Semestaku

Semestaku
Apapun untuk mu


__ADS_3

"Aku tahu..." jawab Agnes "Aku lebih tahu Key.."


"Jangan lakukan ini, kau bisa?" Keyno meminta dengan intonasi memohon.


Agnes mendekatkan posisi duduknya, menggeser pinggulnya dan maju beberapa cm dengan bertumpu pada sebelah tangan kanan yang tak terluka. Kemudian tangan itu meraih pundak Keyno, tanpa ragu ia mencium tipis pipi lelaki itu.


"Aku mencintaimu Key"


"Aku lebih mencintaimu!"


Agnes tersenyum, lalu kembali mencium tipis-tipis pipi serta leher prianya sebelum akhirnya Agnes merapatkan diri hingga tak ada jarak antara mereka, ia membenamkan kepalanya pada dada bidang pria itu seolah membujuk agar Keyno tidak marah dengan tindakannya.


"Key.."


"Mmm?"


"Ayo lakukan denganku" bibir Agnes mengerucut, sangat menggemaskan saat melihat wanita sedang membujuk prianya seperti itu.


"Lihatlah tanganmu! Kau selalu keras kepala" Keyno menolak halus.


"Hmm.." Agnes bergumam "Katanya sayang padaku, Mengapa tak membalas pelukanku?" tanya Agnes dengan wajah sedikit mendongak serta mata berkedip dan tatapan nakal. Keyno menggeleng pelan, Agnes benar-benar membuatnya tak bisa marah lama-lama.


"Kau sudah membuatku panik" Keyno mengulurkan tangannya lalu mengusap pipi Agnes dan menepikan anak rambut disana "Kini, kau ingin menambah rasa khawatirku?" tanya Keyno.


"Hmm, aku bercanda" Agnes tertawa pelan, menepuk lembut bahu pria itu sebelum dia mengecup singkat bibir Keyno "Aku menyayangimu sampai mau mati rasanya" Ucap Agnes menahan rahang Keyno agar menatap dirinya.


Mau bagaimana lagi, Keyno membalas pelukan Agnes. Menggoyang-goyang tubuh Agnes seraya mengatakan omelan yang terdengar menggemaskan. Mengecup leher wanita itu hingga Agnes tertawa pecah bahkan menggeliat karena geli menggelitik tubuhnya.


"Keyno..."


"Ya..?"


Hening, tak ada jawaban yang keluar mulut Agnes.


"Kau perlu sesuatu?" Keyno kemudian bertanya


"Mmmm" Agnes mengangguk "Aku ingin mengadopsi kucing yang aku temukan di jalan tadi" pintanya.


"Hanya itu?" Keyno mengecup puncak kepala Agnes. "Katakan apa lagi, akan ku lakukan untukmu!" katanya lembut.


"Mengapa kau tak bertanya?" protes Agnes.

__ADS_1


"Apanya?"


"Aku ingin kau menanyakan mengapa aku begitu tertarik mengadopsi kucing itu" pinta Agnes bernada manja, jari jemarinya menggambar abstrak di lengan Keyno.


"Kenapa kau ingin mengadopsinya?" Keyno bertanya sesuai kemauan wanitanya. Mengusap lembut punggung Agnes lalu memperhatikan tangan kiri Agnes agar tak terusik olehnya.


"Dia lucu, tatapannya polos, dan warnanya putih dengan bulu tebal panjang" Agnes berucap "Mirip sepertimu" lanjutnya.


"Kau tahu aku seperti apa?" Keyno menghela nafas sejenak, lalu menjarak tubuhnya saat dirasa posisinya tidak nyaman, takut saja jika tangan kiri Agnes terhimpit disana. Keyno perlahan beringsut memperbaiki posisi duduknya agar bersandar pada kepala kasur dan Agnes berbaring berbantalkan pahanya. "Mengapa tak adopsi kucing dari homepet saja? yang sudah jelas asal usul dan kesehatannya" Keyno bertanya setelah mendapat posisi yang nyaman.


"Tak ada alasan, seperti aku mencintaimu, begitupun dengan kucing itu"


Keyno lagi-lagi menghela nafas mendengar bualan Agnes, tak banyak yang ia katakan ia mengangguk tanda menyetujui permintaan Agnes itu.


"Akan kau namai siapa?" tanyanya


"Keyno!"


"Mengapa menggunakan namaku?" protes pria itu "Kau tak kreatif" ejeknya seraya tersenyum miring.


"Aku maunya itu. Bolehkan?" tanya Agnes mengedipkan mata, mengusap rahang lelaki itu seakan merayunya.


"Anything for you" Keyno menyelimuti kaki Agnes yang terlihat tak nyaman dibawah sana, dingin, Agnes kedinginan.


Keyno kembali mengangguk, tangannya mengusap bahu dan lengan Agnes agar wanita itu semakin nyaman dengan posisinya saat ini.


Suasana kembali hening, hanya terdengar rinai hujan dan suara alam mengisi kesunyian malam. Sangat tenang, hingga mereka terhanyut pada pikiran masing-masing.


"Ness....!"


"Mmm?"


"Masih dingin?"


Agnes mengangguk dan Keyno kembali merubah posisi duduknya, mengangkat kepala Agnes perlahan lalu mengambil bantal sebagai ganti pahanya, tak lama kemudian dia berbaring disamping kanan Agnes, menyelimutinya dan memeluk wanitanya hingga Agnes benar-benar merasa hangat.


"Hmm, kenapa kau terlihat manis" puji Agnes.


"Diamlah dan tidur!" tegas Keyno mengusap punggung Agnes, hingga yang punya sedikit menggeliat.


"Sukaa" Ucap Agnes terkekeh.

__ADS_1


"Jangan lakukan hal gila lagi, Kau bebas melakukan apapun, tapi jangan menyakiti dirimu sendiri" Pinta Keyno.


Agnes tak menanggapi, ia malah mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan kalau ia rindu sebuah toko bunga yang selalu ia datangi sewaktu dulu. Jauh sebelum ia memiliki toko bunga sendiri.


"Kau ingat Key? tempat kita bertemu" ucapnya antusias.


Keyno terperanjat. Ia ingat jelas tempat itu, tempat seorang wanita menjual berbagai macam jenis bunga dan segala kenangan yang pernah terjadi disana, kenangan terkutuk yang seharusnya sudah ia lupakan.


"Bagaimana jika kita ke sana besok?" ajak Agnes, mendongak mencari wajah Keyno meminta jawaban setuju dari prianya. Sementara Keyno memandang ke sembarang arah seraya menelan salivanya gugup.


Permintaan itu cukup berat apalagi saat melihat wajah Agnes yang berbinar, pelukan Keyno perlahan mengendur seakan Agnes baru saja berbuat sebuah kesalahan.


"Kenapa?" tanya Agnes mengernyit "Kau mau kan?" desaknya.


"Nesss, apa kau sedang memancingku?" tanya Keyno tak kalah mendesak. "Aku tak suka tempat itu!" suaranya mulai meninggi.


"Apa yang membuatmu tak suka?" lagi-lagi Agnes bertanya dengan bingung "Itu tempat kita bertemu, apa kau tak ingat kenangannya? saat kau memberiku setang-----"


"CUKUP NESSS!"


Keyno memekik seraya menutup kedua telinganya, wajahnya berubah merah serta matanya melotot seakan terserang syndrom ketakutan tanpa ampun.


"Key...?" Agnes memanggil Keyno dengan tatapan khawatir.


"Aku akan menurutimu, tapi tidak ke tempat itu!" Keyno mendesis, kalimatnya penuh penekanan dengan amarah yang sedang ia tahan.


"Kenapa?" Agnes masih terus bertanya, mengabaikan perubahan ekspresi Keyno karena rasa aneh dan penasarannya yang tinggi.


"Kau... Kau... Arrghhhhh!!!" pria itu memegangi kepalanya.


Tak lama kemudian, ia bangkit dan membanting lampu tidur yang tergelatak tak bersalah di ujung sana. Matanya merah dengan airmata menggenang, nafasnya tersengal susah sekali menarik dan menghembuskan nafas, bahkan dia kesulitan membuka mulutnya.


"Keyno, kau kenapa?" Agnes bertanya dengan nada di liputi rasa ketakutan dan kekhawatiran bersamaan yang sulit ia bendung.


"Jangan mendekat, ku mohon!" pinta Keyno terduduk di sudut ruangan, posisinya sangat memilukan dengan kedua tangan besarnya memeluk lutut, ia menangis meskipun tak ada suara yang di dengar Agnes.


Agnes tertahan saat ia hendak melangkah mendekati Keyno. Pikirannya yang buntu belum bisa mencerna secara gamlang apa yang terjadi pada lelakinya, ia hanya terpaku seraya memutar kembali beberapa kalimat yang sebelumnya ia ucapkan.


"Ku bilang, jangan mendekat!!" Keyno kembali berteriak lirih.


"Key..."

__ADS_1


...----...


see u next episode


__ADS_2