
Sepasang manik Yani membelalak dengan lebar, mulutnya menganga, ia sampai tak berkedip menatap Sofia dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Sempat teringat dengan wanita inspiratif tahun ini, tetapi Yani menepisnya jauh-jauh. Ia yakin semua hanya kebetulan saja.
“Maaf, Ibu. Saya ke sini hanya mau menjemput anak saya. Permisi,” tutur Sofia dengan sopan, memanggil layaknya orang asing. Seuntai senyum dipaksa terbentuk di sudut bibirnya.
Suara lembut Sofia menarik kesadaran Yani yang masih tercengang dengan keadaan. Ia menoleh cepat ketika Sofia mulai melangkah perlahan sembari menggenggam lengan Nino.
“Sofia, tunggu!” sergah Reza berlari dan menghentikan langkah Sofia.
“Tolong beri aku kesempatan Sofia. Aku mohon maafkan aku.” Reza berlutut menangkup kedua bahu Nino dan menatapnya nanar. Feelingnya sedari awal memang tidaklah salah. Netranya yang berkaca-kaca itu, kini berhadapan dengan Nino. “Nino, ini papa,” gumam Reza dengan suara bergelombang.
Tidak ada jawaban apa pun. Dada Nino tampak mengembang dan mengempis dengan kasar. Tatapannya menyorot dengan kegeraman. Bahkan kini giginya bergemeletuk dengan kuat.
“Eh! Papa? Anak dari mana, Reza? Kamu yakin itu anak kamu?” serobot Yani mencebikkan bibirnya. Kedua lengannya dilipat di dada. Tatapan merendahkan dilayangkan pada menantunya itu.
“Kamu jangan mudah dibodohi Reza. Nggak lihat tuh di bawah sana ada laki yang nungguin Sofia. Jangan-jangan itu bapaknya. Terus ke sini mau minta nafkah ya? Halah, udah ketebak ya akal bulusmu itu!” Mulut Yani masih saja sama. Hobi melontarkan kalimat yang pedasnya setara dengan bon cabe.
Wanita paruh baya itu melangkah dengan pongah. “Dasar murahan. Masih berani menginjakkan kakimu di sini setelah bertahun-tahun pergi dari sini. Bawa selingkuhan kamu pula!” Lengan Yani sudah terayun, tapi dengan sigap lengan kecil Nino menepisnya.
“Jangan pernah sebut mamaku seperti itu, nenek tua! Mama adalah wanita paling baik di dunia!" teriak Nino dengan matanya yang memerah. Dia tidak ingin bersikap lebih kasar pada orang tua. Tapi perlakuan mereka membuat amarah Nino menanjak.
“Eh! Apa kamu bilang? Enggak sopan ya kamu!” seru Yani berkacak pinggang sembari melotot tajam pada Nino.
“Cukup, Ma!” pekik Reza beranjak berdiri. “Jaga ucapan Mama! Sofia bukan perempuan seperti itu!” Reza beralih pada wanita yang sedari tadi mengekori Yani. “Ngapain kamu masih ke sini juga? Pergi!” perintah Reza menunjuk keluar rumah. Lelah karena terus saja didesak agar dekat dengan wanita itu. Meski sudah berulang kali ia tolak.
__ADS_1
“Apa sih, Za? Otak kamu itu selalu dipenuhi Sofia. Begini 'kan jadinya. Semua terlihat benar di mata kamu!” cebik Yani memicingkan matanya.
Sofia mengulum senyum, ia sama sekali tidak tersinggung maupun sakit hati atas ucapan ibu mertuanya. Hatinya sudah terbungkus rapi hingga tak mudah dihancurkan. “Ibu, tenang saja. Pengajuan cerai sudah di acc pengadilan. Tinggal menunggu surat panggilan saja,” tanggap Sofia merengkuh bahu Nino.
“Ah ya, satu lagi. Tanpa meminta nafkah pun, saya masih bisa hidup di atas kaki saya sendiri. Saya masih mampu membiayai hidup anak saya. Sekalipun Nino adalah darah daging Mas Reza. Untuk membawanya ke sini saja, saya sangat keberatan. Permisi, Assalamu’alaikum,” lanjut Sofia masih tersenyum walau dadanya bergemuruh hebat.
Tama tidak ingin ikut campur, ia hanya menatap dari kejauhan. Takut jika nantinya justru membuat Sofia semakin buruk di mata mereka. Ia hanya bersiap di mobil sembari membuka pintu penumpang lebar-lebar.
“Sofia! Sofia, tunggu! Kita bisa bicarakan baik-baik, Sof. Tolong, jangan hiraukan ucapan mama. Dia hanya emosi saja. Tolong cabut gugatan cerai itu. Aku akan bicara sama mama. Aku mohon, Sofia. Nino, Nino mau ‘kan tinggal sama Papa?” cecar Reza panik mengejar Sofia. Ia menahan lengan kecil Nino yang hendak masuk ke mobil.
“Maaf, Om. Nino nggak mau membuat mama sedih dan menangis,” tolak Nini melepas tangan Reza dengan perlahan lalu segera menyusul ibunya yang sudah duduk di kursi penumpang.
Wanita yang sedari tadi bersama Yani, kini mendekat. “Tante, bukankah anak itu yang terkenal pintar bermain biola itu ya?”
“Iya, Tante. Dan wanita itu ‘kan yang sering wara wiri di majalah perempuan. Pernah masuk TV juga,” sambung wanita muda itu yang langsung menutup mulutnya. ‘Sialan! Kenapa aku beri tahu! Bisa-bisa nanti gagal menikah dengan Reza!’ umpatnya dalam hati.
“Reza! Sepertinya kamu harus tes DNA deh untuk memastikan!” cetus Yani yang hanya ditanggapi tatapan tajamnya.
Mobil yang ditumpangi oleh Sofia, perlahan meninggalkan kediamannya. Membuat Reza frustasi.
“Arrrgh! Tanpa tes DNA pun aku tahu itu anakku, Ma! Mama malah merusak semuanya!” teriak Reza melenggang lalu membanting pintu rumahnya.
...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...
__ADS_1
“Maafin Nino ya, Ma. Coba tadi nggak ikut ke rumah Om Reza. Pasti nenek tua itu nggak akan bentak-bentak Mama. Kalau bukan orang tua, udah aku banting dia!” ucap Nino memeluk sang mama.
Sofia pun refleks tertawa, ia lega karena Nino tidak menyudutkannya setelah tahu semua fakta.
“Nino nggak marah sama Mama?”
“Harus?” tanya Nino balik sembari mendongak. Sofia menggigit bibir bawahnya. Ia siap jika seandainya Nino marah karena telah memisahkannya dengan sang ayah.
“Mana bisa Nino marah dengan Mama? Nino tahu, Mama pasti nggak ingin aku tumbuh di lingkungan toxic. Mama udah sering bilang 'kan? Nino tahu, Mama pasti selalu ngelakuin yang terbaik untuk Nino,” ucap bocah itu membuat Sofia benar-benar terharu.
“Nino, gimana kalau Om Tama yang jadi ayah kamu?” serobot Tama yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
Bersambung~
sembari nunggu mampir di karya temen ya Besst!
Judul; Luka dalam Pernikahan
Napen: R. Angela
__ADS_1