SECRET BABY

SECRET BABY
Bab 27 : Minimal Sudah Berusaha


__ADS_3

Reza terdiam sejenak, ia meraih sebuah kursi dan menopang dagunya. Kedua alisnya bertaut begitu dalam, memikirkan rencananya. “Papa belum tahu seluk beluk perusahaan ini. Belum terlalu kenal juga sama para karyawan. Jadi harus tahu isi meeting nanti dan siapa saja yang terlibat di dalamnya,” ucapnya pada Nino yang duduk di seberangnya.


Nino mendongak, memutar pandangan mencari sesuatu. Reza pun mengikutinya, lalu pandangannya kembali turun. “Nino! Kamu ada ponsel ‘kan? Sini dulu!” pinta Reza berdiri menghampiri Nino.


Bocah itu mengangguk, segera meraih benda pipihnya dan memberikan pada Reza tanpa banyak bertanya.


Reza juga mengeluarkan ponselnya, ia tampak serius mengotak atik dua benda elektronik itu. Setelah beberapa saat, Reza berdiri di sebuah sudut untuk membidiknya.


“Pa, kita nggak ada waktu lagi!” Nino berdiri merapikan setiap kursi yang ada di ruangan tersebut.


“Heem ... tenang aja. Ini sementara, nanti kita cari alat yang lebih canggih. Semoga nggak ketahuan. Minimal kita sudah berusaha,” ucap Reza meletakkan ponsel mereka di sudut berbeda, namun tidak akan ada yang menyadarinya.


“Nino tunggu sebentar, Papa akan segera kembali!” Reza berlari keluar ruangan menuju lift. Dengan tidak sabar, Reza terus menekan lantai dasar. Setelah pintu lilft terbuka, Reza kembali mempercepat  langkah ke area parkir.

__ADS_1


Pandangan lelaki itu mengedar, mencari kendaraan miliknya yang terletak di antara ratusan motor karyawan lain.


Sebuah helm marcolino berwarna hitam legam memudahkan Reza untuk menemukannya. Ya, pria itu rela menjual mobilnya di dealer dan menukarnya dengan sepeda motor untuk bisa menyewa tempat tinggal dekat dengan rumah Sofia. Ia tidak ingin mengusik uang tabungan yang sudah dikumpulkan sejak lama, untuk anak dan istrinya.


Reza meraih helm itu dan membawanya kembali masuk ke ruang meeting. Nino jelas terkejut ketika ayahnya membuka pintu dengan kasar, sambil membawa pelindung kepala.


“Papa ngapain bawa helm?” tanya lelaki kecil itu dengan bingung.


Reza tampak mengatur napas demi bisa menjawab pertanyaan putranya. Namun terlebih dulu meletakkan helm itu di atas meja yang ada di sudut ruangan. Memutarnya sedikit untuk menemukan posisi yang tepat.


“Terlalu mencolok, Pa!” Nino bergerak mengambil pot bunga yang ada di meja besar itu, menatanya di samping helm agar tidak terlalu mencolok. Ia yakin tidak akan ada yang menyadari jika bunga hiasnya diambil.


Nino dan Reza sontak menjulurkan tangan dan saling menepuk satu sama lain. Berharap, mereka bisa segera menemukan kejanggalan yang terjadi.

__ADS_1


Tak berselang lama, Sofia masuk menenteng dokumen dan laptopnya, diikuti beberapa karyawan yang segera mendaratkan tubuh di kursi yang melingkari meja meeting tersebut. Dari posisi duduk yang tegap dan tidak banyak suara selain entakan kaki, menandakan bahwa mereka tengah mengalami masalah serius.


“Mas, tolong siapin air putih untuk kami,” pinta Sofia dengan nada sopan.


Reza yang sedari tadi tak berkedip menatap Sofia tentu gelagapan ketika dipanggil. “Ba—baik, Bu!” ujarnya segera keluar ruangan.


Widya sang pemilik perusahaan juga hadir dengan langkah tergesa. Raut wajahnya begitu masam dan memendarkan amarah. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya perusahaan miliknya mendapat klaim hak cipta. Bahkan diancam akan dibawa ke jalur hukum.


Tidak hati-hati, kaki jenjang wanita cantik itu terselip hingga hampir saja terjungkal, jika saja Reza tidak refleks menangkapnya. Karena keduanya tepat saling berpapasan.


“Aaarggh!” teriak Widya, yang sontak mengundang atensi seluruh peserta meeting. Tak terkecuali, Sofia. Mata indahnya mendelik saat melihat posisi yang sangat intim di antara Reza dan Widya di ambang pintu.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2