
Arrgghhhhhh
Agnes mendengar suara parau seorang pria disertai suara derauan kaca, awal terjaga ia mengira seorang pencuri telah menyusup masuk ke rumahnya. Ia bangkit perlahan dan mengambil tongkat golf Keyno yang kebetulan disimpan di sudut kamarnya.
Wanita itu berjalan perlahan ke arah sumber suara yang telah berubah seperti sedang kesakitan, merintih, dan meratap. Ruang kerja. Agnes menuju ruang kerja Keyno pintunya tak tertutup sempurna membuatnya dapat mengintip sebelum ia benar-benar masuk.
"Keyno?" Lirihnya heran saat melihat pria muda itu beringsut dibawah kaki meja, lampu utama memang tidak menyala namun Agnes bisa melihat samar Keyno dibawah terpaan lampu meja. Kusut dan tak terarah.
Agnes berjalan perlahan mendekati Keyno. Khawatir bercampur bingung dan takut ia ragu mendekati Keyno, takut saja jika itu bukan lelakinya. Namun, mendengar rintihan Keyno, ia yakin tidak sedang bermimpi atau menghayal, Dia Keyno. Memang Keyno, Suaminya.
"Key!" Agnes berjongkok dihadapan Keyno, memenggangi wajah pria itu agar menatapnya. Mencari penyebab ia merintih bila saja mungkin Keyno terluka pisau atau sedang mengalami kecelakaan. Tak ada. Semuanya baik-baik saja, kecuali penampilan Keyno yang tampak berantakan, rambutnya yang biasa tertata rapi sekarang seperti akar liar yang menjalar tak terarah, kancing kemejanya terbuka dua biji, matanya merah dan tatapannya sayu. Keyno tak menangis, tapi jiwanya kosong. Lemah, ia berusaha menarik nafasnya. Agnes bisa memastikan saat ini adalah titik terlemah Keyno.
"Key!"
"Apa yang terjadi?"
"Key!!" Agnes memanggil pria itu untuk kesekian kalinya. Tak ada jawaban, matanya perlahan menutup dan tubuhnya terkulai lemas diatas pangkuan paha Agnes. Wanita itu memperhatikan sekitarnya, mencari keberadaan ponsel Keyno diatas meja untuk menghubungi rumah sakit terdekat.
...***...
"Aku sudah menjadi manager selama kariernya" Jawab Delvin seraya memandangi tubuh terbaring Keyno, lalu beralih menatap Agnes yang juga menatapnya "Aku sudah lama mengenalnya, sejak dia terjun diindustri ini" lanjutnya kemudian.
Agnes mengangguk mengiyakan ucapan Delvin. Tak diragukan lagi, pantas aja mereka sedekat itu hingga saling berkata kasar satu sama lain "Apa ada sesuatu yang tak ku tahu tentang Keyno?" tanya wanita itu lagi.
"Kau bicara apa?" Delvin tertawa "Ku rasa kau lebih mengenalnya daripada aku" lanjutnya seraya mengambil pisau dan sisa apel yang belum di kupas Agnes. "Keyno sangat mencintaimu, itu adalah hal terbesar dan terdalam yang ku tahu" ungkapnya, Agnes diam ia mempersilahkan Delvin menceritakan segala macam kelakuan Keyno selama mengenalnya.
"Tapi kenapa kau bertahan pada pria seperti dia?" Pertanyaan itu membuat Agnes menatap Delvin sesaat Delvin menyadari ucapannya sedikit lancang, lalu menarik kembali ucapannya "Ah, Iya kalian saling cinta, Lupakan!" ucapnya seraya tertawa kikuk.
"Kau bisa pulang dan istirahat! Aku akan berjaga disini" ucap Delvin tak ingin membuat Agnes kelelahan, sejak semalam dia dirumah sakit pastilah ia kurang istirahat. "Satu lagi, kau akan dijaga orang-orangnya Keyno. Berhati-hatilah!"
__ADS_1
"Mengapa dia selalu melakukan hal-hal berlebihan!" Lirih Agnes pelan "Aku akan datang siang! Kabari aku jika Keyno sadar" ucapnya berpamitan lalu pergi.
"Vin!"
Suara berat Keyno berkumandang saat Delvin menutup pintu atas kepergian Agnes. Ia sadar dan berusaha mendudukkan diri sebelum Delvin berlari ke arahnya dan membantu menyangga punggungnya dengan bantal "Agnes baru saja pergi" ucap Delvin.
"Aku sudah bangun dari tadi" jawab Keyno menunjuk gelas air putih, ia haus.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Delvin memberikan gelas itu pada Keyno dan membantu memeganginya agar tidak tumpah.
"Aku bisa sendiri" ucapnya lalu meneguk. perasaannya membaik, rasanya ia sudah kembali baik-baik saja.
"Kau tahu kenapa aku seperti ini?"
"Kecapekan?" Tebak Delvin.
"Jangan berkata seperti itu pada orang yang selalu membawa surat pengunduran diri" Jawab Delvin menunjukkan amplop putih dibalik blazernya, dan hal itu hanya disambut tawa oleh Keyno.
"Antar aku pulang! Aku merasa sudah jompo lama-lama berada disini" Keyno bangkit dari ranjang rumah sakit dan mencabut infusnya. Mengambil jaket yang tergantung lalu memakainya "Aku baik-baik saja" Ucapnya pada Delvin saat lelaki itu menatapnya dengan bingung.
...***...
Agnes membenahi ruangan kerja Keyno menyapu dan membersihkan lantai agar rapi seperti semula. Ia juga sudah berhasil menggabungkan kertas-kertas yang tercabik-cabik disekitaran lantai dan tempat sampah. Foto-foto tentang dirinya dan Keyno dimasa lalu. Anehnya Agnes merasa tak pernah melakukan semua kegiatan yang ada di foto itu, sekeras apapun mengingat ia tak bisa menemukan dimana dan kapan mereka melakukan foto itu. Hingga di foto lain, Agnes bisa menemukan sedikit ingatan dimana Keyno mengenakan baju putih saat dia mengejar, menjambak dan ntah Agnes hanya ingat Keyno memegang revolver. Lalu semuanya hilang, seperti lampu mati. Tak ada kejelasan. Ingatan yang tiba-tiba muncul akhir-akhir ini
"Apa sebenarnya?" gumam Agnes menghela nafas. Dia juga membuka catatan kecil kalender itu dimana momen-momen indah selalu Keyno catat disana, tapi sekeras apapun Agnes mengingat, ia tak menemukan apapun selain sakit kepala yang menderanya.
"Mengapa Keyno merobek semua ini?"
"Mengapa Keyno sakit seperti di Vila waktu itu?"
__ADS_1
"Mengapa aku tak ingat foto-foto ini?"
Banyak pertanyaan bersarang dikepala Agnes. Ia menyimpan dan merapikan benda-benda itu sebelum akhirnya Keyno tiba dirumah.
Namun sekali lagi, foto terakhir membuatnya tertegun. Bukankah mereka berfoto di toko bunga yang ingin Agnes kunjungi? Ya, tempat yang dilarang Keyno, tempat yang sudah dihancurkan Keyno.
Agnes menghela nafas, lalu menyimpan foto itu pada kantong bajunya. Ia keluar ruangan tepat saat mobil Delvin berhenti dihalaman rumahnya. Agnes mengintip dibalik jendela, Keyno! Lelaki itu berjalan santai dengan seragam rumah sakit membalut tubuhnya "Sudah sadar!" gumam Agnes berlari kelantai bawah menghampiri Keyno. Sementara Delvin dia langsung pergi setelah menurunkan Keyno.
"Key? Kau sudah baik-baik saja"
"Foto itu, kau sudah melihatnya?" Tanya Keyno dingin. Agnes sempat terkejut, namun segera dia mengiyakan pertanyaan Keyno.
"Itu foto sebelum kau kecelakaan. Apa ada yang kau ingat?" tanya Keyno lagi menyelidiki.
Agnes menggeleng. "Kenapa kau robek sebelum kau perlihatkan padaku?" tanya Agnes.
"Kau sudah melihatnya kan?" Tanya Keyno duduk diujung sofa. Sikapnya dingin, maka Agnes berhati-hati menanyakan hal ini pada lelaki itu. "Aku menyimpan foto itu tidak disitu, tapi kenapa tiba-tiba dilaci mejaku?"
"Kenapa kau sakit saat melihat foto itu?" Tanya Agnes kembali alih-alih menjawab pertanyaan Keyno.
"Nes!" Keyno menarik tangan Agnes agar duduk disampingnya "Apa kau merasa sakit?" tanya pria itu memeriksa Agnes.
Keyno mengambil dagu Agnes, mengarahkan wajah wanita itu agar menatapnya "Percaya padaku, aku hanya kelelahan. Maaf tiba-tiba kembali dan mengejutkanmu" Keyno memeluk Agnes dengan sayang.
"Aku tahu kau mencari sesuatu hingga menemukan foto itu, tak apa. Aku takkan marah" ucapnya dengan suara lembut diiringi suara kecupan tipis-tipis dipuncak kepala Agnes. "Maaf sudah membuatmu khawatir" pungkasnya.
Agnes menjarak tubuhnya. Menatap Keyno yang sudah sedari tadi menatapnya "Ada yang kau sembunyikan" Ucap Agnes penuh curiga.
...***...
__ADS_1