
Cukup lama dua pasang netra itu saling bertautan dengan erat. Meski begitu, konsentrasi Reza sama sekali tak terpecah. Ia bahkan tersenyum dengan jari jemari yang masih bergerak lincah. Menikmati setiap nada-nada yang tercipta.
Hingga gemuruh tepuk tangan dari para pengunjung menandakan berakhirnya pentas seni ayah dan anak itu.
Napas Nino masih tersengal, ia menyeka kedua pipinya yang basah. Mengurai senyum yang sangat manis. Disusul Reza yang kini berdiri di sebelah Nino.
Mereka saling melempar tatapan puas, Reza menengadahkan tangan yang disambut tepukan semangat dari Nino. Dua lelaki beda usia itu saling menggenggam, lalu membungkuk serentak dan membuat suara tepuk tangan semakin keras.
“Luar biasa kekompakan mereka. Hah, saya sampai berkaca-kaca mendengarnya. Terima kasih Ananda Nino beserta Tuan Reza atas perform yang luar biasa ini. Tepuk tangannya sekali lagi!” teriak pembawa acara yang kemudian membacakan rentetan acara selanjutnya.
Sedangkan Reza dan Nino beralih ke back stage. Tak ingin kecolongan lagi, Sofia beranjak dari duduk. Ia mempercepat langkah menuju belakang panggung. Matanya celingukan mencari putranya.
Akan tetapi, Sofia sama sekali tidak menemukannya. Ia kebingungan dan mulai panik. “Mbak, Anda lihat Nino?” tanya Sofia.
Beberapa orang yang ia lempar pertanyaan, hanya menggeleng. Sofia semakin panik karena ia tidak menemukan Reza. Wanita itu bergegas keluar dari hotel. Berharap, Reza tidak membawa Nino pergi.
Sambil melangkah cepat, Sofia meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Nino. Akan tetapi tidak ada jawaban. “Nino! Kamu ke mana?” seru Sofia menepuk keningnya. Mondar mandir sembari menekan panggilan berulang.
Setelah beberapa saat, Sofia membuka kontak Reza. Sudah lama sekali ia memblokir nomor lelaki itu. Entah masih aktif atau sudah berganti, Sofia tidak tahu. Sofia menarik napas panjang, jemarinya gemetar membuka blokir itu. Denyut jantungnya semakin kuat. Ia menekan panggilan dan meletakkan benda pipih itu di daun telinga.
__ADS_1
“Halo.” Tak butuh waktu lama, suara Reza terdengar.
“Di mana Nino, Mas?” tanya Sofia dingin.
“Ada bersamaku. Tenang saja, aku tidak akan menyakitinya. Hanya meminta waktu bersamanya sebentar saja,” balas Reza dengan nada santai.
Sofia membelalak, ia memutar tubuhnya, mencari mobil lelaki itu. Iya yakin jika Reza belum jauh dari hotel.
“Kembalikan Nino padaku, Mas!” teriak Sofia melanjutkan langkahnya ke area parkir yang luas. Matanya mencari-cari ke sana kemari.
“Kenapa kamu ketakutan begitu? Apa yang kamu sembunyikan, Sofia? Sepertinya Nino kelelahan, dia tidur. Aku nggak tega banguninnya.” Reza langsung mematikan telepon itu secara sepihak.
Benar ucapan Reza, anak itu merasa lelah. Tenaganya terlalu diforsir dalam dua minggu terakhir. Apalagi dalam seminggu ini, Nino sudah dua kali bolak balik Bandung-Jakarta untuk menghadiri acara besar itu.
Dari kejauhan, Sofia melihat mobil Reza keluar dari area parkir. Dan kini semakin mengarah keluar hotel. Ia segera berlari untuk mengejarnya.
“Mas! Tunggu! Kembalikan Nino! Jangan bawa Nino, Mas!” pekik Sofia susah payah berlari mengejar mobil Reza.
Reza tak melihatnya kaca jendela yang tertutup rapat, membuatnya tak mendengar teriakan Sofia. Mobil semakin menjauh dan kini tak terlihat di pelupuk mata Sofia.
__ADS_1
“Nino!” teriak Sofia semakin mempercepat larinya. Ia sampai lupa bisa mengejar dengan mobil, saking paniknya. Hingga kakinya terkilir dan akhirnya tubuh semampainya jatuh berdebam di pelataran luas itu.
“Sofia!” seru seorang pria yang segera membantu Sofia berdiri.
Hendak melangkah lagi, Sofia merintih dan tubuhnya terhuyung karena merasakan kakinya sakit luar biasa. Untung saja sepasang lengan kekar dengan sigap menangkap tubuhnya.
Bersambung~
Nino 🥰
Sofia 🥰
Reza belum nemu yg pas 🤣
__ADS_1