
Rentak kaki yang menggema kini semakin mendekati Sofia. Para bawahannya yang mengikuti jalannya sidang dan turut berjuang bersamanya, menjerit diiringi tangis penuh syukur.
“Bu!” seru mereka bersamaan, tanpa memedulikan kehadiran Widya maupun Reza.
Mereka sama sekali tak peduli, tujuannya hanyalah ingin memeluk Sofia, karena sudah berhasil memenangkan sidang.
Reza terpaksa mundur, memberikan waktu untuk para wanita muda itu meluapkan kebahagiaan yang diiringi isak tangis itu.
Sofia beranjak dari kursi, agar memudahkannya menjangkau para anak buahnya. Seketika mereka mengimpit tubuh Sofia dengan saling berpelukan. Isak tangis memenuhi ruang sidang. Teringat bagaimana perjuangan mereka selama beberapa hari terakhir. Sungguh, tidak ada yang sia-sia dalam semua usaha dan kejujuran mereka.
“Udah, jangan pada nangis.” Sofia menyeka pipi mereka satu persatu. Ia melarang, tapi sendirinya sedari tadi tak bisa menghentikan tangisnya. Senyum mengembang di bibir tipisnya.
“Alhamdulillah, terima kasih atas kerja keras kalian semua ya,” lanjut Sofia menanggapi isakan tangis para bawahannya. “Kita makan enak setelah ini! Semua aku traktir!” sambungnya yang segera disambut dengan pekikan bahagia dan tepuk tangan.
Senyuman Sofia semakin lebar, Reza begitu bangga dan semakin kagum dengan istrinya itu. Terlihat sekali wanita itu begitu lembut, penyayang namun tegas. Pria itu merasa jatuh cinta semakin dalam pada sang istri.
Reza tersenyum ketika Sofia melongokkan kepala mencari keberadaannya. Mata jernih wanita itu masih tampak basah. Jika tidak sedang di tempat umum, ingin rasanya lelaki itu mendekapnya erat dan tidak akan melepaskannya. Namun ia ingin memberi waktu pada Sofia bersama teman-temannya.
“Mas, tolong jemput Nino ya. Langsung saja nanti ketemu di Kings Resto,” ucap Sofia.
“Iya, Sayang! Aku berangkat sekarang. Hati-hati ya,” balas Reza mengayunkan kaki panjangnya, mendekat pada Sofia. Lalu memberi kecupan singkat di kening wanitanya.
Sepasang netra Sofia membelalak sempurna, semburat merah menyembul dari kedua pipinya. Tubuhnya mematung seketika, melihat sikap Reza di depan para bawahannya.
__ADS_1
“Oh my God! Apa ini?”
“Ibu!”
“Aaaaaa! Aku ketinggalan apa ini!”
Jerit para gadis itu histeris melihat sikap Reza, bahkan sampai mengentakkan kaki mereka berulang. Benar-benar terkejut luar biasa. Ketegangan mereka sedari tadi, membuatnya tidak fokus akan kehadiran Reza.
Dan kini, mata mereka menangkap sebuah pemandangan langka. Ya, baru mereka lihat pertama kali. Lebih tidak menyangka lagi, pria itu merupakan seorang OB yang sering mereka goda.
“Sssstt, jangan berisik. Ayo keluar!” ajak Sofia merasa malu.
“Eh, enggak bisa, Bu. Harus dijelasin sejelas-jelasnya sekarang juga. Enggak tahu apa, kami tuh fans berat Mas Reza. Ibu jahat banget diam-diam menghanyutkan,” kelakar Nadia, gadis imut yang memang begitu mengagumi sosok Reza.
Sofia terkekeh mendengarnya, “Dengar semua, Mas Reza itu suami aku, ayah kandung Nino. Jadi, mulai sekarang kalian jangan goda-goda suami orang lagi!” tegas wanita itu menunjuk lima gadis di depannya.
“Su ... suami? Ayah Nino?” gumam mereka terbata-bata.
“Bu, tunggu!” teriak mereka setelah sadar dari keterkejutan.
Namun kelima gadis yang selalu di belakang Sofia itu segera mengerem langkah kakinya, saat mendapati Widya berdiri tepat di hadapan Sofia.
“Sofia ....”
__ADS_1
“Widya, aku bawa anak-anak makan dulu ya. Kita bisa bicara besok aja ‘kan di kantor? Atau kamu mau ikut gabung sama kami?” tawar Sofia berucap lembut.
“Eee ... tidak, kalian saja. Aku masih ada urusan. Baiklah, besok aku tunggu di ruanganku,” balas Widya merasa tak enak pada sahabatnya.
“Iya, baik. Kami permisi dulu ya,” pamit Sofia. “Ayo anak-anak, aku nebeng mobil siapa ini?” serunya menoleh ke belakang.
“Buk, kami enggak punya mobil kalau Ibu lupa.” Nadia menjawab dengan ekspresi tak mengenakan.
“Astagfirullah, maaf.” Sofia menepuk keningnya sambil terkekeh. “Yaudah pesen grab aja ya, dua mobil!” putus Sofia yang segera dijalankan oleh sang bawahan.
\=\=\=ooo\=\=\=
Sofia mengembuskan napas lega, senyum manis sedari tadi tak pernah luntur dari bibirnya. Ia melihat satu per satu bawahannya yang sudah seperti adiknya sendiri.
“Terima kasih ya atas kerja keras kalian.” Sofia menggigit bibir bawahnya, menatap para gadis yang tengah melahap makanan dengan nikmat. Karena selama beberapa hari, tidak ada yang berselera makan sama sekali.
“Ibu jangan berterima kasih terus. Ini juga karena Bu Sofia yang cerdas dan juga cekatan. Kalau tidak, pasti kami juga gelagapan.”
“”Iya, Bu. Kita tuh satu tim. Jangan pernah merasa sungkan.”
“Pokoknya Bu Sofia keren. Udah cantik, baik, pinter lagi. Uuhh rela aja deh Pak Reza buat Ibu.”
Celoteh mereka bergantian, bibir Sofia mengatup saat mendengar kata Reza. Ia menatap jam di pergelangan tangannya. Kenapa sudah hampir setengah jam, suami dan anaknya belum sampai juga.
__ADS_1
Bersambung~