
“Buk, kami ikut. Ibuk mau pindah ke mana?” celetuk salah satu bawahan Sofia.
“Enggak ke mana-mana. Aku di rumah aja. Jadi kalian, tetaplah di sini. Ingat bagaimana perjuangan awal kalian waktu masuk ke sini? Bagaimana proses kalian hingga menjadi seperti ini? Jangan bergantung pada orang lain. Tapi percaya dengan kemampuan kalian sendiri. Mau siapa pun pemimpinnya, insha Allah kalian tetap bisa bekerja dengan baik,” tutur Sofia menatap mereka satu per satu.
“Tapi enggak ada yang seenak Ibu kalau diajak konsultasi, Ibu yang sabar bimbing kita, kasih solusi, enggak pernah marah, selalu belain kami. Tolong jangan tinggalin kami, Bu!” teriak Nadia menangis meraung.
Sofia menghela napas panjang, "Kalian harus tunjukkan pada semua orang, bahwa kalian juga bisa! Semangat ya, aku harus segera pergi. Ibu mertuaku masuk rumah sakit. Assalamu’alaikum,” ucap Sofia melepaskan diri dan segera melenggang pergi dari sana. Ia tidak akan kuat jika terus-terusan berada di sana. Sedari tadi sudah menahan tangis agar tidak pecah.
“Kalian jangan pernah mengambil keputusan saat lagi emosi. Jangan cepat memutuskan sesuatu hanya karena orang lain. Bersungguh-sungguhlah saat bekerja. Ambil semua ilmu yang diajarkan Sofia. Dan terapkan di diri kalian masing-masing. Hargai keputusannya. Semangat ya semua. Sampai jumpa di waktu dan tempat yang berbeda. Kalian tetap saudara bagi Sofia. Assalamu’alaikum.”
Reza memberi sedikit petuah pada para gadis yang kini saling berangkulan dengan tangis sesenggukan. Ia segera menyusul istrinya yang sudah menuju mobilnya.
Benar saja, wanita itu menangis sesenggukan di dalam sana. Hatinya yang lembut memang mudah tersentuh, ia sudah menganggap tempat kerjanya adalah rumah kedua. Tapi apa boleh buat, keputusan ini harus segera direalisasikan.
Usai meletakkan barang-barang di bagasi, Reza setengah berlari dan segera duduk di kursi kemudi. Memeluk wanitanya terlebih dahulu sebelum menyalakan mobilnya, mengusap lembut punggungnya dan memberi ketenangan.
“Sudah nangisnya, malu sama Nino,” cibir Reza setelah beberapa saat.
Sofia mencebikkan bibirnya, menerima tisu yang diulurkan Reza dan menyeka air matanya. Reza mengusap puncak kepalanya lalu melajukan mobil ke rumah. “Sayang, kita beliin Nino biola baru ya. Biolanya rusak,” ucap lelaki itu.
__ADS_1
“Kok bisa, Mas?” tanya Sofia tersentak.
“Jatuh mungkin,” Reza hanya mengedikkan bahunya. Namun tak berani menatap Sofia.
“Baiklah, ini juga sudah jam pulang sekolah. Sekalian kita ajak jalan-jalan, Mas. Udah lama dia enggak main di luar,” saran Sofia dijawab anggukan oleh lelaki itu.
Siang yang semakin terik, Nino terkejut ketika melihat mama dan papanya menjemput di depan gerbang sekolah. Impiannya sejak dahulu akhirnya terwujud. “Mama! Papa!” pekik bocah itu berlari mengambur memeluk orang tuanya.
“Hai, Sayang!” sapa Reza membungkuk mencium puncak kepala putranya.
“Emmm ... senengnya,” ujar Sofia membelai pipi Nino.
Reza meraih tubuh putranya yang semakin tinggi setiap harinya, “Mulai hari ini, Nino pasti seneng terus ya. Kita main yuk, sambil cari biola lagi yang baru!” ajak lelaki itu.
“Hore! Makasih, Pa!” ucapnya girang memeluk leher sang papa.
Nino segera turun setelah memberi kecupan pada pipi papa dan mamanya bergantian. Lalu beralih duduk di kursi belakang. Kebahagiaan bocah itu tak terkira.
Hampir dua jam berkeliling di toko musik, akhirnya bocah itu menemukan biola yang cocok sebagai partner terbarunya. Setelah itu, keluarga kecil itu beralih makan siang bersama. Reza menawarkan bermain time zone, tapi Nino menolak. Ia ingin segera pulang dan mencoba alat musiknya.
__ADS_1
“Nino, sementara Mama dan Papa akan menginap di rumah sakit nungguin nenek. Nino di rumah bersama Bibi dan Mbak enggak apa-apa ‘kan?” tanya Sofia ketika mobil telah berhenti di pelataran rumah. Dan mereka turun bersamaan.
“Iya, Ma,” sahutnya singkat. Sebenarnya Nino masih kesal dengan neneknya. Apalagi ingatannya masih begitu tajam saat pertama kali mereka bertemu di Jakarta dulu. Rasa benci telah menghina sang mama masih melekat di otak dan hati bocah cerdas itu. Meski tak terucap dari mulutnya.
Sofia bergegas membersihkan diri, bergantian dengan Reza. mereka harus segera kembali ke rumah sakit.
\=\=\=000\=\=\=
Sesampainya di rumah sakit, Sofia segera mendatangi dokter yang menangani Yani untuk mendengarkan penjelasan.
Dokter menyatakan wanita itu mengalami strok ringan, tekanan darah tinggi dan kolesterol juga tinggi. Jadi, dokter menyarankan untuk tetap dirawat di rumah sakit sampai kondisinya stabil, selebihnya akan rawat jalan.
Keduanya segera kembali ke ruangan Yani. Mengingat mereka sudah terlalu lama meninggalkan wanita itu. Sesampainya di ambang pintu, samar-samar mereka mendengar suara wanita yang memekik.
Sofia saling berpandangan dengan Reza, lalu segera masuk. Dan benar, ada dua perempuan yang kini tengah berdiri di dekat ranjang Yani, mereka memunggungi pintu sehingga tidak tahu jika ada yang masuk. Apalagi, suaranya terdengar menggelegar memenuhi ruangan.
“Assalamu’alaikum, kalian siapa? Kenapa marah-marah dengan mama saya?” sela Sofia menghentikan amarah salah satu wanita itu.
Bersambung~
__ADS_1