
Malam berlalu seperti tenangnya jarum jam berputar mengitari angka-angka yang seharusnya ia lalui, bergerak beriringan bersama jarum menit dan detik yang menjadi teman kerja tanpa lelahnya, untuk apa? Untuk menunjukkan pada dunia bahwa waktu tak pernah berhenti.
Seperti kali ini, tak terasa waktunya sang surya kembali menghampiri menghangatkan permaisurinya bernama bumi. Siang hari adalah waktu segala umat untuk melakukan aktivitas, tak terkecuali dua orang yang sudah berkedip disebuah sofa, Tidak. Agnes bangun lebih dulu, Mata indahnya perlahan terbuka jelas dibawah kungkungan lengan sintal Keyno, Yes. Lelaki itu menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Agnes, sapuan nafas hangat terasa begitu teratur mengenai kulit Agnes. Lengannya melingkar ke dada Agnes memeluknya erat seakan tak ingin terlepas meski sedetik pun.
Agnes menggeser kepalanya, memberi jarak agar ia bisa memandang wajah teduh Keyno. Lelaki dengan alis tebal dan bulu mata lentik, kulit wajahnya begitu mulus, tidak ada jerawat disana. Ah, wajar saja wajah Keyno adalah aset perusahaan pemotretannya, tentu saja mereka akan merawat dan melindungi wajah tampan ini agar tetap tampil paripurna di depan kamera. Agnes tersenyum tipis, mengusap wajah itu dengan punggung tangannya, Tak disangka, wajah tampan yang disebut aset agency tempat Keyno bernaung adalah miliknya. Keyno sering berkata “Im Yours and you’re mine” berarti apa yang ada pada Keyno juga milik Agnes begitupun sebaliknya. Bukan kah Agnes lebih berhak atas wajah ini dari siapapun? Ah Agnes begitu kagum dan terpesona pada pahatan sempurna sang pencipta dalam bentuk nyata dihadapannya.
“Kau sudah bangun?” Pemilik wajah itu perlahan membuka matanya, menatap Agnes dengan tatapan teduh, tangannya terulur menangkup tangan Agnes di wajahnya dan Agnes tak berekspresi, tapi matanya tak beralih dari tatapan yang saling beradu.
“Apa aku begitu mempesona?” tanyanya Keyno lagi penuh percaya diri.
“Tidak” Agnes menarik tangannya dari genggaman lelaki itu, membelokkan pandangan dan berangsur bangkit dari posisi tidurnya. Tidur di sofa yang tak seberapa besar bersama Keyno membuatnya tak leluasa bergerak hingga badannya sedikit pegal dibagian leher dan bahu, hmm keliatan memang romantis bukan? Tapi seperti ini hanya membuat tubuh dipenuhi rasa sakit.
Keyno tertawa, wajah datar Agnes terlihat menggemaskan “Kau bohong!”katanya.
“Bangunlah! Bukankah kau harus bekerja?”
“Hari ini temani aku!” Keyno meminta, turut mendudukkan diri dan mendekap Agnes kembali hingga pemilik tubuh tertahan saat ia hendak berdiri.
“Kemana?”
“Ke studio, setelahnya akan ku antar kau belanja” Rayu Keyno. Wanita itu menyeringai, lelakinya begitu pandai memainkan hatinya. Bahkan menawarkan hal yang tak mungkin Agnes tolak.
“Apa ini juga yang kau lakukan pada wanita-wanita itu?” tanya Agnes dengan begitu lancangnya, lalu menatap wajah Keyno yang bertengger dibahunya.
“Tidak! Mereka yang meminta belanja!”
Agnes berdecih, lalu melepaskan pelukan dengan paksa “Apa bedanya?”
__ADS_1
“Untukmu ku lakukan dengan sukarela dan segenap hati”
Agnes tak menjawab ia berdiri dan melangkah ke dapur, namun kakinya tertegun saat melihat kotak persegi dengan balutan pita diatasnya, cantik. Agnes menoleh pada Keyno yang tampaknya sudah paham mengapa Agnes menghentikan langkahnya.
“Tunggu apalagi, buka lah!” Keyno mengedipkan matanya.
Tak banyak bicara Agnes membuka benda yang lebih tepat dikatakan kado itu, tak banyak yang ia pikirkan, hanya penasaran apa isinya.
“Kau suka?” Tanya Keyno mendekat.
Sebuah kalung dengan liontin batu berlian putih bersih, terlihat sederhana namun sangat cantik, jujur Agnes menyukai desainnya, bahannya dan bentuknya. Kali ini, ia menyukai selera perhiasan Keyno. Bibirnya tersenyum tipis “Untukku?” tanyanya.
“Lalu, siapa lagi?”
“Kau meragukan!”
“Aku tak ingin benda-benda seperti itu” Agnes berlalu tanpa memikirkan kata-katanya memancing kemarahan Keyno. Memang, Agnes tak pernah berharap ia mendapat harta benda, perhiasan, atau apapun dalam bentuk materi, karena ia bisa mencarinya tanpa perlu bantuan Keyno, dan benda-benda seperti ini selalu Keyno berikan pada wanita-wanitanya. ****!
“Apa kau baru saja menolak pemberianku? Keyno bertanya.
“Tidak! Aku hanya tak menerima benda-benda yang sama kau serahkan pada wanita lain”
“Kau cemburu!” Keyno menyimpulkan,
“Tidak sudi!”
“Aku tak pernah memberikan kalung pada mereka, dan jika ada akan ku hancurkan. Tak ada yang berhak menerima kalung hasil desainku sendiri selain Agnesku” Keyno mengambil dagu Agnes, menegakkannya memaksa siwanita menatapnya “Kau percaya padaku? Kau harus memakainya karena aku sudah mencurahkan jiwa raga mendesain dan memesannya. Satu-satunya!”
__ADS_1
Agnes menghela nafas, lalu menatap kembali kalung yang saat ini sedang diperlihatkan Keyno. Cantik. Dari tadi Agnes mengakui kalung itu cantik, tapi ia ragu untuk menerimanya karena teringat sifat Angkuh Keyno, Ia tak mau menerima benda yang sama dengan wanita lain. Sekali lagi, Agnes memperhatikan kalung itu, benar disisi kiri dan kanan liontinnya ada tulisan kecil ‘Agnes dan ‘Keyno’
“Happy wedding Anniversary, sayang!” Keyno memeluk Agnes “Maaf, selalu membuatmu takut dan ragu!” ucapnya kemudian seraya menciumi puncak kepala Agnes.
Agnes mendongak menatap Keyno dengan tatapan tajam, Ia sedang memastikan bahwa Keyno tidak mabuk! Keyno, lelaki dengan beragam kepribadian ini bisa saja berubah marah dan memukulnya atau bersikap lembut dan memperlakukannya seperti tuan putri, dan saat ini kilatan mata hitam legam itu hanya memancarkan cinta yang begitu dalam, sepertinya Keyno benar-benar tulus memberikannya. Ah Agnes sendiri tahu Keyno akan melakukan apa saja untuk dirinya, mengapa ia ragu akan pemberian kalung ini, bukankah Keyno sudah berulang kali melakukan hal-hal yang jauh lebih besar dari ini? Berjalan menembus salju tanpa alas kaki setengah hari? Menembak dadanya sendiri agar Agnes percaya dia Cuma punya satu hati untuk mencintai Agnes? Apa lagi? Hanya Keyno, lelaki yang mencintai Agnes dengan gilanya.
“Hmm?” Keyno mendekatkan wajahnya, aroma maskulin lembut benar-benar bisa Agnes hirup saat dahi itu menempel pada dahinya “Masih tak percaya padaku?” tanya Keyno, Ah sungguh pria ini benar-benar membuat Agnes gila.
“A..Aku akan mandi” Agnes berdalih “Aku akan memakainya nanti” Ucapnya.
“Kau tak ingin mengucapkan apapun padaku?” tanya Keyno masih menahan tubuh Agnes agar tidak segera pergi.
“Tidak!” Agnes menjawab singkat.
“Minta lah apa pun! Aku akan mengabulkan untukmu!”
“Termasuk apapun?” Agnes mempertegas pernyataan Keyno, dan Keyno tampak menyadari arti ucapan Agnes “Terkecuali Anak” ucapnya sedikit berat mengatakan pengecualian itu.
“Dan aku takkan meminta apapun, kecuali itu!” Agnes berlalu.
Keyno menatap punggung Agnes dengan sayu, menatap rambut panjang itu bergerak mengikuti langkah kaki belahan jiwanya, air mata meleleh tanpa permisi di sudut mata Keyno, bahkan dadanya terasa sesak mendengar permintaan Agnes yang tak pernah berakhir meskipun ia sudah berulang kali mengatakan tidak.
...------...
...Bagaimana lagi aku menunjukkan bahwa kamu lebih berharga dari apapun?...
...-Keyno Irawan
__ADS_1
...