serahkan bukti di sini untuk memperkuat Nyonya Sofia dan Perusahaan Widya Skin Care, sama sekali tidak bersalah,” ucapnya lugas tanpa ada keraguan.
Hakim tampak sedang berunding, kemudian mengiyakan permohonan Reza. Pria itu menyerahkan sebuah flashdisk hasil rangkuman segala bukti yang ia dapatkan. Mulai dari kelicikan orang kepercayaan Sofia, percakapan Tama dengan Mona, bukti CCTV di cafe sebelum dihapus oleh Tama. Semua benar-benar jelas.
Reza bergeming di samping Sofia, tak beranjak dan enggan untuk kembali duduk. Ia meraih jemari Sofia dan menggenggamnya, walau pandangannya saat ini lurus ke depan menghadap majelis hakim.
Sofia berkaca-kaca, tidak pernah menyangka akan kembali bersatu dengan Reza, dalam angan-angannya saja tidak pernah. Kini justru menjadi tameng ketika ia sedang tersandung masalah.
Cukup lama mereka menunggu, hingga saatnya panitera membacakan hasil persidangan. Detak jantung Sofia sudah bagai genderang perang. Mengingat, ini adalah pertama kalinya ia terbelit dalam urusan hukum.
“Berdasarkan bukti-bukti yang valid, dengan ini hakim memutuskan pihak tergugat tidak bersalah dan terbebas dari segala tuduhan! Sedangkan pihak penggugat akan diproses secara hukum terkait pencemaran nama baik, plagiat sekaligus penganiayaan. Sidang ditutup!” Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali.
Sofia menangis tersedu-sedu, Reza segera memeluk wanita itu, mengecup puncak kepalanya berkali-kali. “Alhamdulillah,” seru Sofia membenamkan wajahnya di perut Reza yang masih berdiri di sampingnya.
__ADS_1
“Selesai, semua sudah selesai, Sayang. Kamu hebat!” puji Reza berkali-kali memeluknya begitu erat.
Kini wanita itu menumpahkan segala lelahnya, setelah selama ini memperjuangkan keadilan dan kebenaran atas nama perusahaan, karena ia sebagai penanggung jawabnya. Ingin rasanya berteriak histeris atas keberhasilannya kini. Namun, tidak bisa. Ia hanya mampu menangis dalam pelukan Reza.
Dua orang pengacara yang mendampingi Sofia bahkan sampai tidak berani menyela. Mereka menunggu Sofia menuntaskan tangisnya.
Reza terus menggumamkan kalimat-kalimat pujian serta menguatkan. “Maaf, Pak, istri saya memang sebenarnya cengeng. Walaupun di luar terlihat kuat dan tegar,” celetuk Reza merasa tidak enak dengan dua pengacara di sampingnya.
DEG!
Sofia baru tersadar, jika tidak hanya mereka berdua di ruangan besar ini. Ia bahkan tidak menyadari gemuruh tepuk tangan dan teriakan dari para bawahannya. Tubuh Sofia membeku, memundurkan punggungnya untuk membuat jarak dari Reza.
Namun dengan cepat Reza kembali memeluknya, mengusap-usap punggungnya, "Tidak apa-apa, lanjutkan saja, Sayang. Mereka mengerti kok,” gumam lelaki itu membuat gelak tawa orang-orang di sekelilingnya.
“Mas! Aku malu!” bisik wanita itu ingin menenggelamkan diri di dasar samudra.
Widya sedari tadi mengamati interaksi mereka, ia menatap nanar punggung Sofia. Hendak menyapa, tetapi rasanya tidak memiliki keberanian.
__ADS_1
Bersambung~
Wahai para bestie di mana pun kalian berada, semoga sehat selalu. 💖😍 terima kasih atas semua like dan komennya 😘