SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 31 : Wanita Berprinsip


__ADS_3

“Ehm! Pagi-pagi serius amat, Neng?” seloroh seorang pria di ambang pintu ruangan Sofia yang terbuka.


Wanita yang duduk di balik meja besarnya terperanjat, mendongak untuk mencari sumber suara. Napasnya berembus berat, berusaha untuk mengurai senyum walau bibirnya terasa kaku. Ia kembali fokus pada dokumen di hadapannya untuk mencocokkan pada layar komputer.



“Hai, Sofia. Apa kabar?” Tama mendekat hingga berdiri di depan Sofia.


“Alhamdulillah, baik, Mas. Oh ya, maaf aku lupa ngabari. Nino udah berangkat 20 menit yang lalu,” tutur Sofia menatap jam di pergelangan tangannya.


Raut wajah Tama tampak kecewa. Ia sudah berharap ingin mendekati Sofia melalui Nino. “Yaudah, mungkin bisa besok-besok kali ya,” ucapnya.


“Maaf, Mas. Aku lagi sibuk banget. Apa kamu nggak ada kerjaan?” tanya Sofia berniat mengusirnya. Bahkan ia hanya menatap lelaki itu sekilas. Padahal biasanya ia sangat menghargai lawan bicaranya.


“Aku kebetulan mau meeting dekat sini. Jadi kupikir sekalian,” sahut lelaki itu mengintip layar datar wanita itu.


Sofia hanya mengangguk. Dari raut wajahnya saja sudah kentara, bahwa ia sedang tidak bisa diganggu.


“Sofia, kamu ada masalah?” tanya Tama menunjukkan simpati.

__ADS_1


“Sedikit. InshaAllah bisa aku selesaikan. Aku butuh konsentrasi, Mas. Jadi minta tolong banget tinggalin ruangan ini dulu ya,” pinta Sofia memohon.


“Sharing lah, kali aja ada yang bisa aku bantu,” tawar lelaki itu.


Namun Sofia enggan menanggapi. Ia tetap berpegang teguh pada prinsipnya untuk tidak bergantung pada orang lain. Bukan karena sombong, tetapi lebih menjaga diri dari hal-hal yang tak terduga. Sofia juga tidak ingin berhutang budi pada siapa pun. “Terima kasih, Mas,” gumamnya pelan.


Melihat penolakan Sofia, Tama pun berdecak kesal dalam hatinya. Hati Sofia bagai batu yang susah ia hancurkan. “Baiklah, kalau begitu aku permisi ya.” Pria itu berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Sofia. Karena memang percuma.


...\=\=\=\=\=ooo\=\=\=\=\=...


“Gimana, Sofia? Sudah ketemu benang merahnya belum?”


Ya, Widya memang baik pada orang yang berdedikasi tinggi seperti Sofia. Akan tetapi, ia sama sekali tidak mentolerir kesalahan yang fatal. Apalagi sampai membuat perusahaannya jatuh.


“Sedang berusaha, semoga tepat waktu!” ucap Sofia menghela napas panjang.


“Kalau memang kita terbukti kalah di persidangan, maaf, Sofia. Sepertinya karirmu juga harus berhenti di sini,” tutur Widya tidak main-main.


Gerakan Sofia seketika terhenti. Detak jantungnya semakin meningkat cepat. Beberapa detik kemudian, Sofia mengangguk dengan senyum tipis. “Baik. Apa pun keputusannya nanti, aku akan berhenti. Ini adalah kinerjaku untuk yang terakhir kalinya, Widya. Jadi, tenang saja. Aku pasti bertanggung jawab,” papar Sofia.

__ADS_1


Pernyataan itu membuat Widya tersentak tak percaya. Ia mengira, Sofia akan melalukan apa pun demi masih bisa mempertahankan karirnya. Ternyata salah. Sofia justru ingin mengundurkan diri sekalipun nanti dia berhasil menang di persidangan.


“Ta ... tapi, Sof....”


“Terima kasih banyak atas semuanya Widya. Tapi sebuah kepercayaan itu menjadi pondasi kuat dalam sebuah hubungan maupun pekerjaan. Jika kita sudah kehilangannya, sedikit saja angin menerpa, maka semua akan rubuh. Kamu mengerti maksudku ‘kan? Jadi, aku akan berusaha yang terbaik untuk mengembalikan nama baik perusahaan ini.” Sofia berucap dengan pelan namun cukup menusuk di hati Widya.


Widya berpikir sejenak, ia yakin itu hanya gertakan saja. Karena Sofia masih butuh pekerjaan untuk menghidupi putranya seorang diri. “Baik, kita lihat nanti.”


Tanpa berpamitan, Widya melenggang pergi. Kekhawatiran mengenai hancurnya perusahaannya membutakan mata hatinya untuk melihat kejujuran di mata Sofia.


Namun sekali lagi, Sofia wanita berprinsip. Ketika ia sudah merasa tak dihargai, ia akan pergi mencari tempat lain yang lebih bisa menghargainya. Sangat disesalkan jika persahabatannya harus turut hancur pula.


...\=\=\=\=ooo\=\=\=\= ...


Reza baru saja kembali, namun saat berhenti di lampu merah, matanya memicing tajam saat melihat dua orang yang sangat ia kenal tengah duduk di sebuah restoran tak jauh dari kantor. Terlihat jelas karena mereka duduk di samping jendela transparan yang lebar.


Ia pun membelokkan sepeda motornya menuju restoran tersebut. Tetap mengenakan masker sembari melepas helm, memasuki tempat makan yang baru buka itu. Mendudukkan diri tak jauh dari dua orang yang sangat mencurigakan di matanya.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2