
Sofia mendadak panas melihatnya, ia membanting dokumen dengan kasar di meja. Wajah cantik yang biasanya selalu memendarkan senyuman, kini entah ke mana. Tergantikan dengan raut masam.
Mendengar dentuman dokumen yang bertumbukan dengan permukaan meja, Reza pun menoleh. Secara refleks, tangannya melepas pinggang Widya hingga terjatuh ke lantai.
“Aduh! Kurang ajar!” rintih Widya mendelik tajam pada Reza. Sedari tadi ia memang tenggelam dalam kekaguman. Ketampanan karyawan baru di perusahaannya, benar-benar mengalihkan dunia dalam sekejap.
“Maaf, Bu!” Reza mengangkat kedua tangannya lalu melenggang keluar.
Para karyawan menahan tawa, tapi tentu saja tidak berani bersuara. Mereka pura-pura saja tak melihat kejadian itu. Sakitnya mungkin tak seberapa, tapi malunya tidak akan terlupakan begitu saja.
“Tante tidak apa-apa?” tanya Nino mengulurkan tangan kecilnya.
Widya menggeleng pelan, ia melirik wajah polos Nino yang tersenyum tulus padanya. Anak sahabatnya yang selalu meneduhkan. “Ah, enggak apa-apa, Nino. Terima kasih tawarannya. Tapi kamu tidak akan kuat,” sahutnya beranjak berdiri, menepuk bahu anak lelaki itu lalu masuk meski langkahnya terseok. Ia segera bergabung dengan timnya, duduk di sebelah Sofia yang sedari tadi mencoba tak peduli akan huru hara yang terjadi.
Nino mengedikkan bahu, menarik kembali tangannya yang diabaikan. Ia menunggu kedatangan sang ayah, duduk di depan ruang meeting dengan bertopang dagu. Tampaknya bocah itu tengah berpikir keras.
Beberapa waktu berlalu, Reza kembali dengan sebuah trolly yang berisi beberapa botol air mineral. Nino yang melihatnya segera membukakan pintu. Ia berinisiatif membantu meletakkan minuman tersebut pada masing-masing karyawan.
__ADS_1
Ruangan tampak menegangkan. Widya terlihat marah besar, karena ini tentu sangat mencoreng nama baik perusahaan yang sudah berdiri sejak lama.
“Sofia! Tunjukkan desain dari developer tim kita. Bagaimana bisa sampai desainnya pun sama! Terus komposisinya sendiri sama persis. Bagaimana kamu menyeleksinya, Sofia. Ini untuk pertama kalinya aku kecewa sama kamu!” cecar Widya yang tentu menyudutkan Sofia, karena sebagai penanggung jawab produksi dan pemasaran.
“Maaf, Bu.” Hanya itu yang terucap. Ia tidak ingin memperpanjang masalah. Kedua tangannya sibuk memeriksa file hasil laporan pembuatan produk baru tersebut.
“Maaf? Kau tahu kerugian yang akan kita terima? Semua bahan sudah siap produksi, tim marketing sudah menyiapkan promosi besar-besaran dengan budget yang tidak sedikit pula. Ada apasih kamu? Kenapa kinerjamu menurun?” tambah Widya lagi.
Tanpa sadar Reza meremas botol minuman di tangannya, hingga suara remasnya mengalihkan atensi beberapa karyawan. Ia tidak terima ada yang memarahi wanitanya.
“Pa,” Nino menyenggol lengan papanya, menyadarkan lelaki itu.
Sofia mulai menyalakan proyektornya, ia yang sedikit panik dan tidak bisa tenang, membuatnya kesusahan mengarahkan proyeksi pada layar besar di belakangnya. Mau tidak mau, harus meminta bantuan Reza. Sudah berulang kali ia coba, namun tetap saja gagal karena pikirannya sedang kacau.
“Mas, bisa minta tolong?” ucap Sofia menoleh pada Reza.
Pria itu segera melangkah panjang. Ini yang ditunggu-tunggu. Ia merasa berharga karena dibutuhkan oleh Sofia. Senyum tipis di bibirnya disertai anggukan semangat, menandakan Reza siap sedia.
__ADS_1
Semua pandangan mengarah pada lelaki yang memiliki bulu-bulu halus memenuhi dagu. Tidak peduli seragam yang dikenakan, tetap saja terlihat rupawan di mata mereka. Berbeda dengan Sofia yang enggan menoleh.
“Sudah, coba dinyalakan,” ucap Reza lembut.
Sofia mengangguk, membuka sebuah presentasi. “Terima kasih,” ucapnya tanpa menoleh. “Tolong matikan lampunya,” titahnya.
Reza segera membungkuk dan berpamitan. Tak lupa kembali membawa trolly nya lagi dan memberi kode pada Nino agar keluar. Setelah lampu dipadamkam presentasi pun dimulai.
Sofia segera memberi penjelasan pada pemilik perusahaan maupun para peserta meeting. Ia meyakinkan bahwa produk yang mereka buat original hasil para tim hebat di bawah pimpinannya. Tidak tahu bagaimana ceritanya, kenapa bisa keduluan dengan kompetitor yang mendaftarkan hak cipta.
“Nino, kamu lihat nggak tadi?” tanya Reza ketika mereka sampai di pantry.
“Lihat, Pa. Itu Mbak Mona. Orang yang paling dipercaya mama!” balas Nino yang sepemikiran dengan ayahnya.
Mereka melihat salah satu karyawan tengah sibuk memainkan ponsel sendiri. Wajahnya pun lebih tegang dari yang lainnya. Jelas saja mengundang kecurigaan dua lelaki beda usia itu. Keduanya bak mata-mata yang sedang mengintai musuh.
__ADS_1
Bersambung~