
Tentu saja terkejut, Reza merengkuh pinggang Sofia. Memeluknya dengan mesra, hingga Widya tersadar dari lamunan dan segera mengalihkan pandangan.
“Duduklah, Sofia,” ucap Widya mencoba mengabaikan Reza.
Pria itu menarik kursi untuk diduduki sang istri, mengingat ia tidak dipersilahkan akhirnya hanya berdiri di belakang Sofia. Suasana hening sejenak, karena Widya kembali mengalihkan pandangan ke layar laptopnya. Jari jemarinya bergetar saat menekan keyboard-keyboard itu.
“Widya, sesuai ucapanku tempo lalu. Mau aku bersalah atau tidak, aku tetap mengundurkan diri.” Sofia membuka suara, senyum mulai disunggingkan dari bibirnya, namun manik matanya mulai berlapis cairan bening.
DEG!
Widya menoleh dengan cepat. Napasnya mulai memburu. Tubuhnya membatu dengan gerakan yang terhenti. “Sof,” panggil Widya dengan nada bergetar.
Sofia menjulurkan tangannya, meraih jemari Widya dan menggenggamnya. “Terima kasih banyak atas semua kepercayaanmu selama ini. Allah telah mengubah takdirku melalui uluran tanganmu. Aku bangga bisa menjadi bagian keluarga besar Widya Scincare. Semoga ke depannya, akan lebih maju, lebih sukses lagi dengan pimpinan yang kompeten dan tim yang solid. Maaf jika selama bergabung di sini, aku banyak salah ya, Wid,” papar Sofia menahan air matanya agar tidak jatuh.
Reza merasakan bahu istrinya menegang, seperti menahan sesuatu yang hampir meledak. Kedua ibu jarinya bergerak dengan teratur di pundak wanitanya.
Widya menggenggam balik tangan Sofia, derai air matanya membasahi kedua pipi yang terbalut make up tebalnya. “Sof, bisakah kalau kamu mencabut ucapanmu? Aku yang salah. Aku tidak percaya denganmu, bahkan membiarkanmu berjuang seorang diri. Bodohnya aku yang mudah menelan berita itu. Waktu itu aku ... aku hanya stress, tertekan, karena perlahan banyak kolega yang membatalkan kerja samanya. Sampai-sampai aku harus meluapkannya sama kamu.”
Wanita itu menangis terisak-isak, suaranya mulai serak. Bahkan kedua netranya sudah berubah merah. “Aku mohon maafin aku, Sof. Aku sudah menyiapkan paket liburan untukmu. Dan juga bonus tunjangan. Kembalilah, Sofia. Aku sangat membutuhkanmu. Maafin aku.” Kepalanya menunduk dalam, malu, menyesal dan takut kehilangan bergulat menjadi satu dalam benaknya.
“Terima kasih atas semua tawarannya. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya akan mengambil hakku saja, gaji terakhir mungkin. Aku yakin, masih banyak anak-anak lain yang lebih berbakat dari aku, Widya.”
Widya menggeleng kuat, menatap dengan derai air matanya. “Enggak, Sof. Berkat jasamu, perusahaan ini bahkan semakin dikenal masyarakat di semua kalangan. Semua ide-ide berlianmu, pimpinanmu pada anak-anak, enggak ada yang bisa seperti itu, Sof. Please, maafin kekhilafanku!”
“Maaf, Widya. Aku tetap harus resign. Apalagi, sekarang ibu mertuaku sedang sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya,” aku Sofia.
Kalimat itu sontak membuat Widya mendongak, raut wajah terkejut tak dapat ia sembunyikan. Pasalnya, ia tidak pernah mendengar desas desus apa pun mengenai sahabatnya itu. Dekat dengan lelaki pun setahunya hanyalah Tama.
__ADS_1
Kemudian pandangannya beralih pada Reza yang setia berdiri di belakang Sofia. Bahkan sedari tadi terus menenangkan wanita itu.
“Saya suaminya, ayah kandung Nino. Dan ini surat pengunduran diri saya.” Reza yang diperhatikan pun segera menyodorkan surat pengunduran dirinya.
Widya mengembuskan napas kasar, matanya terpejam. ‘Pantas saja. Tidak mungkin pria setampan itu mau jadi OB begitu saja. Apalagi, dia terlihat berwawasan!’ cebiknya dalam hati. Mengingat ia sempat jatuh dalam pesona OB barunya itu.
“Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Wid. Sekali lagi maafkan semua kesalahan dan kekuranganku,” ucap Sofia perlahan melepaskan genggaman tangan Widya. Menoleh pada sang suami yang mengangguk, lalu beranjak berdiri.
Sofia menatapnya cukup lama, ingin memeluk sahabatnya itu, tapi takut. Apalagi melihat Widya yang sama sekali tak menanggapi ucapan terakhirnya. “Assalamu’alaikum,” salam Sofia lalu melenggang pergi bersama Reza untuk membereskan ruangannya.
Pintu kembali tertutup rapat, setelah Sofia dan Reza menghilang dari ruangannya. Widya tersadar dari lamunan panjang, ia lalu menghempaskan seluruh berkas-berkas yang ada di mejanya hingga berhamburan ke lantai. Telepon, gelas, vas bunga turut melayang dan hancur berkeping-keping . Widya menjerit melampiaskan sesak di dadanya.
“Mas?” ucap Sofia menekan dadanya ketika mendengar keributan dari ruangan Widya.
“Sudah, biarkan saja. Sudah cukup kamu diinjak-injak. Bukannya membantu malah semakin mendesak dan memojokkanmu. Suatu saat nanti bisa saja terjadi hal yang lebih parah. Ayo! Kemasi barang-barangmu. Aku ambil karton.” Reza berlari mencari karton di gudang, lalu segera menyusul Sofia kembali ke ruangannya.
Meski berat, Sofia mulai membereskan semua barang-barangnya. Ia teringat dengan perjuangannya hingga di titik sekarang.
Memulai karir hanya sebagai staff marketing, kinerja yang sangat bagus hingga lama kelamaan mampu menduduki posisi manajer dan bahkan dipercaya untuk mengendalikan perusahaan tersebut.
Semua kilas balik itu membuat Sofia menangis tersedu. Ia terduduk sembari menutup wajahnya. Perjalanannya menjadi ibu sekaligus wanita karier yang tentu tidak mudah.
Reza diam, membiarkan sang istri meluapkan tangisannya. Lalu mengambil alih, meneliti satu persatu barang-barang Sofia dan memasukkannya ke dalam karton.
Hingga beberapa saat berlalu, “Sayang, ayo!” ajak Reza membawakannya.
“Hah? Sudah semua, Mas?” tanya Sofia bingung.
__ADS_1
“Cek lagi saja. Siapa tahu ada yang ketinggalan,” balas Reza meletakkan kembali di meja lalu menghampiri istrinya.
Pandangan Sofia mengeliling. Semua meja dan laci bersih dari barang pribadinya. Ia mengangguk lalu beranjak berdiri. Reza langsung memeluknya, mengusap punggung rapuh wanita itu dengan penuh kasih sayang.
“Sudah cukup kita semakin membuat kaya orang lain. Saatnya kita berjuang bersama,” bisik lelaki itu.
Sofia meregangkan pelukannya, menatap netra Reza dengan penuh tanya. Jemari Reza mulai menyeka air mata di pipi Sofia. “Kita mulai dari nol ya? Aku banyak tabungan dari hasil jual rumah dan gaji selama 8 tahun yang lalu. Cukuplah untuk membangun masa depan kita,” goda Reza mencubit hidung mancung Sofia.
“Kita fokus sama ibu dulu, Mas. Masalah itu gampanglah. Aku hanya teringat perjuanganku sampai di titik ini.” Sofia mengembuskan napas berat. “Enggak mudah, Mas,” sambungnya.
Reza mencium pipi Sofia, beralih pada kening, mata hingga bibir wanita itu. “Kamu memang sangat hebat! Bodohnya aku yang tidak melihatnya sejak awal kita menikah,” ucapnya mengusap pipi Sofia dengan lembut.
“Udah ah, jangan dibahas lagi!” Sofia mendorong dada Reza, hendak mengangkat barangnya namun segera diambil alih oleh sang suami. Senyum pun saling terlempar dari bibir keduanya.
Sofia segera membuka pintu, menatap sejenak ruangan itu. Banyak sekali suka duka yang telah ia lewati. Hingga kini berbalik dan melenggang keluar.
“Buk! Mau ke mana? Itu barang-barang siapa, Mas?” cetus Nadia yang duduk di paling depan saat Sofia masuk ruangan marketing.
“Semuanya, aku mau pamit. Terima kasih kalian bisa bekerja sama dengan baik menjadi tim yang solid selama ini. Aku minta maaf jika selama memimpin kalian banyak kesalahan. Semoga setelah ini, kalian semakin solid ya,” ucap Sofia menghentikan gerakan semua tim yang selalu berkutat bersamanya.
“Buk, jangan bercanda ya. Ini pasti prank ‘kan?” seloroh Aliya berlari ke depan. Karena tempat duduknya paling belakang.
“Enggak, aku serius! Mulai hari ini, aku mengundurkan diri. Tetap bekerja dengan baik, jujur dan disiplin ya.” Suara Sofia mulai berubah. Menatap satu persatu anak buahnya yang sudah seperti keluarga baginya.
“Bu!” seru mereka menangis histeris berlarian memeluk Sofia. "Jangan tinggalin kami!" jerit mereka bersahutan memeluk erat Sofia.
“Dasar wanita!” cibirnya sembari terkekeh. Namun, tanpa sadar air matanya ikut menetes pula melihat keakraban mereka. Ia teringat dengan teman-temannya, namun tidak sesolid ini. Bahkan cenderung abai ketika ia keluar. “Mungkin mereka seneng saingan berkurang. Haha!” desahnya mengucek mata yang mulai perih.
__ADS_1
Bersambung~