SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 33 : Fakta Menyakitkan


__ADS_3

Sesampainya di kantor sang mama, Nino segera berlari ke ruang kerja Sofia. Napasnya terengah-engah ketika membuka pintu dengan kasar.


Sofia menaikkan pandangan, keningnya mengerut dalam ketika melihat kepanikan di wajah putranya. Ia segera beranjak, mendekati Nino sembari menyeka bulir keringat di wajahnya.


“Kenapa, Sayang?” tanya Sofia.


“Ma, belum ada kabar tentang papa?” Nino justru balik bertanya.


Gelengan lemah Sofia membuat Nino menelan salivanya gugup. Buru-buru membuka tas dan menyerahkan ponsel miliknya pada Sofia setelah membuka galeri. “Mama lihat, semua itu dikirim oleh papa. Dan aku takut terjadi sesuatu dengan papa, Ma!” ucap Nino gusar. Dadanya masih berdegup hebat membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada sang papa.


“Duduk dulu,” titah Sofia menerima benda pipih putranya, ia menuangkan segelas air putih pada Nino berharap bisa sedikit memberikan ketenangan.


Barulah Sofia duduk di kursinya, memutar video yang sontak membuatnya membelalak lebar. Percakapan mereka terdengar sangat jelas. Dadanya bergemuruh hebat bahkan kini tangannya gemetar.


Napas Sofia mulai tak beraturan, ia juga menggeser slide dan menemukan banyak video serupa di sana. Termasuk saat melakukan internal meeting.

__ADS_1


Sesak, nyeri seakan menusuk jantungnya ketika mengetahui sebuah fakta. Bahwa orang terdekatnya justru saling bekerja sama demi bisa menjatuhkannya. Kepalanya berdentum kuat saat ini. Matanya terpejam sembari menarik napas dalam-dalam agar kemarahannya tidak meledak. Dalam hati Sofia terus beristighfar demi mencapai ketenangan dan tidak dikuasai amarah.


“Ma! Kita harus cari papa! Semua video itu hasil penyelidikan papa, Ma!” seru Nino memudarkan Sofia yang tenggelam dalam kesakitannya.


Sofia membuka mata dengan cepat. Ia menghubungi resepsionis dan menanyakan mengenai kabar tentang Reza. Terkejut, ketika ia mendapati kabar bahwa Reza berada di rumah sakit atas dugaan penganiayaan. Pihak HRD, serikat pekerja dan manajemen asuransi sudah mengurusnya.


“Nino. Papamu ....” Sofia semakin lemas. Ia menekan dadanya yang bertalu kuat.


Nino berlari menghampiri, menyentuh lengan ibunya dan sabar menunggu penjelasan sang mama. Sofia gemetar meraih gelas dan meneguk air putih hingga tandas.


Nino mengangguk, mendengar kata rumah sakit membuat pikirannya menerka-nerka. Karena Sofia tidak menjelaskan secara detail.


Ibu dan anak itu segera meninggalkan kantor menuju rumah sakit sesuai informasi yang ia dapat dari resepsionis.


...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...

__ADS_1


Langkah kaki serentak Nino dan Sofia, menggema di lorong rumah sakit. Pandangan mereka lurus ke depan. Tangannya saling menggenggam kuat. Hingga ia bisa menemukan nomor ruangan di mana Reza dirawat.


Pintu ia buka dengan kasar, Nino langsung berlari memeluk papanya yang masih memejamkan mata. “Papa!” panggil Nino terisak di atas dada sang ayah. "Papa bangun," tambahnya memecah keheningan di kamar tersebut.


Sofia mematung, menatap lelaki yang kini terbaring lemah di atas brankar. Bibirnya memutih karena pucat, bercak darah bahkan masih terlihat di kerah kemejanya.


“Mas Reza?” gumamnya dengan suara lirih. Ia melangkahkan kaki yang terasa begitu berat.


Sampailah tepat di samping ranjang pasien, menatapnya nanar dengan tenggorokan tercekat. Sofia terduduk di kursi dengan kasar. Air matanya mulai menggenang hingga pandangannya memburam.


“Mas,” panggil Sofia mulai terisak. Ia menjatuhkan kepala di tepi ranjang tepat di lengan Reza yang begitu dingin. “Bangun, Mas!” tambahnya di sela tangisnya.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2