
Sofia terkejut mendengar isak tangis di ruangan itu. Ia melerai pelukannya, langsung beranjak mendekati ibu mertuanya. “Ma, ada yang sakit?” tanya Sofia dengan lembut.
Tatapan mata Yani begitu sendu. Cairan bening memenuhi kedua netranya. Ingin sekali menangkup wajah cantik nan teduh wanita di hadapannya itu. Tetapi tidak sanggup. Sehingga Yani hanya bisa menangis dan semakin tersedu.
“Mas, panggil dokter! Aku takut mama kenapa-napa!” teriak Sofia yang kebingungan.
Reza turun beranjak mendekati ranjang ibunya, ia bisa melihat wanita itu berusaha menggelengkan kepala meski kesulitan. Reza menangkup bahu istrinya dan menjatuhkan kecupan di kening. “Tidak perlu, Sayang. Sepertinya mama hanya ingin meminta maaf sama kamu,” tutur lelaki itu lembut membaca sorot mata penyesalan dari sang mama.
Sofia menoleh sekilas, kerutan di dahinya semakin jelas. Kemudian kembali beralih pada ibu mertuanya yang berkedip berulang. Sebagai isyarat mengiyakan ucapan Reza.
Bibir Sofia mengurai senyum, duduk di kursi yang ada di samping ranjang. “Ma, jangan khawatir. Sofia enggak bisa membenci Mama. Bagaimanapun, ibu dari suamiku adalah ibuku juga. Sofia hanya berharap mama meridhoi pernikahan kami. Dan jangan khawatirkan apa pun. Agar Mama lekas sembuh. Mulai sekarang, kami berdua akan merawat Mama,” ucap wanita itu begitu lembut.
Betapa bangganya Reza bisa kembali mendapatkan Sofia. Ia memeluk wanita itu dari belakang, “Aku sangat bersyukur atas kesempatan kedua untuk mendapatkan bidadari surga,” gumam Reza memeluk istrinya dengan erat.
"Aku tidak sebaik yang kamu lihat, juga tidak seburuk yang terlintas di pikiranmu.” Sofia menyentuh lengan sang suami sembari menatapnya.
“Ah sepertinya kamu melebihi bidadari!” ujar Reza mengecup kening sang istri berkali-kali.
Melihat binar kebahagiaan putranya, Yani turut merasakan kebahagiaan tersebut. Ia semakin dalam tergerus dalam penyesalan. Menyesal karena ia sendiri yang selama ini merusak dan mengubur kebahagiaan putranya. Berbagai rangkaian kalimat seandainya terus bergulung dalam hatinya.
\=\=\=000\=\=\=\=
__ADS_1
Satu minggu penuh, pasangan suami istri itu merawat Yani dengan telaten. Menggantikan popok dewasa, menyeka setiap jengkal tubuhnya, semua dilakukan dengan ikhlas. Reza yang awalnya masih setengah hati, tersadar ketika Sofia pernah mengatakan, “Kamu akan menyesal ketika Mama sudah tidak ada di sisi kita.”
Esok hari yang cerah di kediaman Sofia, Nino tampak sudah sangat rapi bersiap untuk konser peluncuran album terbarunya. Senyum bocah itu juga sangat cerah, karena didampingi kedua orang tuanya. Semangatnya semakin membumbung tinggi.
“Nino, selalu ingat pesan Mama ya,” ucap Sofia di backstage setelah panitia menjelaskan rundown acara yang akan berlangsung hari ini.
“Berdoa, usaha dan tawakal. Nino selalu ingat kok, Ma.”
“Dan ....”
“Apa pun yang terjadi setelahnya, tidak boleh sombong. Banyak bersyukur,” tukas Nino memotong ucapan ibunya.
"Siap, Pa. Nino naik dulu ya,” pamit lelaki itu berlari kecil usai mencium tangan kedua orang tuanya.
Pasangan itu segera mendudukkan diri di kursi yang telah disediakan. Acara berlangsung sangat meriah, beberapa stasiun televisi melakukan siaran langsung. Rasa bangga sekaligus haru menyeruak di benak Reza. Ia sampai menitikkan air mata. Tak henti-hentinya bersyukur karena memiliki anak dan istri yang luar biasa.
“Mas, sidang Tama kapan digelar?” tanya Sofia di tengah-tengah gegap gempitanya acara.
“Bukannya sudah ya, kalau enggak salah kemarin,” sahut Reza mengingat-ingat.
“Oh ya? Kok kamu enggak datang? Hasilnya gimana?”
__ADS_1
“Tenang aja, bukti sudah sangat jelas. Dua pengacara hebat sudah pasti tidak akan membiarkannya bebas dengan mudah. Dia akan menerima hukuman yang pantas,” papar Reza mengusap kepala istrinya.
“Aku hanya takut kalau dia bebas lalu mencoba mencelakai keluarga kita, Mas," tutur Sofia khawatir.
"Tenang saja, Sayang. Oh ya, aku mau sewa gedung di kawasan industri daerah Mangga. Menurut kamu gimana, Sayang?” tanya Reza meminta pendapat.
“Hem? Untuk?”
“Aku mau buka usaha skin care, relasi kita sudah banyak. Dengan berbekal kemampuan kita, aku yakin, kita berdua pasti bisa sukses, Sayang,” papar Reza antusias.
Sofia menghela napas berat, ia tampak keberatan dengan ide suaminya. “Mas, aku enggak mau kalau kita merintis usaha skin care,” tolak wanita itu tanpa basa-bai.
“Loh, kenapa, Sayang? Di era modern seperti ini, tentunya banyak kaum hawa maupun pria yang berburu skin care. Lagi pula kita sudah tahu betul seluk beluk produksi skin care, konsultasi dokter, sampai cara pemasarannya.” Reza masih kekeh ingin meyakinkan.
“Tidak, Mas ....” Sofia menjeda ucapannya. Menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Bersambung~
Kita akan berpisah di beberapa part ke depan ya, Best 🥺
__ADS_1