
Semalaman tidak tidur membuat kedua mata Reza memerah. Bahkan harus menahan kantuknya selama melalukan pekerjaannya. Jam kerja seluruh OB memang dilakukan sebelum jam kerja karyawan lainnya. Mungkin jika ia tidur sejenak, akan keblabasan.
Kebetulan Reza memang mendapat tanggung jawab di lantai 5, terdapat beberapa ruangan di lantai tersebut. Di antaranya, ruang kerja Sofia sebagai manajer pemasaran, tim divisi marketing, tim development dan ruang meeting.
Sebelum meninggalkan ruangan Sofia, Reza meletakkan bubur ayam lengkap dengan teh hangat. Tak lupa menuliskan sebuah pesan di atasnya, agar Sofia memakannya.
“Sarapan untuk bidadari tak bersayapnya Nino. Harus dimakan ya!”
Reza tersenyum setelahnya. Lalu meninggalkan ruangan setelah benar-benar bersih. Tepat pukul 07.30, para karyawan lain sudah mulai berdatangan. Saling berebut untuk absensi melalui sidik jari, karena terlambat satu detik saja akan dipotong gaji. Jam kerja, dimulai pukul 08.00.
Sofia yang baru datang, mengerutkan kening ketika melihat sesuatu yang asing di mejanya. Tangannya menyibak steroform untuk melihat isinya. Kemudian membaca surat yang tergeletak. “Siapa nih?”
“Ma, tolong telepon Papa. Takut terlambat,” ujar Nino menyadarkan lamunan Sofia.
“Ponsel kamu di mana?” tanya Sofia.
“Lupa, Ma!” sahut bocah itu tak berani menatap mata sang mama.
Belum sempat menekan tombol panggilan, suara ketukan pintu menginterupsi. “Masuk!” perintah Sofia.
Ketika pintu terbuka, tampak Mona, kepercayaan Sofia masuk dengan membawa beberapa dokumen yang diminta olehnya kemarin.
“Bu, dokumennya,” ucap Mona menyodorkan ke hadapan Sofia.
Nino menaikkan sebelah alisnya. Saat bertatapan dengan netra wanita itu, ia menajamkan tatapannya. Giginya pun terdengar bergemeletuk. Tatapan intimidasi itu membuat Mona menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
“Oh ya, aku cek dulu. Makasih, Mon,” tutur Sofia mulai membuka dokumen tersebut.
“Permisi, Bu.”
Mona segera melenggang pergi setelah dibalas sebuah anggukan oleh Sofia. Tiba di depan pintu, ia terperanjat kaget karena hampir bertabrakan dengan Reza.
Mona berdecak kesal, namun seketika merapikan rambutnya dan tersenyum lembut tatkala tahu pria di depannya adalah Reza. OB limited edition yang terkenal seantero kantor dalam waktu cepat, karena ketampanannya.
“Tolong beri saya jalan!” gumam Reza penuh penekanan sembari mengepalkan tangan. Mata elangnya bahkan menatap penuh intimidasi. Mona bingung dibuatnya, pasalnya mereka belum pernah bermasalah sebelumnya.
Tak ingin berpikir panjang, Mona segera menyingkir, melenggang pergi sembari mengedikkan bahu. “OB aja sombong! Buta kali matanya nggak bisa lihat wanita cantik!” gerutu perempuan itu.
“Nino udah siap?” tanya Reza setelah sampai di ruangan.
“Naik motor nggak apa-apa ‘kan? Papa udah nggak punya mobil,” timpal Reza tersenyum lebar.
“Enggak apa-apa, Pa. Pasti seru!” sahut Nino berlari kecil meraih tangan Sofia lalu menciumnya. “Berangkat ya, Ma!” lanjutnya.
Sofia terdiam kala mendengar pernyataan Reza, ingin bertanya namun takut dikira perhatian. Akhirnya wanita itu hanya bungkam seolah tak peduli. “Hati-hati,” ucapnya lembut tanpa menoleh. Pandangannya masih fokus pada berkas di tangannya.
Padahal sebenarnya ia penasaran, kenapa Reza bisa resign dari perusahaan sebelumnya, kenapa tiba-tiba bekerja di sini dan hanya sebagai OB, terus terakhir kenapa mengatakan tidak mempunyai mobil. Rasa penasaran itu serasa berputar-putar di kepalanya.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Reza mengambil jaket terlebih dahulu di loker karyawan. Nino yang terus membuntutinya, mengundang banyak tanya beberapa karyawan yang mereka lalui.
__ADS_1
“Nino, ini helm kamu. Semalam Papa membelikannya!” ujar Reza memasangkan helm yang ukurannya sesuai dengan kepala Nino.
“Makasih, Pa!” seru Nino tertawa.
Reza harus izin kepala OB terlebih dahulu. Meski sedikit dipersulit, akan tetapi Reza menjual nama Sofia yang meminta tolong padanya, segera diiyakan.
Bukan motor sport layaknya anak muda pada umumnya. Hanya motor matic yang ukurannya cukup besar namun nyaman ketika ia gunakan.
“Pegangan ya, Nino! Kita ngebut!” ucap Reza setelah mereka duduk di atas jok motor.
Nino memeluk punggung ayahnya begitu erat, tas kecil berisi biolanya menggantung di salah satu bahunya. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai, karena memang jalan yang mereka lalui tidak macet.
“Pa! Hasilnya gimana?” tanya Nino mendongak kala Reza mencoba melepas helmnya.
“Ya, gelagat anehnya tertangkap dari kamera Papa. Sepertinya dia merekam meeting kemarin. Tangannya sibuk di bawah meja dengan ponselnya. Bukti itu belum cukup kuat. Kita harus membuntutinya agar tahu dengan siapa dia bekerja sama. Dan mungkin kecurigaanku benar,” papar Reza menjelaskan lalu menyodorkan ponsel Nino.
“Baiklah, nanti aku pulang jam 12, Pa. Kita ada waktu untuk misi selanjutnya!” seru Nino mengepalkan tangan.
“Oke, Boy! Semangat latihannya. Semoga lancar nanti rekamannya. Tapi maaf, Papa tinggal dulu enggak apa-apa ya. Siapa tahu bisa dapat bukti lain lagi,” ujar Reza.
“Iya, Pa. Hati-hati!” sahut Nino melambaikan tangan melepas kepergian sang papa sampai menghilang dari pandangannya.
Bersambung~
__ADS_1