Semestaku

Semestaku
Bawa Aku


__ADS_3

Hari berlalu tanpa terasa, hari ini tepat hari ke-13 dibulan Februari awal tahun. Dari lokasi toko bunga milik Agnes ia tampak sedang bersenda gurau bersama Naki dan Saron rekan kerja wanita lainnya, mereka sedang menyiapkan acara tahunan anak-anak muda untuk merayakan valentine yang diperingati setiap tanggal 14, besok hari, tentu saja akan banyak pesanan bunga yang datang nantinya.


"Nes, sepertinya beberapa bulan belakangan ini toko kita maju pesat" Ucap Naki "Lihatlah, sekarang banyak pesanan berdatangan" Lanjutnya memperhatikan pegawai lain yang sedang menurunkan rumpun dan tangkai bunga dari truk yang baru saja tiba dari perkebunannya.


"Aku berharap setiap hari begini"


"Hm, kebun yang kau beli tempo hari juga menghasilkan dengan maksimal" Naki memuji "Mengapa kau masih mau bekerja bersama kami? maksudku, kau punya puluhan toko di setiap kota, kenapa kau masih mau datang ke toko dan seolah menjadi karyawan rendahan melayani konsumen?"


Agnes tersenyum, binar matanya nampak bangga kala mendengarkan pertanyaan Naki padanya, jujur, Naki orang yang selalu memperhatikannya bahkan menanyakan hal-hal yang menurut Agnes sangat jeli "Kau tahu jawabanku, apa aku harus mengatakannya lagi?" Agnes menepuk pundak Naki.


Lelaki itu menjawab singkat, betul ia tahu kesukaan Agnes. Wanita itu takkan bisa tenang jika ia tak bekerja, apapun itu jika berhubungan dengan bunga tampaknya sudah menjadi kebiasaannya.


"Hm, kau bisa pake kertas craft berwarna pastel lembut jika ingin mengemasnya lebih menarik" Tegur Agnes pada salah seorang disana yang sedang mengerjakan pekerjaannya.


"Ah, mengapa aku tak berpikiran kesana!" Ucap Lola yang menjadi karyawan di toko tersebut.


"La, dalam aspek perbungaan, Semua komponen punya peran penting, Kelopak, daun, tangkai warna dan macam bunganya" Agnes menjelaskan "Bunga hyacinth memiliki bentuk yang unik juga warna yang indah, namun ada makna tersirat dalam keindahan bunga ini, yaitu perwakilan kata maaf, jika kamu berbuat salah dan kesalahan itu sangat fatal hingga orang tersebut tidak mau memaafkan. Kamu bisa memberikan setangakai bunga ini, tapi jika kamu benar-benar sungguh ingin maafnya, kamu bisa memberikan sebuket bunga hyacint" Agnes duduk disamping Lola dan membantu wanita muda itu menyusun bunga.


"Mengapa kau tahu sejauh itu?" tanyanya ingin tahu turut kagum akan apa yang ia dengar. Pertanyaan yang tak seharusnya ditanyakan pada seorang Agnes yang jelas-jelas memahami dunia yang digelutinya.


"Aku menyukainya" Agnes tersenyum penuh arti.


"Berarti semua hal yang kau suka, kau akan mengetahuinya?" Tanya Lola polos dan Agnes terdiam sejenak mendengar pertanyaan Lola. Pikirannya melayang jauh kepada Keyno nya, lelaki yang teramat sangat ia sukai, tapi kini lelaki itu sulit untuk di ketahui, sikapnya selalu berubah-ubah dan keegoisannya semakin menjadi-jadi. Apa Agnes masih menyukainya? tidak tahu, Agnes menggeleng perlahan sebagai jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan sendiri dalam hati.


Rasanya Agnes sangat marah saat melihat semua tingkah Keyno yang membuat darahnya mendidih, tapi saat dia menatap binar mata seperti rusa itu, ia terhipnotis, Keyno nya sangat mencintai dirinya, Ia bisa merasakan itu melalui tatapan lelakinya dan Agnes tahu itu tanpa perlu dikatakan.

__ADS_1


"Nes, kau kenapa?" Tanya Saron yang sedari tadi diam ikut menggoyangkan bahu Agnes karena atasannya itu tampak termenung.


"Hai, semua!" Keyno tiba-tiba muncul membawa beberapa plastik putih ditangannya, membuat semua mata diruangan itu tertuju padanya. Pria itu tanpa ragu menghampiri Agnes dan menciumnya, tak peduli ada banyak karyawan yang hadir disana, Keyno hanya terfokus pada Agnesnya yang menatapnya jengah.


"Ku bawakan makan siang untuk kalian semua. Bekerja butuh tenaga bukan?" Ucapnya meletakkan plastik tersebut di meja "Sisanya akan diantar kurir sebentar lagi" Lanjutnya.


"Ada hal apa kau kemari?" tanya Agnes dingin. Bukan tak suka, tapi terasa aneh di tengah jadwal padatnya Keyno hadir siang bolong begini tanpa mengatakan apapun sebelumnya.


"Kau tak suka aku datang sayang?" Tanyanya seraya tersenyum, mengelus pipi Agnes dan hendak menciumnya lagi.


"Key, aku sedang bekerja!" Agnes menghentikan aksi Keyno.


"Kami permisi" Naki meminta izin agar meninggalkan pasangan itu, Terus terang berada disana hanya akan membuat jiwa jomblonya meronta-ronta. Ia melangkah keluar diikuti Saron, Lola dan karyawan lain yang juga berada diruangan itu.


"Kenapa?" Tanyanya berpaling menghadap Agnes kembali.


"Kau tak dengar yang ku katakan, aku sedang bekerja!" ucap Agnes lembut tapi penuh penekanan, ia tahu Keyno akan memaksanya untuk ikut karena tangannya sudah di genggam erat oleh Keyno, sekarang malah semakin erat.


"Aku mengosongkan jadwalku siang ini" Ucap Keyno menatap Agnes tajam "Tidak adil rasanya jika hanya aku yang menunda pekerjaan" Ucapnya lagi.


Agnes menghela nafas, lelaki ini selalu memaksa, menganggap keinginannya bisa dipenuhi walau apapun penghalangnya. tak terkecuali ketidakmauan Agnes. Wanita itu mengibaskan tangannya agar terlepas dari genggaman pria muda yang tampak rapi lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan packing bunga sebelum Keyno mengejar dan menghentikannya.


"Kau mengabaikan ku sayang?" ucapnya tersenyum miring.


"Key, kau bisa tunggu aku hingga selesai. Tak perlu memaksaku seperti ini!"

__ADS_1


"Aku tidak mau!" Keyno menghadang langkah kaki Agnes hingga wanita itu benar-benar menghentikan langkah lebarnya "Kau harus ikut denganku!" Kekehnya sambil mengangkat tubuh Agnes seperti karung beras, meletakkan tubuh lemah itu dibahunya seolah wanita itu barang yang ringan. Tanpa memperdulikan teriakan Agnes ia terus melangkah menuju mobilnya melewati gerombolan karyawan dan rekan kerja Agnes yang tampak tak heran dengan pemandangan itu, sudah biasa bagi mereka jika Keyno tiba-tiba datang dan membawa Agnes pergi.


"Kalian lanjutkan! Agnes ku bawa pulang!" Ucap Keyno kepada semua orang.


"Turunkan aku!!" teriak Agnes yang dianggap angin lalu oleh Keyno, meskipun pundaknya terasa perih di pukul Agnes tapi tak menyurutkan niatnya membawa wanita itu pergi.


"Keyno!!!"


Teriakan Agnes terhenti saat Keyno memasukkan wanita itu ke kursi mobil, membenarkan posisi duduk Agnes dan memasangkan seatbelt sementara Agnes hanya menatapnya tak suka seraya mengumpat dan sesekali berkata "Sinting!" "Gila" "Kurang Ajar!"


Umpatan-umpatan itu bagaikan puisi indah di telinga Keyno, ia hanya tersenyum seraya memandang Agnes dengan gemas lalu mendaratkan ciuman di bibir wanita itu. "Jangan berkata kasar! atau mau ku lem menggunakan bibirku?" ucapnya santai menatap Agnes dengan sayang, lalu menutup pintu mobil dan berjalan mengitari mobil menuju ruang kemudi.


"Kau sialan!" Teriak Agnes masih ingin marah.


"Apa? kau sayang padaku?" Tanya Keyno tersenyum lebar pada Agnes, mempelesetkan kata-kata makian Agnes sesukanya "Sama, Aku lebih menyayangimu" Ucapnya lagi menjawab pertanyaan yang ia ajukan sendiri, seraya menyalakan mesin mobil dan mulai meninggalkan tempat itu.


Agnes menghela nafas kasar, Keyno benar-benar tak terbantahkan, jika ia melawan Keyno dipastikan lelaki itu akan benar-benar bersikap kasar padanya. Terserah, sekarang terserah lelaki itu akan membawa Agnes kemana. Ia pasrah mengikuti kemana benda besi beroda empat itu membawanya.


"Apa rencanamu membawaku kemari?" Tanya Agnes ciut, tatapannya gelisah dan khawatir. Sementara Keyno menatapnya tersenyum lalu mengelus rambut wanitanya.


"Sudah berapa lama kau tak minum obatmu?" tanyanya membuat Agnes menyadari sesuatu.


"Keyno!!!!!!!"


...-----...

__ADS_1


__ADS_2